
bongkah.id – Sebanyak 5.734 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Surabaya tercatat bergabung dalam platform digital Pemberdayaan dan Ketahanan Ekonomi Nang Suroboyo (PEKEN) dengan omzet mencapai Rp216 miliar hingga akhir 2025. Program perluasan akses pasar dan pembiayaan tersebut mengantarkan Pemkot Surabaya meraih penghargaan TPAKD Award 2026 dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Penghargaan kategori terbaik tingkat kota wilayah Jawa-Bali itu diterima Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dari Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Kota Surabaya, Vykka Anggradevi Kusuma, mengatakan penghargaan tersebut diberikan atas pelaksanaan tujuh program unggulan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) sepanjang 2025.
Program itu mencakup perluasan akses pembiayaan UMKM, perlindungan pekerja, edukasi investasi, penguatan data, hingga digitalisasi transaksi keuangan.
Salah satu program yang menyasar pelaku usaha adalah PUSPITA melalui PT BPR Surya Artha Utama. Program Kredit Melawan Rentenir tersebut telah menjangkau 2.138 debitur. Pemkot juga menyediakan skema pinjaman berbunga 3 persen per tahun melalui PUSPITA dan 5 persen per tahun melalui Si-Kumis.
“Tim ini bertugas memberikan literasi dan inklusi keuangan kepada warga Surabaya,” kata Vykka, Jumat (23/10/2026).
Di sektor perlindungan pekerja, program BPJS Ketenagakerjaan tercatat mencakup 99.724 peserta, termasuk pekerja, pengemudi ojek online, dan warga yang menjalankan tugas pelayanan masyarakat.
Pemkot Surabaya juga menghadirkan Galeri Investasi Pasar Modal di Mal Pelayanan Publik Siola untuk memberikan edukasi sekaligus akses terhadap investasi legal.
Sementara itu, digitalisasi pembayaran melalui Kartu Identitas Anak (KATEPAY) dan Simpanan Pelajar (Simpel) mencatat nilai transaksi atau simpanan sekitar Rp158 miliar.
Program lainnya adalah Satu Data Surabaya untuk mendukung pengambilan kebijakan dan penyaluran bantuan sosial, serta PASTI LAKU yang menyediakan pendampingan dan edukasi akses keuangan bagi masyarakat maupun pelaku usaha.
Menurut Vykka, pelaksanaan program-program tersebut sejalan dengan capaian pembangunan Surabaya pada 2025. Pertumbuhan ekonomi kota tercatat 5,87 persen, melampaui target 5,77 persen. Indeks pembangunan mencapai 85,65, sedangkan tingkat kemiskinan tercatat 3,56 persen, lebih rendah daripada target 3,9 persen.
Pada 2026, Pemkot Surabaya berencana melanjutkan program yang sudah berjalan sekaligus memperluas digitalisasi layanan. Rencana tersebut mencakup penguatan literasi keuangan melalui program SOMASI PINJOL, digitalisasi pembayaran parkir, pajak dan retribusi, serta pengembangan ekosistem digital di pasar tradisional dan sektor pariwisata.
Pemkot juga akan melanjutkan sinergi dengan OJK dan lembaga jasa keuangan untuk memperluas edukasi keuangan di sekolah, kalangan UMKM, dan kelompok perempuan. (sutejo)





























