Serpihan badan Pesawat ATR 42-500 yang ditemukan oleh SAR Gabungan di lereng Gunung Bulusaraung, Pangkep, Senin, 19 Januari 2026.(Foto:Dok/Humas Basarnas Makassar)

bongkah.id – Tim khusus (timsus) gabungan menunjukkan ketangguhan dan profesionalismenya yang tinggi dalam mengevakuasi black box pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Keberhasilan ini dicapai setelah personel menembus tebing terjal dan hutan lebat dengan tingkat kesulitan risiko tinggi.

Black box ditemukan pada Rabu (21/1/2026), pukul 11.00 WITA, masih menempel di bagian ekor pesawat yang berada di salah satu lereng paling terjal gunung tersebut.

ads

Operasi ini melibatkan Yonif 700 Raider Ida Yudha Sakti, Basarnas, serta Tim Reaksi Cepat Bosowa yang selama berhari-hari menyisir lereng gunung dengan teknik mountaineering dan sistem pengamanan berlapis.

Asisten Operasi Kodam XIV/Hasanuddin, Kolonel Inf Dody Triyo Hadi, menyampaikan bahwa ekor pesawat berada pada kedalaman sekitar 131–150 meter dari puncak. Medan di titik tersebut berupa tebing hampir tegak, dengan vegetasi hutan yang rapat dan minim pijakan, sehingga setiap personel harus bergerak dengan perhitungan matang dan disiplin tinggi.

“Tim menunjukkan ketangguhan luar biasa. Black box berhasil dilepaskan dari dudukannya dan kini dalam proses evakuasi menuju posko,” ujar Dody di Posko Operasi SAR Gabungan, Pangkep.

Dalam operasi ini, Yonif 700 Raider Ida Yudha Sakti berperan sebagai ujung tombak di medan ekstrem, mengamankan jalur, melakukan penurunan tebing, serta memastikan keselamatan personel lain.

Basarnas bertanggung jawab pada aspek teknis pencarian dan evakuasi, termasuk penggunaan peralatan vertical rescue, sementara Tim Reaksi Cepat Bosowa memperkuat dukungan logistik, navigasi lapangan, dan respons cepat di area berbahaya.

“Black box berada di dalam bagian potongan ekor pesawat. Saat ini sudah berhasil dilepaskan dari dudukannya dan sedang dalam proses evakuasi menuju posko,” kata Dody.

Proses evakuasi diperkirakan memakan waktu sekitar tiga jam, dengan mempertimbangkan kondisi medan dan cuaca. Meski demikian, koordinasi solid antartim serta ketangguhan fisik dan mental personel membuat proses penurunan berjalan relatif aman.

Dody menuturkan, secara visual kondisi black box terlihat utuh, meski kepastian kelayakan data masih menunggu pemeriksaan resmi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
“Secara kasat mata bentuknya utuh, namun penetapan resmi dan analisis akan dilakukan oleh KNKT,” ujarnya.

Ia menambahkan, bagian ekor pesawat sebenarnya telah teridentifikasi sejak beberapa hari sebelumnya. Namun tim baru dapat menjangkaunya setelah menyiapkan skema pengamanan khusus, mengingat kontur tebing yang ekstrem dan risiko tinggi terhadap keselamatan personel.

Selanjutnya, black box akan diamankan dan diserahkan sesuai prosedur, dengan koordinasi lintas instansi. Data penting dalam black box diharapkan menjadi kunci untuk mengungkap penyebab kecelakaan pesawat ATR 42-500, sekaligus menjadi dasar evaluasi keselamatan penerbangan nasional. (anto)

5

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini