PENGRAJIN Batik Diah Gardenia (tengah) bersama model yang mengenakan gaun pengantin seredan motif batik, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (6/8/2020)

bongkah.id – Gaun pengantin seredan yang diimpor dari Eropah dan Amerika selalu menyuguhkan nuansa warna putih atau putih tulang. Warna itu simbolik dari sosok pengantin wanita yang suci, bersih, dan virgin. Ironisnya tampilan elegance dari gaun pengantin yang dipengaruhi oleh budaya dua benuah itu, terasa kurang sempurna saat dipergunakan pengantin wanita asal Indonesia. Yang memiliki ragam budaya berbeda dengan budaya dari Eropa dan Amerika itu.

“Kurang sempurnanya kesan elegance gaun pengantin seredan saat dipergunakan pengantin wanita Indonesia itulah, yang menjadi motivasi kami untuk memadukan kain batik dengan gaun penganting seredan. Setelah mewujudkan inspirasi gaun pengantin batik seredan, ternyata hasilnya sangat mengejutkan. Kesan elegance gaun pengantin terlihat sempurna dan menguat,” kata perajin batik asal Surabaya Diah Gardenia di sela-sela peragaan busana Wedding Traditional di Lobi Hotel Royal Singosari Cendana Surabaya, Kamis (6/8/2020).

Dalam peragaan busana tersebut, seredan batik karya Diah dikenakan sejumlah model. Saat dipadu dengan gaun pengantin kebaya khas Jawa. Terlihat tampilan pemakainya demikian anggun dengan nuansa budaya Indonesia. Sementara gaun pengantin tradisional seredan berbahan batik karya Diah Gardenia, yang ditampilkan sejumlah model itu dirancang oleh perancang busana Eko Tjandra

“Saat ini kita semua tahu, bahwa gaun pengantin seredan saat dipadu dengan batik akan melahirkan kesan anggun yang kuat. Aura kecantikan pengantin wanita kian menguat,” ujarnya sembari tersenyum.

MODEL wanita mengenakan pelindung wajah melakukan peragaan busana pengantin tradisional bermotif batik.

Batik Seredan dari kata ‘Seret’, dalam bahasa Jawa yang berarti ditarik. Batik Seredan memiliki arti batiknya diseret. Ini karena batiknya panjang, jadi yang memakai seperti menarik batik tersebut. Dan, munculah istilah batik Seredan.

Batik seredan ini merupakan rok batik yang bisa dipasang pada gaun, baik gaun malam maupun gaun pernikahan. Dengan mencocokkan tone warna antara gaun dan batik seredan.

Sosok Diah sebagai pengrajin batik, ternyata juga memiliki latar belakang seorang pelukis. Dikatakan, awal mula pembuatan batik seredan adalah keinginannya untuk membuat sumbangsih karya batik bagi Indonesia. Batik seredan mulai dirancang tiga tahun lalu itu merupakan batik tulis. Teknik pewarnaan (nyolet) sedikit diimprovisasi dengan teknik lukis.

“Saya berpikir untuk melestarikan budaya batik, saya harus mengikuti tren yang ada dan saya lihat gaun panjang sedang trending. Jadi saya buat batik seredan ini,” kata wanita kelahiran Medan, 5 Mei 1968 ini.

Motif khas dari batik seredan karyanya, diakui, lebih suka dengan motif ukel-ukel yang ada dalam relief Majapahit dan motif yang berhubungan dengan alam.

“Motif ukel-ukel, bunga-bunga, hewan, sulur-sulur majapahit itu yang selalu saya tonjolkan dalam batik Seredan. Karena saya memang suka dengan hal-hal yang berbau alam,” ujar wanita asal Jawa Barat ini.

Sementara pemilihan warnanya, Diah lebih senang bermain dengan warna-warna kalem. Misalnya cream, pink soft, dan putih tulang. Namun, dia tak jarang bereksperimen dengan warna-warna kuat. Yang biasanya disiapkan untuk konsumen, dengan karakter penampilan khas dan kuat.

“Atau biasanya kalau pakai warna yang sedikit terang, saya redupkan warnanya sedikit agar terlihat tenang,” tambahnya.

Ukuran panjang batik seredan, ungkap Diah, minimal 3 x 4 meter. “Kalau memang mau lebih panjang lagi bisa, tapi ukuran minimalnya 3x 4 meter,” katanya.

Batik seredan sendiri, menggunakan bahan katun silk. Bahan ini yang pas untuk kebutuhan batik Seredan. Ini karena batik seredan disiapkan untuk gaun malam atau gaun pernikahan. Jadi harus berkilau. Katun silk mempunyai kebutuhan itu dia berkilau dan jatuhnya pas untuk sebuah gaun.

Ia berharap, dengan batik Seredan bisa menjadi alternatif busana pengantin Indonesia yang lebih dinamis, modern, serta tetap berbudaya. “Karena batik ini bisa dipadukan dengan songket, brukat, dan lain-lain. Jadi tidak monoton hanya batik saja,” katanya.

Karena itu, Diah mengajak para perajin batin untuk melahirkan karya batik yang pas untuk gaun pengantin seredan. Sehingga saat dipakai untuk acara wedding dan foto pre-wedding para pengantin di Indonesia, akan memproyeksikan kekuatan budaya Indonesia. Selain itu, strategi untuk membuat budaya batik, tidak lagi diklaim oleh negara-negara lain sebagaimana yang telah dilakukan Malaysia dan RRT (Negara China).

Sebagaimana dikeahui, gaun pengantin seredan merupakan busana pengantin yang diadopsi dari budaya barat. Biasanya dikenakan mempelai wanita, dengan menonjolkan gaun di bagian belakang pinggang yang menjuntai panjang menyapu lantai. (ima)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here