pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport, yang membawa 10 orang di dalamnya, dilaporkan hilang kontak sesaat sebelum mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Sabtu (17/1/2026), jam 13:47 WITA.

bongkah.id — Langit Makassar yang bersahabat mendadak jadi saksi ketegangan. Sebuah pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport, yang membawa 10 orang di dalamnya, dilaporkan hilang kontak sesaat sebelum mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Sabtu (17/1/2026), jam
13:47 WITA.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mengungkapkan, pesawat dengan registrasi PK-THT tersebut merupakan ATR 42-500 buatan tahun 2000 bernomor seri 611.

ads

Pesawat dipiloti oleh Pilot in Command Capt. Andy Dahananto, melayani penerbangan dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta (JOG) menuju Makassar (UPG).

Menurut kronologi resmi, pada pukul 04.23 UTC, pesawat mulai diarahkan oleh Air Traffic Control Makassar Area Terminal Service Center (MATSC) untuk melakukan pendekatan ke landasan pacu RWY 21 Bandara Sultan Hasanuddin.

“Pesawat diarahkan untuk pendekatan ke RWY 21,” ujar Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, dalam keterangan resmi, Sabtu siang.

Namun, saat proses pendekatan berlangsung, posisi pesawat terpantau tidak berada di jalur yang seharusnya. Petugas ATC kemudian memberikan arahan ulang agar pesawat melakukan koreksi posisi dan kembali ke jalur pendaratan sesuai prosedur.

“ATC menyampaikan beberapa instruksi lanjutan. Setelah arahan terakhir tersebut, komunikasi dengan pesawat terputus,” kata Lukman.

Putusnya komunikasi itu menjadi titik kritis. Sesuai prosedur keselamatan penerbangan, ATC langsung mendeklarasikan fase darurat DETRESFA atau distress phase. Situasi ini menandakan adanya potensi bahaya serius yang memerlukan penanganan segera.

AirNav Indonesia Cabang MATSC kemudian bergerak cepat berkoordinasi dengan Rescue Coordination Center (RCC) Basarnas Pusat, serta Kepolisian Resor Maros melalui Kapolsek Bandara. Seluruh upaya difokuskan untuk mempercepat proses pencarian dan pertolongan.

Di sisi lain bandara, ruang tunggu tak lagi sekadar tempat keberangkatan. Pihak Bandara Internasional Sultan Hasanuddin membuka Crisis Center di Terminal Keberangkatan, menjadi titik informasi dan harapan bagi keluarga awak serta penumpang yang menanti kabar.

Target pencarian mengarah ke kawasan pegunungan kapur Bantimurung, tepatnya di Desa Leang-Leang, Kabupaten Maros. Daerah ini dikenal memiliki kontur perbukitan karst yang terjal dan hutan lebat. Posko Basarnas terdekat pun didirikan di wilayah tersebut.

Pencarian lanjutan direncanakan dilakukan melalui udara. Helikopter TNI Angkatan Udara bersama Basarnas dijadwalkan menyisir area pada pukul 16.25 WITA.

Seiring itu, AirNav Indonesia menyiapkan penerbitan Notice to Airmen (NOTAM) terkait aktivitas pencarian dan pertolongan.

Berdasarkan data sementara, pesawat membawa 10 orang, terdiri dari tujuh awak pesawat dan tiga penumpang. Hingga sore hari, belum ada kepastian mengenai kondisi mereka.

Informasi awal cuaca saat kejadian menunjukkan jarak pandang sekitar delapan kilometer dengan kondisi sedikit berawan.

Meski demikian, detail cuaca masih terus dikonfirmasi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Lukman menegaskan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak, mulai dari Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah V Makassar, AirNav Indonesia, Basarnas, operator penerbangan, TNI Angkatan Udara, hingga instansi terkait lainnya.

“Kami terus memantau perkembangan situasi dan memastikan seluruh langkah penanganan berjalan optimal,” ujarnya.

Di tengah operasi pencarian yang berpacu dengan waktu, Kemenhub juga mengingatkan seluruh operator penerbangan untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap dinamika cuaca dan kondisi wilayah pegunungan.

Perencanaan penerbangan, kepatuhan terhadap batas minimum cuaca, serta penerapan Approach and Landing Accident Reduction (ALAR) Toolkit kembali ditekankan sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan.

Sementara tim SAR terus bergerak di lapangan, harapan masih menggantung di udara, menunggu kabar baik dari balik perbukitan kapur Maros. (anto)
.

57

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini