Kemacetan panjang menuju Pelabuhan Gilimanuk, Minggu 15 Maret 2026 mencapai 30 km.

bongkah.id – Ada paradoks baru setelah Tol Probowangi mulai menembus Paiton. Jalan semakin cepat, tetapi kendaraan pada akhirnya tetap bertemu satu titik yang tidak bisa dilalui melalui jalan darat: Selat Bali.

Titik itu adalah Pelabuhan Ketapang.

ads

Pemerintah dan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) sebenarnya sudah membaca persoalan tersebut. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi pada Juli 2026 menyebut kepadatan Ketapang-Gilimanuk kini tidak hanya terjadi pada musim libur.

Karena itu, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah, mulai optimalisasi dermaga, kapal berukuran lebih besar hingga penguatan pelabuhan pendukung.

Direktur Utama ASDP Heru Widodo mengatakan penguatan kapasitas harus dilakukan untuk mengantisipasi pertumbuhan mobilitas masyarakat dan logistik.

ASDP bahkan menyiapkan pembangunan bertahap tiga pasang movable bridge di Dermaga 1, 2 dan 3 dengan target penyelesaian pada 2029.

Masalahnya, pertumbuhan kendaraan bisa datang lebih cepat daripada pembangunan infrastruktur.

Pada Maret 2026, antrean kendaraan di kawasan Gilimanuk bahkan sempat mencapai sekitar 36 kilometer. ASDP ketika itu mengerahkan puluhan kapal dan menerapkan pola Tiba-Bongkar-Berangkat untuk mempercepat rotasi.

Kini Tol Probowangi mulai membuka jalur lebih cepat menuju Banyuwangi.
Pertanyaannya bukan lagi apakah kendaraan bisa bergerak cepat dari Jawa Timur tetapi seberapa cepat Ketapang mampu meneruskan ke Bali?

Sebab jalan tol dan pelabuhan adalah satu rantai perjalanan. Jika satu mata rantai tertinggal, antrean tetap menjadi pemandangan yang berulang.

2

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini