bongkah.id – Pagi di Lombok Utara biasanya dimulai dengan aroma tanah basah sawah dan kebun. Selama puluhan tahun, padi, kelapa, dan hasil kebun lain menjadi sandaran hidup warga. Namun beberapa tahun terakhir, ada pemandangan yang mengundang rasa heran sekaligus harapan, pohon-pohon kurma tumbuh tegak di kaki Rinjani, berbuah lebat, dan kini mengubah nasib banyak keluarga petani.
Yang membuat kisah ini istimewa, semua bermula dari inisiatif rakyat. Bukan proyek besar dinas, bukan program top-down penuh spanduk dan seremoni. Petani Lombok Utara justru bergerak dengan modal keberanian dan rasa ingin tahu.
Mereka mencoba, gagal, mencoba lagi—sebuah eksperimen sunyi untuk menemukan sumber rezeki baru di tengah keterbatasan. Awalnya, menanam kurma terdengar seperti lelucon.
Kurma identik dengan gurun Arab, bukan dengan lahan yang selama ini ditumbuhi padi dan kelapa. Tapi alam Lombok Utara menyimpan kejutan. Sinar matahari melimpah, suhu kering yang stabil, serta tanah vulkanik kaya mineral perlahan menjawab keraguan itu. Pohon kurma tumbuh sehat, buahnya besar, dagingnya lembut, rasanya manis alami.
Puncak dari kerja keras itu datang pada 2025. Di tengah gurun Abu Dhabi, Uni Emirat Arab—panggung paling bergengsi dunia kurma—nama Lombok Utara disebut.
Kurma dari daerah yang dikenal dengan julukan Tiok Tata Tunak itu masuk Top 7 Best Dates pada Festival Kurma Dunia. Lebih membanggakan lagi, Lombok Utara menjadi satu-satunya wakil Indonesia di antara ratusan produsen dari berbagai negara.
Bagi petani lokal, prestasi itu bukan sekadar piagam. Itu adalah pengakuan bahwa jerih payah mereka sahih, bahwa tangan-tangan desa mampu menghasilkan produk kelas dunia.
Banyak dari mereka yang dulu ragu, kini tersenyum bangga. Tanaman yang pernah dianggap asing berubah menjadi sumber penghidupan dan martabat.
Pasar Domestik
Indonesia, sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim, memiliki pasar kurma yang sangat besar. Selama ini pasar domestik didominasi produk impor dari Timur Tengah.
Kurma Lombok membuka peluang emas, bukan hanya substitusi impor, tetapi juga pembuktian bahwa Nusantara mampu bersaing di komoditas yang selama ini dianggap “milik orang lain”.
Kini, mimpi para petani tak lagi berhenti di panen. Mereka mulai berbicara tentang kualitas, pengemasan, merek, bahkan ekspor.
Pemerintah daerah pun melihat potensi lebih luas. Yakni rencana jalur wisata kurma di sepanjang lingkar utara Lombok, di mana kebun-kebun kurma menjadi ruang belajar, rekreasi, dan sumber ekonomi baru.
Wisatawan bisa memetik buah langsung, mencicipi olahan sirup, kue, hingga minuman herbal berbahan kurma—sebuah ekosistem hijau yang menghubungkan pertanian, pariwisata, dan UMKM.
Kisah kurma Lombok Utara adalah pengingat penting, bahwa inovasi tak selalu lahir dari laboratorium atau meja rapat. Kadang ia tumbuh dari keberanian rakyat kecil yang mau mencoba di luar kebiasaan.
Di saat negara sering terlambat membaca peluang diversifikasi pangan, rakyat justru melangkah lebih dulu, membuktikan dengan hasil.
Dari ladang kecil di kaki Rinjani hingga panggung dunia di Abu Dhabi, kurma Lombok Utara membawa pesan sederhana namun kuat. Ketika ikhtiar, kearifan lokal, dan keberanian bersatu, rezeki bisa tumbuh di tempat yang tak pernah kita bayangkan. Dan dari desa, perubahan besar itu seringkali dimulai. (kim)




























