Fotografer Bea Wiharta mengungkap kekuatan fotografi bencana dalam menangkap kisah manusia, kehilangan, dan harapan di balik tragedi.

bongkah.id – Sebuah foto bencana bisa berhenti sebagai rekaman tragedi. Namun, di tangan fotografer yang melihat manusia di balik peristiwa, sebuah gambar dapat berubah menjadi cerita tentang kehilangan, keteguhan, bahkan harapan.

Perspektif itulah yang dibawa fotografer profesional Bea Wiharta dalam diskusi “Fotografi sebagai Karya Seni Rupa Kontemporer” dalam rangkaian program publik Artsubs di Balai Budaya Surabaya, Minggu (4/10/2026).

ads

Bersama fotografer Mamuk Ismuntoro dan moderator Asmudjo Jono Irianto, Bea membicarakan bagaimana fotografi dokumenter dapat melampaui fungsi jurnalistik dan menjadi medium untuk membaca pengalaman manusia.

Bagi Bea, fotografi pada dasarnya merupakan bahasa visual. Sebuah foto memiliki subjek, predikat, objek, hingga keterangan yang memungkinkan gambar menyampaikan pesan tanpa bergantung pada bahasa tulisan.

“Fotografi itu bahasa. Ada subjek, predikat, objek, dan keterangan yang terkandung di dalam sebuah foto,” ujar fotografer kelahiran Jember, 1964, tersebut.

Pengalaman hampir dua dekade sebagai fotografer Reuters sejak 1999 mempertemukan Bea dengan berbagai peristiwa besar. Pengalaman tersebut kemudian dirangkum dalam buku foto sekaligus memoar jurnalistik Unbreakable, yang diluncurkan di ARTJOG.

Di dalamnya terdapat rekaman berbagai peristiwa, mulai dari demonstrasi Trisakti, kerusuhan Glodok, tsunami Aceh, gempa Nias hingga gempa Palu.

Namun, bagi Bea, nilai sebuah foto tidak hanya terletak pada seberapa besar peristiwa yang direkam. Yang jauh lebih penting adalah manusia yang berada di dalamnya.

Dalam fotografi bencana maupun konflik, pendekatan human interest membuat korban tidak sekadar hadir sebagai objek tragedi. Mereka tampil sebagai manusia dengan cerita, kehilangan, perjuangan, dan harapan.

Salah satu pengalaman yang terus diingat Bea terjadi ketika ia memotret anak-anak sekolah dasar yang harus melewati jembatan darurat yang sudah tidak layak.

Setiap hari, anak-anak itu mempertaruhkan keselamatan ketika menyeberang untuk pergi dan pulang sekolah. Momen tersebut kemudian diabadikan Bea pada 2012 dan dicetak dalam ukuran sangat besar hingga enam meter ketika dipamerkan di ARTJOG.

Menurut Bea, ukuran besar membuat penonton tidak sekadar melihat foto seperti melalui layar komputer atau telepon seluler.

Tetapi kisah foto tersebut ternyata belum berakhir.

Beberapa tahun kemudian, Bea kembali ke lokasi untuk mencari salah satu anak yang pernah ia potret. Ia menemukan rumahnya dan mendapati bahwa gadis kecil yang dahulu menyeberangi jembatan rapuh itu kini telah dewasa dan menikah.

Pertemuan tersebut tidak lagi berpusat pada kamera. Bea berbincang dengan perempuan itu dan keluarganya, menyampaikan terima kasih karena pernah memberinya kesempatan untuk merekam kehidupan mereka.

Pertemuan itu kemudian direkam dalam bentuk video.

Foto yang dibuat lebih dari satu dekade sebelumnya akhirnya membawa Bea kembali kepada manusia yang ada di dalamnya. Anak kecil dalam foto telah tumbuh dewasa, tetapi hubungan kemanusiaan yang tercipta melalui sebuah karya ternyata masih bertahan.

Pengalaman serupa terjadi ketika Bea mendokumentasikan kerusuhan Glodok di Jakarta. Di tengah situasi penuh ketakutan, ia merekam warga keturunan Tionghoa yang bersembunyi dan berusaha menyelamatkan diri.

Tetapi hubungan Bea dengan subjek fotonya tidak berhenti setelah rana kamera ditutup.

Ia berkenalan dengan sejumlah orang yang ditemuinya di lokasi. Hubungan tersebut berkembang menjadi kedekatan yang bertahan bertahun-tahun.

Ketika suatu hari Bea kembali menemui salah seorang korban, seorang perempuan tua berambut putih menyambutnya dengan gembira.

Perempuan itu justru memberikan jawaban yang membuat Bea tersentuh ketika mengetahui dirinya datang sebagai fotografer.

Ia tidak ingin difoto. Ia hanya mengajak Bea makan bersama.

Momen tersebut memperlihatkan sisi lain fotografi dokumenter. Ada saat ketika tugas fotografer bukan lagi membuat gambar baru, melainkan kembali menemui manusia yang pernah menjadi bagian dari cerita yang ia abadikan.

Di titik itu, fotografi menjadi lebih dari sekadar pekerjaan dokumentasi. Ia membangun ingatan dan hubungan yang dapat bertahan melampaui sebuah peristiwa.

Pengalaman tentang fotografi dokumenter juga disampaikan Mamuk Ismuntoro melalui proyek panjangnya mendokumentasikan bencana lumpur Lapindo. Karya tersebut kemudian diterbitkan dalam buku Tanah yang Hilang.

Bagi Mamuk, dokumentasi tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap perubahan lingkungan dan kehidupan masyarakat yang terdampak semburan lumpur panas.

Fotografi menjadi cara untuk menyimpan jejak perubahan sekaligus menghadirkan kembali persoalan lingkungan kepada publik.

Menariknya, karya dokumenter kini memiliki ruang yang semakin luas untuk dipresentasikan. Foto tidak lagi hanya hadir di halaman media massa, tetapi juga dapat memasuki ruang pamer dan dibaca melalui perspektif seni rupa kontemporer.

Perkembangan itu membuka kemungkinan baru bagi fotografer dokumenter untuk mempertemukan fakta, pengalaman, gagasan, dan tafsir artistik.

“Ini adalah angin segar dan mungkin pengingat bahwa karya kami bisa menembus batas antara jurnalistik dan seni rupa kontemporer,” kata Mamuk.

Pertemuan fotografi jurnalistik dan seni rupa tersebut membuat sebuah foto tidak lagi hanya menjawab pertanyaan apa yang terjadi. Lebih jauh, foto dapat mengajak publik bertanya tentang siapa yang mengalami, apa yang hilang, bagaimana mereka bertahan, dan apa yang tersisa setelah peristiwa berlalu.

Di sanalah fotografi bencana menemukan kekuatan terbesarnya: bukan hanya merekam kehancuran, tetapi menjaga cerita manusia agar tidak ikut hilang bersama waktu.

6

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini