World Dance Day 2026 di UNESA, Senin (27/4/2026)

bongkah.id – Perayaan World Dance Day 2026 di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) tahun ini melampaui sekadar seremoni.

Sejak pagi hingga larut malam, kampus itu berubah menjadi ruang hidup bagi tubuh-tubuh yang menari—mengalirkan energi, pengalaman, dan ingatan dalam satu tarikan napas panjang bertajuk “Estafet Tubuh Menari”.

ads

Digelar maraton pada Senin (27/4/2026) pukul 07.00 hingga 22.00 WIB, program yang diinisiasi UKM Tari UNESA ini menghadirkan lebih dari 20 penari dalam format solo berkelanjutan.

Tidak ada jeda yang benar-benar memisahkan satu penampil dengan lainnya. Gerak tubuh menjadi jembatan—menghubungkan satu kisah dengan kisah berikutnya, satu generasi dengan generasi lain.

Sejumlah nama besar turut ambil bagian, seperti Hari Ghulur, Batara Sawerigadi, I Nengah Mariasa, Dimas Bagus, hingga Sekar Alit.

Kehadiran mereka memperkaya spektrum pertunjukan—dari akar tradisi hingga eksplorasi kontemporer—sekaligus mencerminkan wajah tari yang terus bergerak dan bertransformasi.

Namun, denyut utama acara ini justru terletak pada kebersamaan. Lebih dari 35 sanggar dan komunitas tari dari berbagai daerah di Jawa Timur turut berpartisipasi.

Mereka datang tidak hanya untuk tampil, tetapi juga untuk bertemu, berdialog, dan merajut kembali jejaring yang selama ini terpisah oleh ruang dan waktu.

Sekar Alit, yang juga bertindak sebagai direktur artistik, menyebut konsep estafet dipilih untuk menegaskan kesinambungan dalam seni tari.

“Ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi proses pewarisan energi dan pengalaman antar tubuh penari secara langsung,” ujarnya di kampus Unesa.

Di tengah derasnya arus modernisasi, inisiatif ini menjadi semacam penanda bahwa tari bukan sekadar artefak budaya, melainkan praktik hidup yang terus tumbuh.

Melalui ruang seperti ini, Unesa menegaskan posisinya bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga simpul penting dalam pengembangan ekosistem seni pertunjukan di Jawa Timur.

Lebih dari itu, “Estafet Tubuh Menari” membuka kemungkinan baru: bahwa panggung tidak selalu tentang siapa yang tampil paling menonjol, melainkan bagaimana setiap gerak menjadi bagian dari narasi yang lebih besar—narasi tentang keberlanjutan, kebersamaan, dan identitas yang terus ditari ulang dari waktu ke waktu. (anto)

2

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini