bongkah.id – Sekolah Rakyat (SR) tidak hanya dibangun di pusat-pusat kota. Ia dirintis dari pinggiran negeri, seperti di Anambas, Maluku, dan wilayah 3T lainnya, tempat pendidikan kerap datang terlambat. Di sana, SR menjadi simbol kehadiran negara yang nyata, bukan sekadar bangunan, tetapi juga janji masa depan.
Kementerian Sosial (Kemensos) menargetkan penambahan jumlah Sekolah Rakyat pada 2026. Menteri Sosial Saifullah Yusuf, memastikan jumlahnya tahun ini akan meningkat signifikan. “Untuk target tahun ini, jumlahnya jauh lebih tinggi,” kata pria yang akrab disapa Gus Ipul, Jumat (16/1/2026).
Ke depan, Kemensos menargetkan setiap kabupaten memiliki minimal satu Sekolah Rakyat. Di Jawa Timur, saat ini telah berdiri 26 Sekolah Rakyat. Targetnya serupa, yakni satu sekolah di setiap kabupaten/kota. Sejumlah daerah telah mengajukan pembangunan, meski masih terbentur ketersediaan lahan dan gedung.
“Pemerintah pusat bersama gubernur, bupati, dan wali kota terus bekerja menyediakan lahan untuk pembangunan gedung permanen. Tahun ini ditargetkan ada 19 gedung permanen di Jawa Timur,” lanjut Gus Ipul.
Di balik angka-angka itu, ada cerita tentang ruang belajar yang masih bersifat sementara. Ada pula yang telah permanen.
Saat ini, kapasitas SR sangat bergantung pada ketersediaan gedung. Di beberapa tempat, satu sekolah hanya mampu menampung 25 hingga 50 siswa. Namun bila gedung permanen sudah tersedia, kapasitasnya bisa melonjak hingga sekitar 300 siswa per tahun, masing-masing 100 untuk jenjang SD, SMP, dan SMA.
“Jika gedung permanen sudah penuh selama tiga tahun, kapasitasnya bisa menampung lebih dari 1.000 siswa SD, SMP, dan SMA,” ujar Gus Ipul.
Di balik target dan rencana itu, ada anak-anak yang kini tak lagi sekadar bermimpi tentang sekolah. Mereka datang pagi-pagi, membawa tas dan harapan baru bahwa pendidikan, akhirnya, menemukan jalannya hingga ke tempat mereka berpijak. (anto)




























