bongkah.id — Sastrawan Jawa Widodo Basuki kembali menghadirkan karya terbaru bertajuk Kutut Golek Kurungan, sebuah kumpulan cerita pendek bergaya crita seprapat kaca yang mengusung kekuatan narasi ringkas namun penuh makna.
Istilah crita seprapat kaca sendiri telah lama dikenal dalam khazanah sastra Jawa.
Secara harfiah, istilah ini merujuk pada cerita yang hanya memakan seperempat halaman majalah atau sekitar satu halaman dalam format buku.
Genre ini mulai berkembang sejak era 1970-an dan kerap menghiasi media berbahasa Jawa seperti Majalah Jayabaya dan Panjebar Semangat.
Dalam konteks sastra modern, bentuk ini sejalan dengan konsep flash fiction atau fiksi mini yang menuntut kepadatan bahasa dan ketajaman imajinasi.
Seperti dijelaskan Ganjar Kurnia, fiksi mini adalah upaya “menyuling kata” untuk menghadirkan imajinasi luas dalam ruang yang terbatas.
Buku ini memuat 33 cerita pendek yang ditulis secara fragmentaris, mengedepankan gagasan singkat dengan alur yang tetap terjaga hingga menghadirkan kejutan di akhir cerita.
Tradisi ini memiliki jejak panjang dalam sastra dunia, bahkan telah dipraktikkan sejak era Ernest Hemingway, meski saat itu belum dikenal dengan istilah fiksi mini.
Selain itu, gaya bertutur dalam karya ini juga mengingatkan pada kisah-kisah jenaka sarat hikmah ala Abunawas, yang menggabungkan humor dengan pesan moral.
Secara harfiah, “Kutut Golek Kurungan” dapat diartikan sebagai “burung perkutut mencari sangkar”, sebuah metafora yang membuka ruang tafsir luas tentang pencarian, keterikatan, hingga makna kebebasan.
Widodo Basuki, yang lahir di Trenggalek pada 18 Juli 1967, dikenal sebagai sosok produktif dalam sastra Jawa modern.
Selain menjabat sebagai pemimpin redaksi Majalah Jayabaya, dia juga dijuluki “Raja Gurit” berkat kiprahnya dalam menulis geguritan dan prosa dengan tema sosial, budaya, hingga surealisme Jawa.
Alumni Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya ini telah melahirkan berbagai karya, di antaranya “Layang Saka Paran”, “Ajisaka Angejawa”, dan “Jaran Tunggangan”.
Widodo juga dikenal produktif menulis ratusan cerkak serta beberapa novelet berbahasa Jawa.
Melalui “Kutut Golek Kurungan”, Widodo kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu penjaga sekaligus inovator sastra Jawa, dengan menghadirkan bentuk sederhana yang justru menyimpan kedalaman makna. (kim)



























