
bongkah.id — Sepeda motor masih menjadi kendaraan paling dekat dengan aktivitas sehari-hari warga. Namun di balik kemudahan mobilitas itu, ada ancaman yang terus menghantui yaitu, pencurian kendaraan bermotor (curanmor).
Gambaran tersebut terlihat dari laporan kehilangan yang diterima Radio Suara Surabaya sepanjang Rabu (7/10/2026). Dalam sehari, tercatat 11 sepeda motor dilaporkan hilang di kawasan Surabaya Raya.
Dari jumlah tersebut, enam motor hilang di Sidoarjo, tiga di Surabaya, dan dua lainnya di Gresik. Lokasinya beragam, mulai dari halaman rumah, tempat kos, minimarket hingga kafe.
Salah satu korban kehilangan adalah pemilik Honda Vario 125 warna hitam bernopol L 2824 TB. Motor tersebut dilaporkan hilang dari rumah di kawasan Karangpilang, Surabaya, sekitar pukul 07.29 WIB. Kasus itu kemudian dilaporkan ke Polsek Karangpilang.
Di Kedung Baruk, Surabaya, Honda Beat Sporty tahun 2024 bernopol L 3844 ACG juga raib. Motor tersebut hilang pada Selasa (6/10/2026) sekitar pukul 10.00 WIB dan telah dilaporkan ke Polsek Wonokromo.
Kasus lain terjadi di Dukuh Kupang. Honda Genio tahun 2024 bernopol AE 4476 JBG dilaporkan hilang dari sebuah kafe pada Sabtu (3/10/2026).
Sementara di Sidoarjo, kehilangan terjadi dengan pola yang lebih mengkhawatirkan. Di Ngemplak Cemengkalang, tiga sepeda motor sekaligus dibawa pelaku dari halaman rumah sekitar pukul 02.00 WIB. Ketiganya adalah Honda Beat bernopol S 6771 NBM, Vario S 2875 MZ, dan Scoopy W 6369 OB.
Ratusan Kasus Curanmor
Fenomena ini bukan persoalan baru. Berdasarkan data Polrestabes Surabaya, sekitar 600 laporan curanmor tercatat sepanjang 2025. Polisi juga mengungkap sejumlah besar kasus dan memproses ratusan tersangka, termasuk 472 tersangka dalam pengungkapan kasus curanmor.
Memasuki 2026, angka kehilangan masih menjadi perhatian. Pada Januari saja tercatat 113 kasus kehilangan sepeda motor di wilayah Surabaya Raya.
Polisi juga pernah menggelar Bazar Ranmor pada Januari 2026 dengan memamerkan lebih dari 1.000 unit sepeda motor barang bukti hasil pengungkapan.
Kendaraan tersebut ditujukan untuk dikembalikan kepada pemilik yang dapat membuktikan kepemilikannya.
Sebelas laporan dalam sehari pada 7 Oktober menjadi pengingat bahwa bagi warga, motor bukan sekadar benda bernilai ekonomi.
Bagi banyak keluarga, motor adalah kendaraan untuk bekerja, mengantar anak sekolah, berdagang, hingga mencari nafkah.
Ketika kendaraan itu hilang dalam hitungan menit, yang ikut terputus bukan hanya rantai mobilitas, tetapi juga aktivitas ekonomi sebuah keluarga.
Karena itu, kewaspadaan terhadap curanmor tidak cukup berhenti pada kunci kontak. Keamanan parkir, kunci tambahan, pengawasan lingkungan, dan respons cepat ketika kendaraan hilang menjadi bagian penting untuk mempersempit ruang gerak pelaku.





























