SEMBARI berdiri di atas pagar Gedung Negara Grahadi yang sukses dirobohkan massa demo tolak pengesahan RUU Omnibus Law Cipta Kerja, seorang mahasiswa peserta demo berdiskusi dengan seorang anggota TNI. Mahasiswa itu minta izin masuk Gedung Grahadi untuk menemui Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

bongkah.id – Pagar gedung negara Grahadi Surabaya kembali menjadi korban. Pagar pengaman rumah dinas Gubernur Jatim di Jl. Gubernur Suryo, Surabaya, itu roboh dimangsa massa demo tolak pengesahaan RUU Omnibus Law Cipta Kerja di Surabaya, Kamis (8/10/200). Pagar sisi barat dirubuhkan massa pada pukul 13.50 WIB. Sementara pagar sisi timur roboh pada pukul 15.32 WIB.

Usai pagar jebol, polisi melakukan tindakan reprensif. Menyerbu massa demontran untuk membubarkan. Selain itu, juga menembakkan meriam air melalui mobil water canon.Tak hanya itu petugas kemudian juga mengamankan sejumlah massa dan membawanya masuk ke Gedung Grahadi.

“Mundur! Mundur! Mundur!,” teriak polisi.

Sebagian massa berpencar hingga mundur ke Jalan Yos Sudarso dan Taman Hapsari. Massa yang berupaya bertahan masih melawan dengan melakukan pelemparan ke petugas.

Sebelum menjebol pagar Grahadi, massa demo yang terdiri dari para mahasiswa, buruh, dan masyarakat itu juga sukses menjebol kawat berduri pelindung pagar. Tak hanya itu massa juga melakukan lemparan botol dan alas kaki ke arah komplek Gedung Grahadi.

Usai menjebol gerbang Grahadi, massa kini tertahan di depan. Sebab sisi dalam dijaga ketat oleh ratusan Polri dan TNI. “Tugasmu mengayomi, tugasmu mengayomi, pak polisi, pak polisi, jangan ikut kompetisi melawan rakyat,” kata massa yang merangsek ke dalam Gedung Grahadi.

Massa mahasiswa, pelajar dan kelompok masyarakat sipil yang tergabung dalam Gerakan Tolak Omnibus Law (Getol) Jawa Timur, terlihat sudah berdatangan di depan Gedung Negara Grahadi sejak pukul 11.00 WIB. Massa sipil dan mahasiswa datang lebih dulu dibanding massa dari serikat buruh. Sampai di lokasi, mereka kemudian menaiki depan dan atap mobil water canon milik polisi yang telah terparkir di Jalan Gubernur Suryo, Surabaya.

“Tugasmu mengayomi, tugasmu mengayomi, pak polisi, pak polisi, jangan ikut kompetisi,” teriak mereka.

Seorang pelajar dari SMA Negeri 8 Surabaya yang turut dalam aksi tersebut, mengaku sengaja mengikuti aksi tersebut. Dia tergerak dan prihatin melihat nasib orang tuanya yang juga buruh.

“Orang tua saya buruh, saya kasihan liat orang tua saya setelah membaca isi RUU Omnibus Law di internet. Saya demo ini untuk masa depan kami dan adik-adik saya,” kata pelajar berwajah ganteng tersebut.

Pada kesempatan itu, terlihat para mahasiswa dan pelajar juga membentangkan baner serta poster bernada penolakan terhadap Omnibus Law Cipta Kerja.

Pada tempat berbeda, ratusan mahasiswa yang terdiri dari PMII dan GMNI menggelar aksi menolak Omnibus Law Cipta Kerja di depan Gedung DPRD Pamekasan. Mereka ditemui pimpinan DPRD Pamekasan.

Namun, para wakil rakyat itu justru dibuat menunggu berjam-jam untuk berbicara ke massa. Para demonstrasi tak memberi panggung pimpinan DPRD Pamekasan untuk berbicara meskipun sempat menyanyikan lagu Iwan Fals, ‘Bongkar’.

Sedikitnya ada 10 anggota dewan yang turun menemui peserta aksi. Di antaranya Ketua DPRD Pamekasan Fathor Rohman, Ketua Komisi I Imam Hosairi, Ketua Komisi IV Muhammad Sahur dan anggota lainnya.

Mereka menyimak satu persatu orasi yang disampaikan demonstran. Lama menunggu, beberapa anggota dewan terlihat mondar-mandir, duduk, dan mengeluh karena menahan panas matahari.

Ketua DPRD Pamekasan Fathor Rohman dan anggota dewan lain pun memilih membubarkan diri dan masuk kantor kembali Fathor terlihat kecewa karena tidak diberi kesempatan untuk berbicara.

“Gini kami tidak diberi ruang untuk berbicara. Sementara ini sudah masuk waktu zuhur, jadi kami harus salat dulu,” kata Fathor saat ditemui sejumlah wartawan.

Fathor mengaku tidak terima dengan pernyataan pendemo yang menyebut, bahwa dewan tak bekerja. Menurutnya, anggota dewan selalu siap memberi bantuan jika memang dibutuhkan.

“Kalau kami dibutuhkan, tetap kami temui. Tapi kami sepertinya tidak diperlukan,” ujarnya.

Aksi massa menolak Omnibus Law Cipta Kerja telah berlangsung di sejumlah daerah, seperti Medan, Bandung, Bekasi, Tangerang, Bandar Lampung, Semarang, Yogyakarta, Makassar, dan sejumlah daerah lain. Sementara di Jakarta, kaum buruh dan mahasiswa akan bergerak menuju Istana Negara. Ratusan mahasiswa telah berkumpul di sekitar Patung Kuda dan lampu merah Harmoni. Mereka mencoba merangsek barikade polisi untuk sampai depan Istana. (ima)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here