
bongkah.id – Di sebuah pendopo RW 05, Kecamatan Wonokromo, suara riuh anak-anak muda tengah berdiskusi. Mereka bukan sekadar berkumpul — mereka merancang pelatihan kreatif, workshop teknologi, dan lapak kecil usaha komunitas.
Semua itu berawal dari alokasi dana Rp 5 juta tiap bulan untuk setiap RW yang digulirkan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk mendukung kegiatan pemuda di tingkat lingkungan.
Program yang diinisiasi Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi tersebut mulai diberlakukan pada 2026 dengan tujuan mendorong generasi muda bergerak aktif menciptakan kegiatan positif, mengembangkan kemampuan, serta memperkuat potensi sosial-ekonomi di lingkungannya.
“Saya berharap pemuda di RW itu bergerak bersama untuk membentuk kegiatan yang bisa meningkatkan kemampuan anak-anak muda,” ujar Eri saat menyampaikan kebijakan ini, Sabtu (17/1/2026), di Balai Kota Surabaya.
Bagi pemuda RW 05, dana itu bukan sekadar angka. “Dulu kami hanya nongkrong, sekarang mulai ada kelas desain grafis dan pelatihan marketing digital,” kata Nurul (21), salah satu peserta kegiatan.
Menurutnya, dukungan ini membuka ruang bagi teman-temannya yang sebelumnya sulit menjangkau pelatihan berbayar. Aktivitas seperti itu kini menjadi “nafas” baru di kampungnya.
Kebijakan ini lahir dari aspirasi pemuda yang diakomodasi melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), di mana suara anak-anak muda meminta ruang lebih besar untuk berkegiatan.
Pemkot kemudian menetapkan anggaran bulanan Rp 5 juta per RW untuk memfasilitasi berbagai program berbasis kepemudaan seperti pelatihan, kreativitas seni, maupun kegiatan sosial kemasyarakatan.
Program ini dipandang sebagai upaya strategis untuk menyiapkan generasi muda sebagai motor perubahan di lingkungan terkecil, kampung.
Anggaran tersebut dimaknai sebagai stimulus yang bisa memantik kreativitas, memperluas jejaring, serta mendukung kemandirian pemuda. Eri menegaskan, bantuan pemerintah bersifat sementara dan diharapkan komunitas dapat tumbuh mandiri setelah program berjalan.
Tak hanya mendorong kreativitas, pendukung program di DPRD Surabaya juga menilai dana ini bisa diarahkan pada penguatan literasi digital dan pemasaran UMKM lokal, sehingga pemuda tak hanya berkegiatan, tetapi juga berperan sebagai pelaku ekonomi kreatif di kampungnya sendiri.
Bagi pemuda seperti Nurul, alokasi Rp 5 juta itu laksana “modal awal”, membuka peluang dan memberi harapan baru untuk berkembang tanpa harus meninggalkan kampung halaman.
“Kalau kami diberi fasilitas dan ruang, ternyata banyak hal positif yang bisa kami lakukan bersama,” ujarnya sambil tersenyum. (kim)


























