Santri tunanetra mengikuti khataman Al-Qur’an Braille dalam Festival Tunanetra Mengaji (FTM) ke-6 bertajuk Hamparan Harapan di Pondok Sawah, Trawas, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (24/10/2026). Kegiatan ini menjadi upaya memperluas akses belajar Al-Qur’an bagi penyandang tunanetra.

bongkah.id – Minimnya kemampuan membaca Al-Qur’an Braille di kalangan penyandang tunanetra menjadi tantangan dalam pemerataan pendidikan keagamaan di Indonesia. Data Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) yang disampaikan penyelenggara menyebutkan, baru sekitar 5 persen tunanetra yang mampu membaca Al-Qur’an Braille.

Kondisi tersebut mendorong Kawan Netra melalui Gerakan Tunanetra Mengaji (GTM) untuk memperluas kesempatan belajar bagi penyandang tunanetra. Salah satu upayanya diwujudkan melalui Festival Tunanetra Mengaji (FTM) ke-6 bertajuk Hamparan Harapan di Pondok Sawah, Trawas, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (24/10/2026).

ads

Festival yang menghadirkan khataman Al-Qur’an Braille itu bukan sekadar pertemuan para santri. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa penyandang tunanetra memiliki kesempatan yang sama dalam mempelajari dan mendalami Al-Qur’an, selama didukung fasilitas serta metode pembelajaran yang sesuai.

Persoalan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan mushaf Braille. Minimnya pengajar yang menguasai metode pembelajaran bagi tunanetra dan terbatasnya ruang belajar inklusif juga menjadi hambatan yang perlu mendapat perhatian.

Ketua penyelenggara FTM, Muhamad Radix Ardiansyah, mengatakan proses belajar membaca Braille membutuhkan waktu panjang. Bahkan, tunanetra perlu menguasai huruf Latin terlebih dahulu sebelum mempelajari sistem tulisan tersebut.

“Membaca Braille membutuhkan proses panjang yang bahkan menuntut tunanetra menguasai huruf Latin terlebih dahulu. Harapan kami, langkah kecil ini mampu menginspirasi banyak pihak untuk berkolaborasi, mendirikan ruang-ruang belajar serupa, demi menuntaskan buta huruf Al-Qur’an Braille di Indonesia,” ujar Radix.

Gerakan Tunanetra Mengaji telah dirintis Kawan Netra sejak 2021. Dalam perkembangannya, kegiatan ini melibatkan peserta dari berbagai daerah, mulai dari Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Madura, Malang, Lumajang, Banyuwangi, Lombok, Agam di Sumatera Barat, hingga Makassar.

Rangkaian FTM ke-6 juga mencakup pelatihan manajemen dakwah pada 21–23 Oktober 2026 di JITC Disperindag Jawa Timur, Surabaya. Pada acara puncak, peserta mengikuti khataman Al-Qur’an Braille, permainan interaktif, serta pemberian penghargaan kepada santri dan pengajar terbaik.

Sebelumnya, FTM ke-4 menggelar penulisan manual 1.000 Al-Fatihah dalam Braille yang, menurut penyelenggara, memperoleh rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).

Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi Al-Qur’an bagi tunanetra. Namun, keberlanjutan gerakan ini membutuhkan keterlibatan lebih banyak pihak, terutama untuk memperbanyak pengajar dan membuka ruang belajar yang dapat diakses penyandang disabilitas netra.

Melalui Hamparan Harapan, Kawan Netra mengajak masyarakat melihat bahwa akses mengaji bukan hanya persoalan tersedianya kitab suci, melainkan juga kesempatan untuk mempelajarinya. Semakin luas ruang belajar yang tersedia, semakin besar pula peluang tunanetra membaca Al-Qur’an secara mandiri.

2

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini