Sabrang (kedua dari kiri) saat dilantik oleh Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin.

bongkah.id – Nama Sabrang Mowo Damar Panuluh yang lebih dikenal publik sebagai Noe Letto, kembali menyita perhatian nasional.

Vokalis band Letto yang dikenal lewat lagu-lagu puitis ini resmi dilantik sebagai tenaga ahli Dewan Pertahanan Nasional di Kementerian Pertahanan. Demikian keterangan Biro Pers Kemenhan, Sabtu, 17 Januari 2026. Pelantikan tersebut dilakukan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto bersama sejumlah tenaga ahli lainnya.

ads

Penunjukan Sabrang menandai babak baru perjalanan seorang seniman-intelektual yang selama ini bergerak di persimpangan musik, pemikiran, dan kebudayaan, kini masuk ke wilayah strategis kebijakan negara.

Dari Musik ke Ruang Negara

Lahir pada 10 Juni 1979, Sabrang adalah anak sulung dari budayawan terkemuka Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Namanya dikenal luas sebagai vokalis dan keyboardis band Letto, grup musik yang melejit pada awal 2000-an dengan karakter lirik reflektif dan melankolis.

Hingga sekitar 2014, Noe menjadi wajah utama Letto di panggung musik nasional.
Namun, perjalanan Sabrang tak berhenti pada popularitas. Di balik sorotan industri musik, ia membangun reputasi lain yang lebih senyap tetapi berpengaruh, pemikir kritis yang tekun berdialog dengan realitas sosial dan kebangsaan.

Sabrang dikenal sangat aktif dalam forum-forum Maiyah, ruang pengajian dan diskusi kultural yang digagas Cak Nun dan tumbuh di berbagai kota seperti Kenduri Cinta, Bangbang Wetan, dan lainnya.

Dalam forum ini, Sabrang kerap tampil bukan sebagai “anak tokoh besar”, melainkan sebagai narasumber independen yang menawarkan sudut pandang tajam.

Ia sering membahas tema-tema Islam Jawa, logika berpikir, pendidikan modern, hukum, hingga nasionalisme, dengan pendekatan filosofis namun membumi.

Cara bicaranya lugas, argumentatif, dan mendorong jamaah untuk berpikir merdeka—ciri khas tradisi intelektual Maiyah.

Tak jarang, diskusi tersebut berpadu dengan musik KiaiKanjeng, tempat Sabrang juga terlibat langsung, menyatukan bunyi dan gagasan dalam satu ruang dialog kebudayaan.

Sebagai putra sulung Cak Nun, Sabrang kerap disebut mewarisi daya nalar kritis dan keberanian berdialog. Namun publik Maiyah mengenalnya sebagai figur yang tidak sekadar meneruskan, melainkan mengembangkan tradisi itu dengan bahasanya sendiri—lebih analitis, sistematis, dan kontekstual dengan tantangan zaman.

Keterlibatannya dalam berbagai diskusi kebangsaan menunjukkan konsistensinya membangun jembatan antara nilai-nilai kultural, spiritual, dan kebutuhan negara modern.

Menyumbang Perspektif Alternatif Kemenhan

Pelantikan Sabrang sebagai tenaga ahli Kemenhan memberi sinyal bahwa negara mulai membuka ruang bagi latar belakang non-konvensional—seniman dan pemikir—untuk terlibat dalam perumusan kebijakan strategis.

Kehadirannya diharapkan memperkaya perspektif pertahanan, tidak semata dari sudut militeristik, tetapi juga kultural, sosial, dan kemanusiaan.

Bagi Sabrang, langkah ini bukan lompatan instan, melainkan kelanjutan dari proses panjang. Dari panggung musik, lingkar diskusi Maiyah, hingga ruang pengabdian negara.

“Noe Letto” adalah potret bahwa kreativitas, pemikiran kritis, dan integritas dapat berjalan seiring. Ia menunjukkan bahwa seniman tidak harus berhenti di panggung hiburan, dan negara tidak harus menutup diri dari suara kebudayaan.

Dari gitar dan keyboard, ke forum Maiyah, hingga kini ke Kementerian Pertahanan, Sabrang menegaskan satu hal, bahwa jalan pengabdian bisa lahir dari mana saja, selama berpijak pada kejujuran berpikir dan keberanian bertanggung jawab. (kim)

5

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini