Penampilan seni budaya dari murid SMAN 1 Kutorejo saat peresmian pagar sekolah bernuansa Majapahit.

bongkah.id — Awal tahun 2026 menjadi momentum penting bagi SMA Negeri 1 Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Lingkungan sekolah tampak hidup dan penuh energi, menyusul rangkaian kegiatan kesiswaan yang tidak hanya meriah, tetapi juga sarat nilai pendidikan karakter, spiritualitas, dan kecintaan terhadap budaya lokal.

ads

Nuansa kebersamaan terasa kuat ketika ratusan siswa dan guru memadati halaman sekolah dalam peringatan Isra’ Miraj Nabi Muhammad SAW yang digelar Kamis siang, medio Januari 2026.

Kegiatan keagamaan ini menjadi salah satu agenda pembuka semester yang dirancang untuk menanamkan nilai moral sekaligus memperkuat ikatan sosial antarsiswa.

Guru pendamping kesiswaan, Fajar Bagus, menjelaskan bahwa rangkaian acara diawali dengan sembahyang Dhuha bersama. Ritual tersebut dimaksudkan sebagai sarana pembiasaan spiritual agar siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran batin dan etika kehidupan.

“Setelah Dhuha, kami lanjutkan dengan doa bersama, puji-pujian, dan ceramah agama,” ujar Fajar Bagus.

Tema ceramahnya mengajak siswa meneladani keutamaan akhlak Nabi Muhammad SAW, mulai dari kejujuran, kepedulian sosial, hingga sikap rendah hati dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, peringatan Isro’ Mi’roj tidak dimaknai sebatas seremoni tahunan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang refleksi agar nilai-nilai spiritual dapat dihidupkan dalam keseharian siswa, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat.

Suasana kegiatan berlangsung khidmat, sekaligus hangat, mencerminkan keberagaman latar belakang siswa yang disatukan oleh semangat kebersamaan.
Penguatan karakter di SMAN 1 Kutorejo tidak berhenti pada aspek spiritual.

Ratusan siswa dan guru memadati halaman sekolah dalam peringatan Isra’ Miraj Nabi Muhammad SAW yang digelar Kamis siang, pertengahan Januari 2026.

Karakter Majapahit

Sehari sebelum peringatan Isra’ Miraj, sekolah ini juga meresmikan pembangunan pagar sekolah bernuansa Majapahit, sebuah langkah konkret dalam merawat identitas budaya lokal.

Program pembangunan pagar tersebut telah dimulai sejak Oktober 2025 dan rampung pada akhir Desember 2025.

Proyek ini merupakan hasil kolaborasi antara pihak sekolah, Komite Sekolah, serta paguyuban orang tua siswa kelas X, dengan pendanaan yang bersumber dari partisipasi orang tua secara sukarela dan transparan.

Kepala SMAN 1 Kutorejo, Achmad Setiawan, menegaskan bahwa pembangunan pagar Majapahit bukan sekadar proyek fisik.

“Pagar ini adalah simbol pelestarian budaya Majapahit yang menjadi akar sejarah Mojokerto. Kami ingin siswa tumbuh dengan kesadaran akan jati diri dan warisan budayanya,” ujarnya.

Pagar sekolah didesain dengan dominasi bata merah khas Majapahit dan dilengkapi gapura artistik. Material bata berkualitas tinggi didatangkan dari Blora, Jawa Tengah, demi menghadirkan kesan autentik sekaligus edukatif.

Melalui desain ini, sekolah berharap nilai sejarah tidak hanya dipelajari di ruang kelas, tetapi juga dirasakan langsung dalam ruang hidup siswa.

Lebih lanjut, Achmad Setiawan menyampaikan bahwa kehadiran pagar Majapahit diharapkan menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga karakter, kebersamaan, dan rasa cinta terhadap budaya bangsa.

Rangkaian kegiatan spiritual dan budaya tersebut menegaskan komitmen SMAN 1 Kutorejo dalam membangun lingkungan pendidikan yang utuh, menggabungkan ilmu pengetauan, nilai moral, dan kesadaran sejarah—sebagai bekal siswa menghadapi tantangan masa depan. (kim)

8

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini