bongkah.id – Raungan baling-baling helikopter memecah kesunyian pagi di lereng Gunung Bulusaraung, Minggu (18/1/2026). Kabut tipis yang menggantung di ketinggian 1.353 meter di atas permukaan laut perlahan tersibak, memperlihatkan pemandangan yang menjadi jawaban atas pencarian panjang sejak sehari sebelumnya: pesawat ATR 42-500 ditemukan dalam kondisi hancur berkeping.
Serpihan demi serpihan badan pesawat berserak di lereng gunung, seolah terhempas keras ke kontur batu dan hutan pegunungan. Tidak ada lagi bentuk utuh yang dapat dikenali. Yang tersisa hanyalah potongan badan, ekor, dan pecahan jendela yang terpisah oleh medan terjal.
Penemuan ini menjadi titik terang setelah operasi pencarian intensif dilakukan sejak laporan kecelakaan diterima pada Sabtu (17/1/2026) pukul 13.47 WITA. Sejak malam hingga pagi, puluhan personel SAR berjibaku dengan medan ekstrem di perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, berpacu dengan waktu dan cuaca yang sulit diprediksi.
Pada Minggu pukul 06.30 WITA, Tim Advance Search and Rescue Unit (AJU) bergerak lebih dulu menyusuri jalur pendakian Bulusaraung. Dengan membawa drone dan perlengkapan evakuasi, mereka melewati jalur sempit dan licin yang dikenal menguras tenaga. Secara paralel, helikopter dari Pangkalan Udara TNI AL menyisir area dari udara, menembus kabut yang datang dan pergi di punggung gunung.
Upaya gabungan darat dan udara itu membuahkan hasil kurang dari dua jam kemudian. Pada pukul 07.46 WITA, kru helikopter melaporkan temuan awal berupa serpihan kecil yakni pecahan jendela pesawat yang berkilau di lereng gunung. Tiga menit berselang, laporan lanjutan masuk: bagian badan dan ekor pesawat terlihat jelas dari udara, terpisah dan terhempas di sisi lereng yang berbeda.
“Badan pesawat dan ekor berada di lereng bagian selatan Gunung Bulusaraung, sementara dari arah puncak berada di sisi utara,” ujar Kepala Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan. Posisi temuan yang terpencar menguatkan dugaan bahwa pesawat mengalami benturan keras hingga terfragmentasi sebelum berhenti di lereng gunung.
Informasi tersebut langsung mengubah arah pergerakan tim darat. Tim AJU yang berada paling dekat diarahkan menuju titik serpihan terbesar. Namun, medan menuju lokasi bukan perkara mudah. Kemiringan tajam, vegetasi rapat, serta kabut yang tiba-tiba menutup pandangan memaksa tim bergerak perlahan dan penuh perhitungan.
“Akses menuju badan pesawat sangat ekstrem. Keselamatan personel menjadi prioritas sebelum penurunan dilakukan,” kata Andi Sultan.
Serpihan awal ditemukan di sekitar Pos 9 jalur pendakian, sementara bagian badan dan ekor pesawat berada lebih rendah di bawah lereng. Meski terdapat jalur alternatif yang lebih dekat, tim SAR memutuskan tetap menggunakan jalur pendakian resmi Bulusaraung, yang dinilai lebih aman untuk mobilisasi personel dan peralatan dalam jumlah besar.
Di kawasan gunung, sekitar 400 hingga 500 personel gabungan dari berbagai instansi dikerahkan. Mereka bergerak senyap namun terkoordinasi, saling bergantung satu sama lain di medan yang nyaris tak memberi ruang bagi kesalahan.
Operasi SAR ini mengombinasikan pencarian darat dan udara sebagai strategi yang, menurut Andi Sultan, mutlak diperlukan untuk menaklukkan karakter ekstrem Gunung Bulusaraung.
Kabut, lereng curam, dan puing-puing pesawat yang berserak menjadi tantangan sekaligus pengingat akan beratnya misi kemanusiaan yang dijalani, setapak demi setapak, di tengah sunyi senyap gunung. (anto)
.





























