SUASANA menjelang pemakamam almarhum KH Abdullah Syukri Zarkasyi, Kamis (22/10/2020) pagi. Tampak luapan para takzhiah yang memenuhi masjid di kompleks Ponpes Gontor. Dengan berderai air mata mengatarkan kepergian almarhum ke tempat peristirahatan terakhir.

bongkah.id – Innalillahi Wainnalillahi Roji’un. Warga Nahdliyin Indonesia umumnya dan Jawa Timur khususnya kembali berduka. Setelah pada 17 Oktober lalu, dalam sehari kehilangan ulama panutan. Yakni Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Mojo, Kediri KH Fuad Mun’im Djazuli (sekitar pukul 03.30 WIB); Pengasuh Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Kraksaan, Probolinggo, KH Muhammad Hasan Saiful Islam (pukul 12.20 WIB); dan Pengasuh Pondok Pesantren Tanwirul Qulub, Karanggeneng, Lamongan, KH Imam Suhrowardi.

Pada hari Rabu (21/10/2020) sekitar pukul 15.50 WIB, telah berpulang Pimpinan sekaligus pengasuh Pondok Modern Darrusalam Gontor, Ponorgo, Jawa Timur, KH Abdullah Syukri Zarkasyi.

Informasi resmi dari Humas Pondok Modern Darussalam Gontor maupun kalangan alumni menyebutkan, Sang Kiai wafat pada usia 78 tahun. Beliau wafat akibat sakit yang disebabkan oleh faktor usia. Sakit yang diderita almarhum, berawal dari serangan stroke pada tahun 2012. Semenjak itu, almarhum beberapa kali menjalani perawatan intensif.

“Mohon doanya semoga dosanya diampuni, amal ibadahnya diterima Allah SWT dan semoga husnul khatimah,” kata pejabat Humas Pondok Modern Gontor Mujib Abdurahman dikonfoirmasi melalui layanan perpesanan whatsapp.

ALMARHUM KH. Abdullah Syukri Zarkasyi semasa hidup yang selalu berpesan pada semua santrinya untuk selalu menjaga wudhu, tidak lupa shalat fardhu, shalat malam, shalat dhuha, menjaga hati serta fiikiran untuk selalu positif, dan beribadah pada Alloh seakan maut telah di depan mata. Demikian pula yang almarhum pesankan pada para muslim yang datang bersilahturahim.

Civitas Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, memohon doa husnul khatimah untuk KH Abdullah Syukri Zarkasyi. “Semoga amal ibadah beliau diterima oleh Allah SWT dan diampuni segala dosanya,” kata Rektor Universitas Darussalam Gontor Amal Fathullah Zarkasyi dalam keterangannya.

Sementara Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi di Surabaya, mengajak para muslim di Jawa Timur khususnya dan Indonesia umumnya untuk mendoakan almarhum KH Abdullah Syukri Zarkasyi. Wafat dalam keadaan “husnul khotimah”.

“Secara pribadi, saya yakin Insya Allah, almarhum ‘husnul khatimah’ dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT,” kata mantan Menteri Sosial ini.

Khofifah yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU itu juga menyampaikan duka cita yang mendalam. Berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan kelapangan serta ketabahan hati menerima cobaan ini.

Jasa almarhum selama hidup, kata dia, sangatlah besar untuk Indonesia, khususnya bagi dunia pendidikan. “Alumni Gontor telah tersebar di seluruh penjuru Indonesia, bahkan dunia. Di antara mereka banyak yang menjadi menteri, kepala daerah, rektor, duta besar, budayawan, dan berbagai profesi serta jabatan strategis lainnya,” ujarnya.

Menurut dia, tak ada yang tidak mengenal Gontor. Para alumni-nya sangat disegani, termasuk kiprah-nya yang sangat positif. Tidak hanya di kancah nasional, tapi juga di peta internasional.

Orang nomor satu di Pemprov Jatim tersebut juga mengucapkan duka cita melalui unggahan di akun Instagram pribadi miliknya, @khofifah.ip.

Sebagaimana diketahui, KH Abdullah Syukri Zarkasyi merupakan putra pertama dari KH Imam Zarkasyi, salah satu trimurti pendiri Pondok Modern Gontor Ponorogo. Almarhum dilahirkan di Desa Gontor, Ponorogo, pada 19 September 1942. Lahir di lingkungan pesantren yang memiliki kultur pendidikan kuat, KH Abdullah Syukri Zarkasyi dikenal sebagai sosok yang kutu buku. Ia rajin membaca, terutama ilmu-ilmu tentang dunia Islam.

Almarhum menamatkan sekolah dasar di Desa Gontor pada 1954. Setelah menamatkan Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) di Pondok Modern Darussalam Gontor pada 1960, KH Abdullah Syukri Zarkasyi melanjutkan studi di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, hingga meraih gelar Sarjana Muda tahun 1965.

Sedangkan gelar Lc. didapat almarhum dari Al Azhar University Kairo, Mesir pada 1976. Kemudian melanjutkan studi di lembaga yang sama hingga meraih gelar MA pada tahun 1978. Sementara gelar Doctor Honoris Causa diterimanya pada 2005 dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, yang saat ini berganti nama Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta.

KH Syukri juga aktif di dunia pergerakan dan organisasi berlatar belakang Islam. Ia tercatat pernah menjadi pengurus HMI cabang Ciputat, Jakarta (1964); pengurus Himpunan Pelajar Islam di Kairo; Mesir (1971); pengurus PPI di Denhag, Belanda (1975); dan Pimpinan Pondok Modern Gontor (1985 – sekarang).

Saat meninggal, KH Abdullah Syukri masih tercatat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Ponorogo (1999-sekarang); Ketua MP3A Kemenag Ponorogo (Majelis Pertimbangan Pendidikan dan Pengajaran Agama (1999-sekarang); dan Dewan Penasihat MUI pusat. (mad)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here