
Bongkah.id – Memanasnya perang dagang membuat Amerika Serikat melakukan segala cara untuk menggembosi perekonomian China. Terbaru, otoritas negara adidaya itu menuding aplikasi TikTok adalah bagian dari alat intelijen China mencuri data warga negara di seluruh dunia.
Karena itu, otoritas Negeri Paman Sam mendesak pemiliknya harus menjual platform TikTok atau aplikasi berbagai video buatan China itu akan diblokir.
Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin menandaskan, Komite Investasi Luar Negeri yang dipimpinnya sudah melakukan peninjauan terhadap TikTok. Kesimpulannya, lanjut Mnuchin, aplikasi itu tidak boleh tetap eksis di AS seperti sebelumnya.
“Saya akan mengatakannya terang-terangan bahwa TikTok tak bisa menjadi bentuknya seperti saat ini karena berpotensi mengirim informasi 100 juta warga AS,” kata Mnuchin kepada ABC sebagaimana dilansir kantor berita AFP Minggu (2/8/2020).
Dalam pernyataan itu, dia tidak menyinggung ancaman sebelumnya yang dilontarkan Presiden Donald Trump ketika berada di pesawat Air Force One pada Jumat (31/7/2020).
TikTok yang dikembangkan ByteDance menjadi populer di kalangan anak muda, dengan jumlah pengguna mencapai satu miliar di seluruh dunia. Aplikasi berbagi video itu sedang disorot karena dicurigai menjadi alat bagi pemerintah China dalam mengumpulkan informasi intelijen terhadap warga AS.
Meski, belum ada bukti yang memperkuat tudingan tersebut, namun sudah ada negara yang resmi memblokir TikTok, seperti India.
Mnuchin menjelaskan, pihaknya sudah membahas rencana menangani TikTok dengan para petinggi Kongres. Antara lain dengan Ketua DPR AS Nancy Pelosi dan pemimpin minoritas Senat, Chuck Schumer.
Pembicaraan itu, klaim Mnuchin, menghasilan kesepakatan untuk melakukan tindakan tegas jika TikTok bersikukuh ingin beroperasi di AS.
“Segera lakukan penjualan atau bersiap diblokir di sini. Semuanya sepakat bahwa aplikasi ini tak bisa beroperasi jika terus memaksakan bentuk lamanya,” ujar Menteri Keuangan AS berusia 57 tahun itu.
The Wall Street Journal melaporkan Sabtu (1/8/2020), negosiasi antara Microsoft dengan ByteDance untuk membeli operasional di AS sempat terhenti setelah Trump mengancam. Adapun aplikasi itu melalui General Manager Vanessa Pappas sempat menyerang balik, dengan menegaskan mereka tak berniat untuk angkat kaki.
Hubungan Amerika Serikat dan China memang kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir. Ketegangan Cina-Amerika meruncing setelah Washington memaksa konsulat Cina di Houston menghentikan operasinya pada Kamis, 23 Juli lalu.
“Kami mengumumkan penutupan konsulat Cina di Houston karena kantor itu menjadi pusat mata-mata dan pencurian hak kekayaan intelektual,” ucap Menteri Luar Negeri Amerika Mike Pompeo.
Ekonomi Amerika memang memburuk belakangan ini. Senin, 27 Juli lalu, indeks dolar Amerika—nilai relatif terhadap mata uang negara lain—jatuh 0,5 persen ke level terendahnya sejak 2018. Data yang dirilis Departemen Perdagangan Amerika pada Kamis, 30 Juli lalu, juga menunjukkan produk domestik bruto negeri itu anjlok 32,9 persen pada kuartal kedua tahun ini, penurunan terburuk yang hampir menyamai kondisi pada pertengahan 1921. Pelemahan ini diduga juga disebabkan oleh dampak pandemi Covid-19.
Investor jutawan Ray Dalio juga memperingatkan bahwa ketegangan hubungan kedua negara akan mengarah ke “perang modal” dengan kerugian besar bagi dolar. “Kita sedang berkonflik dengan Cina. Anda dapat menyebutnya perang,” ujar pendiri perusahaan manajemen investasi Bridgewater Associates itu kepada Fox.
“Ada perang dagang, ada perang teknologi, ada perang geopolitik, dan mungkin akan ada perang modal.” Jika kedua negara tak bekerja sama, dia menambahkan, ekonomi Amerika akan jatuh. (afp/tmp/bid)