Sebanyak 18 orang dari kelompok pengikut aliran kepercayaan Trimurti Kapitaya asal Nganjuk, Jawa Timur, berbaris membentuk formasi ritual di Pantai Watu Ulo, Jember, Sabtu (26/2/2022).

Bongkah.id – Insiden ritual maut yang menewaskan 11 anggota Padepokan Jamaah Tunggal Jati Nusantara di Pantai Payangan, Kecamatan Ambulu, Jember, Jawa Timur, rupanya tak membuat komunitas pengikut aliran kepercayaan yang lain takut. Sebanyak 18 orang dari kelompok kepercayaan Trimurti Kapitaya melakukan aktivitas yang mirip di pantai sebelahnya, Watu Ulo, Sabtu (26/2/2022).

Sebagian besar anggota Trimurti Kapitaya yang mengikuti ritual itu adalah perempuan. Informasinya, kelompok ini berasal dari Dusun Takat, Desa Kampung Baru, Kecamatan Tanjungan, Nganjuk, Jawa Timur.

ads

Tujuan mereka adalah Pantai Watu Ulo. Pantai ini berada di satu kawasan bibir laut dengan dengan Pantai Payangan, lokasi terjadinya insiden maut yang menewaskan 11 anggota Padepokan Jamaah Tunggal Jati Nusantara, beberapa waktu lalu. (Baca: Video Ritual Malam Sebelum Tragedi Maut di Pantai Selatan Jember, Pimpinan Padepokan Jadi Tersangka).

Kelompok ini berangkat dari Nganjuk pada Sabtu (25/2/2022) malam sekitar pukul 23.00 WIB dan menempuh perjalanan selama 12 jam sampai tiba di Watu Ulo Sabtu (26/2/2022) siang sekitar pukul 11.18 WIB.

Setibanya di Pantai Watu Ulo, 18 orang itu langsung menggelar ritual. Dalam sebuah video yang diunggah di media sosial, kelompok pengikut aliran kejawen yang dipimpin Tri Suno (56) itu memperagakan beberapa formasi dan gerakan.

Belasan orang yang sebagian adalah perempuan itu, sama-sama duduk bersila membentuk barisan dua orang (depan dan belakang) memanjang ke samping. Formasi itu nampak sejajar membentuk garis horizontal, dekat areal batu bersisik yang menyerupai ular.

Sebagian tubuh mereka terendam air menengadahkan tangan ke atas seperti berdoa. Beberapa orang juga terlihat memegang kendi berukuran mini.

Beberapa saat kemudian, dari penggalan video lainnya menunjukkan belasan orang tersebut berdiri lebih ke tengah pantai dengan formasi melingkar. Di tengah lingkaran tampak satu orang pria yang dikelilingi anggota kelompok lainnya.

“Berdasarkan pengakuan, mereka datang kesini karena ada petunjuk gaib untuk membebaskan badan Watu Ulo atau Sansoko,” kata Kapolsek Ambulu AKP Makruf.

Aktivitas kelompok Trimurti Kapitaya akhirnya dibubarkan pihak kepolisian. Pembubaran ini untuk menghindari terulangnya tragedi 11 orang meninggal dunia ketika melaksanakan ritual di Pantai Payangan beberapa waktu lalu.

“Mereka sudah dua kali ini (ritual) di Watu Ulo. Pertama tanggal 28 Januari 2022 dan hari ini,” ucap Makruf.

Sebelumnya, kegiatan ritual dilakukan anggota padepokan Jamaah Tunggal Jati Nusantara di pantai selatan tepatnya Pantai Payangan, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Minggu (13/2/2022). Sebanyak 11 orang tewas tersapu ombak ketika melakukan aktivitas bergandengan tangan di tepi laut selatan yang menjadi tradisi kelompok tersebut. (bid)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini