
bongkah.id – Program Google Student Ambassador (GSA) dicipta oleh perusahaan teknologi multinasional Google LLC untuk mendorong lahirnya talenta digital yang adaptif, kolaboratif, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Inisiatif global dari Google ini dirancang untuk membentuk mahasiswa sebagai agen perubahan yang tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu menerjemahkannya menjadi solusi nyata bagi masyarakat.
Semangat itulah yang kini tercermin dari capaian Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (Filkom UB).
Sebanyak 18 mahasiswa lintas angkatan berhasil lolos seleksi GSA 2026, sebuah program bergengsi yang mempertemukan ribuan talenta digital dari seluruh Indonesia dalam ekosistem pembelajaran dan inovasi berbasis teknologi.
Pencapaian ini menjadi langkah strategis bagi Filkom UB dalam memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia di bidang teknologi.
Para mahasiswa yang terpilih tidak hanya akan mendapatkan akses terhadap pelatihan, workshop, dan sertifikasi dari Google, tetapi juga memegang peran sebagai jembatan antara perkembangan teknologi global dengan kebutuhan akademik di lingkungan kampus.
Menariknya, para duta yang terpilih berasal dari berbagai program studi dan lintas angkatan, mulai dari mahasiswa angkatan 2023 hingga angkatan 2025.
Keterlibatan mahasiswa baru dalam program ini menunjukkan bahwa daya saing dan kualitas input mahasiswa Universitas Brawijaya telah terbentuk sejak awal masa studi.
Salah satu peserta terpilih, Kadek Nandana Tyo Nayotama, mengungkapkan rasa syukurnya setelah berhasil melewati seleksi ketat.
Dari sekitar 81.000 pendaftar di seluruh Indonesia, hanya sekitar 2.000 peserta yang dinyatakan lolos, yang 18 diantaranya dari Filkom UB.
“Saya benar-benar bersyukur bisa bergabung dalam program ini. Kesempatan ini sangat berarti karena saya bisa belajar langsung melalui berbagai workshop, memperluas jaringan, serta mengembangkan diri melalui sertifikasi dari Google,” ujar Kadek dari angkatan 2023.
Ia juga menegaskan komitmennya untuk memberikan dampak nyata, khususnya dalam meningkatkan literasi teknologi di kalangan mahasiswa.
Hal serupa disampaikan Nadhif Rif’at Rasendriya yang menilai dukungan fakultas menjadi faktor penting dalam mendorong mahasiswa untuk berinovasi.
Bagi Nadhif yang juga angkatan 2023, teknologi terbaik adalah yang mampu menyelesaikan persoalan riil di masyarakat.
Melalui ekosistem GSA 2026, ia menyatakan kesiapan untuk mengembangkan solusi berbasis Artificial Intelligence (AI) yang lebih sederhana, aplikatif, dan mudah diakses.
Sementara itu, Nathanael Kevin Irwanto, angkatan 2024, memandang perannya sebagai duta bukan sekadar prestasi, melainkan tanggung jawab besar untuk merepresentasikan kampus dalam ekosistem global. Ia menilai literasi AI kini telah menjadi kebutuhan dasar yang harus dimiliki mahasiswa.
“Saya berharap dapat menjembatani teknologi terbaru dari Google agar lebih mudah dipahami dan diterapkan secara nyata untuk meningkatkan produktivitas serta kreativitas mahasiswa,” tuturnya.
Bagi Salsabila Zalyyatul Ummah, angkatan 2024, melihat program ini sebagai ruang kontribusi dalam mengembangkan pemanfaatan teknologi, khususnya AI, di lingkungan kampus.
Keterlibatan aktif ke-18 mahasiswa ini secara langsung memperkuat positioning Filkom UB sebagai institusi yang tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga inovator digital.
Keberhasilan ini sekaligus menegaskan peran strategis kampus dalam ekosistem teknologi global dalam membuka jalan bagi mahasiswa untuk berkontribusi lebih luas dalam menghadirkan solusi digital yang cerdas dan berdampak. (anto)



























