Kawasan ini awalnya bernama Jaakmart kemudian THR berubah jadi Hi-tech Mall, sekarang disiapkan sebagai sentra kreativitas anak muda.

bongkah.id – Pemerintah Kota Surabaya bersiap menghidupkan kembali denyut ekonomi kreatif dengan menjadikan gedung eks Hi-Tech Mall sebagai pusat aktivitas pelaku industri kreatif.

Langkah ini sekaligus menandai babak baru pemanfaatan ruang-ruang publik bersejarah di Kota Pahlawan yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari kehidupan sosial dan hiburan warga.

ads

Rencana tersebut diumumkan Pemkot Surabaya sebagai upaya menghadirkan ruang produktif bagi pelaku ekonomi kreatif, mulai dari UMKM, seniman, desainer, hingga kreator digital. Gedung eks Hi-Tech Mall dinilai strategis karena berada di pusat kota dan memiliki kedekatan historis dengan kawasan Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyebutkan, pengembangan pusat ekonomi kreatif ini diharapkan tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjadi ruang interaksi, kolaborasi, dan inkubasi ide-ide kreatif generasi muda.

“Ini bukan sekadar revitalisasi bangunan, tetapi menghidupkan kembali ruang kota agar bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Jejak Sejarah THR

Kawasan yang kini kembali disiapkan sebagai ruang publik produktif itu menyimpan sejarah panjang.

Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya merupakan evolusi hiburan rakyat sejak masa kolonial Hindia Belanda. Pada masa itu, konsep hiburan publik berkembang seiring kebijakan politik etis yang membuka akses ruang rekreasi bagi masyarakat pribumi.
THR kemudian tumbuh menjadi ikon hiburan warga Surabaya.

Selain wahana permainan, kawasan ini dikenal sebagai pusat seni pertunjukan rakyat, terutama ludruk. Gedung Pringgodani menjadi salah satu saksi hidup kejayaan seni tradisi, dengan kelompok-kelompok ludruk seperti Ludruk Luntas rutin mementaskan lakon yang merekam denyut kehidupan sosial masyarakat.

Pada rentang 1990-an hingga awal 2010-an, THR berada di puncak popularitas. Ribuan warga memadati kawasan ini, terutama pada akhir pekan dan hari libur. THR menjadi ruang rekreasi lintas kelas sosial, dari keluarga pekerja hingga pelajar.

Redup dan Tergerus Zaman

Namun, memasuki pertengahan 2010-an, pamor THR mulai memudar.

Persaingan dengan pusat perbelanjaan modern dan tempat hiburan baru seperti mal dan wahana tematik membuat jumlah pengunjung menurun drastis. Kondisi tersebut diperparah persoalan internal, mulai dari tunggakan pajak, masalah kerja sama pengelolaan, hingga isu kesejahteraan karyawan dan BPJS.

Sekitar 2017, sebagian besar wahana THR terbengkalai. Kawasan yang dulu ramai perlahan ditinggalkan, menyisakan bangunan tua dan kenangan kolektif warga Surabaya.

Sebagian fungsi ruang publik di pusat kota kemudian dialihkan melalui pembangunan Alun-Alun Surabaya di kawasan eks Gedung Balai Pemuda. Dengan konsep ruang terbuka hijau, galeri sejarah, dan area aktivitas komunitas, alun-alun tersebut menjadi alternatif ruang interaksi sosial dan budaya bagi warga.

Babak Baru Ruang Publik

Kini, melalui pengembangan pusat ekonomi kreatif di eks Hi-Tech Mall, Pemkot Surabaya berupaya melanjutkan semangat hiburan rakyat dalam format yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.

Jika THR dahulu menjadi pusat hiburan fisik dan seni pertunjukan, maka ruang kreatif ini diarahkan sebagai pusat produksi gagasan, inovasi, dan ekonomi berbasis kreativitas.

Pemkot berharap kehadiran pusat ekonomi kreatif ini mampu menjadi penggerak ekonomi baru sekaligus ruang ekspresi masyarakat.

Transformasi ini juga dipandang sebagai bentuk pembelajaran dari sejarah panjang THR—bahwa ruang publik harus terus dikelola, dirawat, dan disesuaikan dengan kebutuhan warga.

Dengan langkah tersebut, Surabaya tidak hanya merawat ingatan masa lalu tetapi juga membuka peluang masa depan, menjadikan ruang kota sebagai tempat tumbuhnya kreativitas dan harapan baru. (kim)

6

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini