Bukit kapur Desa Suci Gresik, Jawa Timur. Warganya menolak rencana penambangan PT Semen Gresik.

bongkah.id – Bekas tambang kapur di Gresik utara bukan sekadar lanskap batu putih yang sunyi. Di bawah sinar matahari siang, lereng-lereng kapur itu menyimpan cerita panjang tentang hidup dan harapan yang patah dan dikokohkan kembali oleh suara warga yang tak lagi mau diam.

Selama hampir 40 tahun, bukit kapur di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, menjadi tempat perusahaan semen mengeruk bumi demi mengejar profit.

ads

Aktivitas itu memang memberi nafas ekonomi industri, tetapi juga meninggalkan bekas yang dalam – tanah gundul, sumber air terganggu, dan cerita warga yang harus menanggung akibatnya.

Kini, setelah masa pengelolaan oleh perusahaan berakhir, warga melihat tanah itu tak lagi hanya sekadar sisa tambang. Mereka melihatnya sebagai warisan yang harus direbut kembali untuk masa depan desa.

Di pagi yang belum panas, puluhan warga berkumpul bukan untuk mengais rezeki, tetapi menuliskan namanya di atas kain petisi besar. Tanda tangan itu bukan sekadar coretan; ia adalah simbol dari satu suara kolektif yang telah lama terpendam.

Warga membubuhkan tanda tangan itu sebagai bentuk penolakan terhadap rencana pengajuan kembali Hak Pengelolaan Lahan oleh PT Semen Indonesia, yang menurut mereka berpotensi kembali mengokupasi tanah yang selama puluhan tahun “hanya memberi bekas dan sedikit manfaat nyata”.

Achmad Faizul Minan, ketua Forum Komunikasi Warga Suci, turun dari rumah ke rumah, mengetuk pintu demi pintu untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya. “Kami ingin semua tahu apa yang sedang terjadi. Ini bukan soal menolak pekerjaan, tetapi soal hak kami menentukan nasib tanah nenek moyang kami,” ujarnya kepada para tetangga.

Mayoritas yang dia temui menyadari konsekuensi jangka panjang jika penguasaan lahan kembali berpindah ke korporasi tanpa transparansi dan keterlibatan warga.

Dulu, bukit kapur itu menjulang, menjadi bagian dari identitas desa. Sekarang, lerengnya terlihat landai, bekas aktivitas tambang yang tampak membisu. Warga yang lahir dan besar di sekitar kawasan itu menyimpan memori yang berbeda tentang bukit kapur.

Bagi sebagian anak, itu adalah tempat petualangan; bagi orang tua, itu adalah ladang penghidupan sekaligus sumber kekhawatiran tata air kering dan erosi tanah.

Banyak dari mereka merasakan dampaknya langsung pada keseharian, ketika sumur tak lagi mengalir seperti dulu, atau saat hujan deras menimbulkan kekhawatiran akan longsor.

Kini, bukan hanya petisi yang tumbuh di Desa Suci. Warga juga mendirikan posko aspirasi sebagai tempat berkumpul, berdiskusi, dan menyatukan tenaga untuk membuat suara mereka tak hanya bergema di kampung, tetapi sampai ke meja pemerintahan dan pengambil kebijakan. Mereka ingin tanah itu kembali diprioritaskan untuk kemaslahatan desa dan masyarakat setempat — bukan kembali menjadi ruang dominasi perusahaan besar.

Kisah yang sedang berlangsung di Desa Suci bukan sekadar penolakan administratif. Ia adalah kisah tentang desa yang menyadari bahwa tanah, yang pernah digarap habis oleh kekuatan industri, harus kembali menjadi aset warga.

Tempat anak-anak tumbuh, tempat sumur mengalir, tempat masa depan dibangun dari kesadaran kolektif bahwa tanah itu punya cerita manusia di balik setiap retakan kapur putihnya. (kim)

5

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini