Seluruh kitab suci dan sahifah itu secara kontekstual hanya berlaku pada masing-masing nabi dan umatnya. Tidak pada masa sesudah masa kerasulan Muhammad SAW

by Rachmat Faqih

BERBAGAI sahifah dan kitab suci yang pernah diturunkan oleh Alloh sebelum kerasulan Muhammad Saw, menurut Ibnu Katsir, merupakan panduan yang dapat dijadikan pegangan dan petunjuk oleh masing-masing umat dan para nabi kepada siapa sahifah atau kitab suci itu diberikan.

Dengan demikian, seluruh kitab suci dan sahifah itu secara kontekstual hanya berlaku pada masing-masing nabi dan umatnya. Tidak pada masa sesudah masa kerasulan Muhammad Saw.

Makna shahifah adalah sesuatu yang tersebar untuk ditulis. Bentuk jamak dari kata ini adalah shuhuf atau shahâif, yaitu lembaran-lembaran yang di dalamnya mengandung ajaran-ajaran Ilahiah, hukum-hukum dan ayat-ayat yang diturunkan kepada para nabi.

Jenis shuhuf yang diturunkan Alloh disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi seorang nabi dan umatnya. Karena itu, isi shuhuf berbeda-beda dari waktu ke waktu. Demikian pula bahan shuhuf. Pada suatu masa terdiri dari bahan jenis kayu, jenis kulit dan kertas.

Dengan kata lain, shuhuf Ilahi adalah kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi dan di sebagian ayatnya disebut dengan alwâh. Sebagai contoh, alwâh yang diturunkan kepada Musa As adalah Taurat yang disebutkan sebagai Alwah pada beberapa ayat Al-Qur’an. Karena itu, Al-Qur’an juga populer disebut Mushaf.

Dalam Al-Qur’an disebutkan empat kitab samawi, yaitu Taurat yang diturunkan pada Nabi Musa As untuk kaum Yahudi, Zabur diturunkan kepada Nabi Daud As untuk melengkapi Taurat, dan Injil diturunkan pada Nabi Isa As untuk kaum Yahudi yang banyak mengingkari isi Taurat dan Zabur.

Sementara Al-Qur’an diturunkan pada Nabi Muhammad Saw untuk menyempurnakan semua ajaran tentang Keesaan Alloh, kehidupan sosial yang beradab dan bermartabat, serta memaknai sejarah para nabi untuk berkehidupan amar mahruf nahi munkar sebagai pegangan keselamatan di dunia dan akherat. Kaum yang mengikuti ajaran Rasulullah Muhamad disebut kaum Muslim.

Fakta adanya perbedaan kapasitas kalangan dakwah Nabi Musa, Nabi Daud, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad itu tercermin dari sebutan kaumnya. Kitab Taurat, Zabur, dan Injil berbeda diturunkan Alloh untuk Kaum Yahudi. Sebaliknya Al-Qur’an diturunkan untuk kaum Muslim.

Sebutan itu menunjukkan, firman Alloh dalam Al-Qur’an itu mencangkup sebuah ajaran yang ada dalam ketiga kitab suci sebelumnya. Demikian pula dalam semua shuhuf para nabi. Itu menegaskan, Al-Qur’an diturunkan Al-Qur’an untuk semua umat manusia yang beragama Islam. Itu termasuk kaum Yahudi yang beragama Islam.

Kitab yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim tanpa nama khusus dan disebutkan dengan nama Shuhuf Ibrahim. Sebutan itu tak berarti hanya empat kitab saja yang diturunkan Alloh dan hanya empat nabi pula yang disebutkan sebagai pemilik kitab. Merujuk pada beberapa riwayat, terdapat ada nabi-nabi lain juga disebutkan memiliki shahifah dan kitab, meski nama khusus kitabnya tidak disebutkan.

Hadits yang diriwayatkan Abu Dzar dari Rasulullah Saw mengatakan, “Allah Swt menurunkan 104 kitab. 50 shahifahnya diturunkan kepada Nabi Syits As, 30 shahifahnya kepada Nabi Idris, 20 shahifah kepda Nabi Ibrahim As”.

Dalam riwayat lain disebutkan, 10 shahifah yang diturunkan kepada Nabi Adam dan Nabi Ibrahim. Sementara literatur Ahlusunnah juga disebutkan riwayat yang sama, bedanya Nabi Adam tidak disebutkan namanya. Sebagai gantinya adalah shahifah untuk Nabi Musa As dan masa diturunkannya sebelum diturunkannya Taurat. (bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here