Para petinggi Bank Mandiri, dari kiri: Dari kiri ke kanan, Komisaris Rionald Silaban, Wadirut Bank Mandiri Hery Gunardi, Komisaris Ardan Adiperdana, Direktur Utama Royke Tumilaar, Komisaris Utama M. Chatib Basri, Direktur Manajemen Risiko Ahmad Siddik Badruddin dan Direktur Treasury, Int. Banking & SAM Darmawan Junaidi di sela Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Bank Mandiri di Jakarta, Rabu (19/2/2020).

Bongkah.id – Besaran gaji dan tunjangan para bos perusahaan BUMN selalu memancing rasa penasaran publik. Jabatan mentereng Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) yang diduduki Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan gaji Rp 170 juta per bulan ternyata masih kalah jauh dengan pendapatan jajaran petinggi PT Bank Mandiri Tbk.

Bank plat merah itu dikenal royal kepada para komisarisnya. Dari laporan keuangan interim 30 Maret 2020, terungkap Bank Mandiri mengucurkan total Rp 13,61 miliar untuk gaji dan tunjangan dewan komisaris selama kuartal I-2020.

Apabila dibagi 10 orang jumlah komisaris Bank Mandiri, setiap komisaris Bank Mandiri rata-rata menerima gaji dan tunjangan Rp 1,36 miliar dalam 3 bulan. Maka, dengan asumsi besaran pendapatan yang sama, mereka menerima dari bank BUMN itu sebesar Rp 453 juta per bulan.

Angka itu pun belum termasuk bonus, tantiem dan imbalan kerja jangka panjang. Total pendapatan yang bisa diterima dewan komisaris Bank Mandiri dari tiga jenis bonus itu mencapai Rp 19,31 miliar selama kuartal I-2020.

Dengan asumsi hitungan yang sama, dalam tiga bulan (kuartal I-2020) setiap komisaris memperoleh total pendapatan Rp 1,93 miliar. Maka total bonus yang diperoleh komisaris Bank BUMN dalam satu bulan rata-rata sebesar Rp 634 juta.

Jika ditambahkan dengan gaji dan tunjangan yang diterima Rp 453 juta, maka total pendapatan Komisaris Bank Mandiri per bulan rata-rata sebesar Rp 1.08 miliar. Jumlah pennghasilan yang fantastis.

PT Garuda Indonesia Tbk menyusul di bawah Bank Mandiri yang berani membayar tinggi kepada jajaran komisaris serta direksinya. Dikutip dari Laporan Keuangan Garuda Indonesia tahun 2018, total besaran gaji dan remunerisasi direksi ditetapkan sebesar 2.145.575 atau Rp 33,14 miliar (kurs Rp 15.444).

Kalau dibagi rata masing-masing delapan anggota direksi, maka setiap satu orang direksi mendapatkan gaji dan remunerisasi sebesar Rp 4,14 miliar per tahun atau Rp 345,2 juta per bulan. Setelah adanya kebijakan pemotongan gaji sebesar 50% bagi petinggi Garuda Indonesia, maka dengan asumsi rata-rata gaji dan remunerisasi delapan direksi yang sama, gaji setiap direksi sebesar Rp 172 juta. Namun pemotongan gaji ini hanya berlangsung tiga bulan sejak April hingga Juni 2020.

Pembicaraan seputar gaji dan tunjangan para petiggi perusahaan plat merah ini kembali ramai pasca Ahok blak-blakan soal besaran pendapatannya sebagai Komisaris PT Pertamina (Persero).

“Rp 170 juta lah (per bulan) kira-kira,” ungkap Ahok dalam talkshow live IG TV Mata Najwa yang disiarkan Minggu (16/8/2020).

Ketika ditanya soal bonus tantiem (tahunan) yang kabarnya bisa sampai 50 kali gaji, Ahok tidak mengetahui pasti. Ia hanya mendengar kalau Direktur Utama Pertamina bisa mendapatkan bonus tantiem mencapai Rp 25 miliar.

“Katanya ya tantiem itu, dulu, Dirut bisa dapat Rp 25 miliar,” ucap mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Jangankan Bank Mandiri, gaji dan tunjangan Ahok pun masih kalah dibanding Komisaris PT Bank Rakyat Indonesia (Persero). BRI pada kuartal I-2020 tercatat total gaji dan tunjangan dewan komisarisnya mencapai Rp 8,65 miliar. BRI sendiri tercatat memiliki 10 orang komisaris, dengan 6 komisaris diberi tanda baru dapat menjalankan fungsi dan tugasnya setelah mendapatkan persetujuan dari OJK.

Jika dibagi rata dengan 10 orang komisaris itu maka gaji dan tunjangan komisaris BRI sebesar Rp 865 juta selama 3 bulan. Jika dibagi lagi maka per bulan komisaris BRI mendapatkan gaji dan tunjangan Rp 288 juta. Angka itu belum termasuk bonus dan tantiem, perhitungannya juga berdasarkan pukul rata semua komisaris BRI. (bid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here