ILUSTRASI Nabi Khidhir Jadi Budak Sahaya, karena kata "Bi-Wajhillah" yang diucapkan seorang budak mukatab atau budak kitabah.

by Rachmat Abd. Faqih/bongkah.id

BEBERAPA hari kemudian, saudagar kaya itu memanggil Nabi Khidhir. Dia berkata, “Mulai besok, aku akan pergi beberapa hari lamanya, untuk berdagang. Tolong jagalah keluargaku dengan baik!!”

Mendengar kabar itu, Nabi Khidhir menjawab, “Baiklah, aku akan jaga keluarga tuanku dengan sekuat tenaga. Namun, perintahkanlah pula aku untuk mengerjakan sesuatu!!”

Saudagar kaya itu berkata,”Menjaga keluargaku dengan baik merupakan pekerjaan yang berat. Jika aku memberimu pekerjaan yang lain, bukankah aku akan memberatkan dirimu!!”

“Tidak ada sesuatu yang akan memberatkan diriku, tuanku,” jawab Nabi Khidhir.

Saudagar kaya itu terdiam sejenak. Sorot matanya melihat Nabi Khidhir seakan berkata, bahwa dia sangat tidak tega untuk memberi pekerjaan tambahan. Setelah pekerjaan menjaga keluarganya di saat dirinya pergi berdagang. Namun, paksaan Nabi Khidhir yang meminta untuk diberi pekerjaan tambahan itu, membuat saudagar kaya itu serba salah.

Diawali dengan tarikan nafas yang dalam, saudagar kaya itu berkata, “Jika engkau memaksaku untuk memberi pekerjaan tambahan, baiklah. Selama aku pergi, buatlah batu bata. Aku akan membangun sebuah rumah, setelah aku pulang nanti dari berdagang”.

Membuat batu bata yang ditugaskan saudagar kaya itu, tentu saja pekerjaan yang amat mudah bagi Nabi Khidhir. Bahkan lebih dari itupun, kekasih Alloh SWT itu mampu untuk melakukannya. Ini karena berbagai macam karamah yang dikaruniakan Alloh padanya.

Beberapa hari berlalu, saudagar kaya itu pulang. Namun, dia tidak menemukan tumpukan batu bata di halaman belakang rumahnya. Dia justru melihat sebuah rumah yang cukup mega. Bentuk bangunannya sama dengan yang direncanakan. Letak bangunan juga sesuai dengan yang direncanakan. Saudagar kaya itu sangat heran. Sebab dia tidak pernah menceritakan bentuk rumah mega yang direncanakan itu pada siapa pun. Demikian pula lokasi tempat rumah baru itu akan dibangun.

Karena itu, saudagar kaya itu segera menemui Nabi Khidhir. Dia bertanya, “Sungguh aku ingin bertanya kepadamu bi-wajhillah, sebenarnya siapakah engkau ini!!”

Mendengar pertanyaan itu, Nabi Khidhir pun menjawab, “Engkau telah bertanya kepadaku tuangku pembeli budak yang tua dan tak bermanfaat ini dengan kata bi-wajhillah, dan kata bi-wajhillah itulah yang menjadikan aku sebagai budak. Aku sesungguhnya Khidhir yang namanya telah sering engkau dengar ……!!”

Selanjutnya, Nabi Khidhir menceritakan peristiwa yang dialami. Peristiwa yang membuatnya harus menjadi seorang budak sahaya. Saat menutup semua ceritanya itu, Nabi Khidhir berkata, “Barang siapa yang diminta dengan perkataan bi-wajhillah, lalu menolak permintaan orang itu padahal ia mampu memberi, maka pada hari kiamat ia akan datang dengan jasad tanpa daging, dan nafasnya akan terengah-engah tanpa henti!!”

Mendengar kisah yang disampaikan oleh Nabi Khidhir itu, saudagar kaya itu bercampur baur antara senang, takut, haru, khawatir, dan berbagai perasaan lainnya. Siapakah orang saleh di masa itu yang tidak ingin bertemu dengan Nabi Khidhir? Siapapun pasti menginginkannya. Sementara dirinya yang bukan seorang saleh, tanpa disadari telah tinggal bersama Nabi Khidhir selama berhari-hari.

Saudagar kaya itu kemudian berkata, “Aku beriman kepada Alloh, dan aku telah menyusahkan dirimu, wahai Nabiyallah, andaikata aku tahu tidak perlu terjadi peristiwa seperti ini!!”

Nabi Khidhir menjawab, “Tidak mengapa tuanku pembeli budak tua yang tidak bermanfaat ini, engkau adalah orang yang baik!!”

Selanjutnya, saudagar kaya itu berkata, “Wahai Nabiyallah, silahkanlah engkau mengatur rumah dan keluargaku sesuka engkau, atau bila ingin bebas dari perbudakan ini, aku akan memerdekakan engkau!!”

Dengan tersenyum, Nabi Khidhir berkata, “Aku hanya ingin tuanku pembeli budak tua yang tidak bermanfaat ini untuk memerdekakan aku, agar aku bisa bebas beribadah kepada Alloh!!”

Mendengar permintaan Nabi Khidhir itu, maka saudagar kaya itu langsung mememerdekakan kekasih Alloh itu dari statusnya sebagai budak sahaya. Setelah mendengar saudagar kaya itu memerdekakan dirinya, maka Nabi Khidhir berkata, “Maha Terpuji Engkau, Ya Aloah, yang telah mengikat aku dalam perbudakan, kemudian menyelamatkan aku darinya. Ya Alloh, semoga Engkau menjadikan kami sebagai orang-orang yang berakhlak baik dan membantu saudara-saudara kami lainnya mencapai surga yang menjadi milikmu.”

Menurut Amr bin Dinar dari Ibnu Abbas, “Nabi Khidhir dan Nabi Ilyas tetap akan Hidup selama Al Quran masih berada di Bumi, ketika Al Quran diangkat oleh Allah maka Nabi Khidhir dan Nabi Ilyas akan mati, Nabi Khidhir bertugas di lautan (riwayat lain di air), Nabi Ilyas bertugas di darat.” Dari Ibnu Abbas pula meriwayatkan bahwasanya ketika musim Haji tiba, Nabi Khidhir dan Nabi Ilyas bertemu di Jabal Rahma saling mencukur rambut dan mendoakan satu sama lain.

Sementara Imam Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Sanad hadits ini hasa. Seandainya tidak ada Baqiyah ibn Walid. Dan seandainya hadits ini sahih, niscaya menjadi dalil yang tegas tentang kenabian Khidhir, karena pengakuan Rasulullah Saw terhadap ucapan majikan itu yang mengatakan, Wahai Nabi Allah”.

Dari kisah penuh hikmah ini dimana Nabi Khidhir dalam keadaan sempit pun menyedekahkan dirinya untuk rela dijual sebagai Budak. Ketika menjadi Budak pun beliau tidak mengeluh. Mengerjakan pekerjaan yang amat berat. Memindah batu-batu besar dari halaman depan rumah tuannya ke halaman belakang. Itulah buah kesabaran dari Nabi Khidhir ridha ketika di uji oleh Allah untuk menyerahkan dirinya dan jiwa raganya untuk seseorang yang beliaupun tidak kenal sebelumnya, itulah Asshobru Warridha minal Bala’. Wallahu A’lam Bishawab (EnD)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here