Seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) memperlihatkan surat kewaspadaan kesehatan usai mengikuti Rapid Test COVID-19 ketika tiba dari Malaysia di Bandara Internasional Kualanamu Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, Kamis (9/4/2020).

Bongkah.id – Angka pengangguran terbuka di Jawa Timur berpotensi meningkat pada medio 2021 ini. Lonjakan itu disumbang tenaga kerja Indonesia (TKI) yang pulang ke kampung halaman di Jatim, tapi belum bisa kembali bekerja ke luar negeri.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Timur (Jatim), Himawan Estu Bagijo menyatatakan, jumlah pengangguran terbuka dari kelompok TKI diperkirakan mencapai 40 ribu orang.  Angka tersebut terakumulasi sejak tahun 2020 sampai sekarang.

ads

“Semua PMI yang pulang ini gak bisa kembali (ke luar negeri). Kalau 40 ribu-an ya ada,” kata Himawan, Senin (14/6/2021).

Himawan menjelaskan, perkiraan jumlah 40 ribu itu berdasar data kepulangan TKI sejak tahun 2020.  Sementara jumlah PMI yang pulang ke 27 April-7 Juni 2021 berdasar data Disnakertrans Jatim mencapai 10.907 orang.

Mereka kebanyakan berasal dari Kabupaten Sampang 1.910 TKI, Pamekasan 1.004 orang dan Bangkalan 982 warga. Jumlah ini lebih banyak lagi jika melihat hasil rekap sejak pandemi COVID-19 merebak pada 2020 lalu.

Seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) memperlihatkan surat kewaspadaan kesehatan usai mengikuti Rapid Test COVID-19 ketika tiba dari Malaysia di Bandara Internasional Kualanamu Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, Kamis (9/4/2020).

Sebanyak 134 orang TKI yang terdampak ‘lockdown’ atau karantina wilayah COVID-19 dari Malaysia yang pulang melalui bandara Kualanamu tersebut menjalani Rapid Test untuk mengantisipasi pencegahan penyebaran COVID-19 sebelum kembali mengikuti proses karantina.

Menurut Himawan, para pekerja yang tidak bisa kembali bekerja ke luar negeri merupakan masalah yang sering terjadi sejak dulu.  Karena itu, ia menilai pemerintah kabupaten/kota seharusnya sudah bisa menyiapkan langkah antisipasi terhadap permasalahan tersebut agar dampaknya tidak merembet menjadi persoalan lain.

“Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota akan bekerjasama untuk menyelesaikan masalah ini. Kabupaten/kota juga harus mengerti kalau ini bisa meningkatkan angka pengangguran dan menurunkan tingkat partisipasi angkatan kerja,” jelasnya.

Pria yang juga menjabat Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Mojokerto ini menerangkan, salah satu cara yang dilakukan Disnakretrans Jatim adalah dengan mencatat data kepulangan TKI. Setelah itu, pihaknya bekerjasama dengan pemkab dan pemkot  menawarkan pelatihan kerja bagi mereka.

“Tapi cakupannya tidak bisa banyak, paling kalau pelatihan satu angkatan sebanyak 40 (TKI). Kalau 10 kali bisa menjangkau 400 orang, cuma satu% dari 40 ribu itu. Jadi kita berharap kabupaten/kota mempunyai pola yang sama seperti itu (menggelar pelatihan untuk TKI),” tandasnya.

Berdasarkan survei terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka di Jatim per Februari 2021 lalu mencapai 5,17% dari jumlah penduduk, naik 1,57% dibanding Februari 2020. Namun angka tersebut menurun 0,67% jika dibandingkan terhadap Agustus 2020.

“Dilihat dari daerah tempat tinggalnya, TPT di daerah perkotaan lebih tinggi dibanding perdesaan,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Dadang Hardiwan, Kamis (6/5/2021) lalu.

Baca: Jumlah Pengangguran Tembus 13,4 Juta Angkatan Kerja

Pada Februari 2021, TPT perkotaan sebesar 7,01%. Sedangkan TPT perdesaan sebesar 3,13%. Dibandingkan Februari 2020 atau sebelum pandemi COVID-19, terjadi kenaikan TPT baik di daerah perkotaan maupun perdesaan. Kenaikan TPT di perkotaan cukup tajam, yakni sebesar 2,34%.

“TPT laki-laki cenderung lebih tinggi dibanding perempuan. Pada Februari 2021, TPT laki-laki sebesar 5,88%. Jauh lebih tinggi dibandingkan TPT perempuan yang sebesar 4,17%,” ujar Dadang. (bid)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini