ILUSTRASI. Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Dr. Nico Afinta didampingi Pejabat Utama (PJU) Polda Jatim, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko, dan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jatim Heru Tjahjono saat mengunjungi Kampung Tangguh Semeru di Wonorejo, Kecamatan Tegalsari, Surabaya, Jum'at (08/01/2021).

bongkah.id – Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta mentargetkan bentuk sebanyak 7.043 Kampung Tangguh Semeru dalam 100 hari. Kebijakan itu untuk mengoptimalkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) secara Mikro, yang mulai diberlakukan pada 9 Februari hingga 14 hari kedepan. Pun berpotensi diperpanjang lagi. Ini karena masih banyaknya tingkat desa yang terkategori zona merah.

“Pada hari ini, saya mencatat Kampung Tangguh Semeru yang terbentuk di wilayah Jatim sudah mencapai 3.449 kampung. Jumlah itu merupakan pertumbuhan sangat signifikan dari sebelumnya yang tercatat 2.906 kampung. Insya Allah, minggu depan akan tambah 2.104 Kampung Tangguh Semeru baru,” kata Nico Afinta di Gedung Grahadi Surabaya, Selasa (9/2/2021).

ads

Konsep yang disapkan alumni Akademi Kepolisian (Akpol) 1992 itu dalam membentuk Kampung Tangguh Semeru, adalah melibatkan semua Polres yang ada di seluruh Jawa Timur. Yang berjulah sebanyak 39 Polres. Dia asumsikan, jika setiap Polres ditarget membentuk 2 hingga 3 kampung tangguh pada setiap minggunya. Maka kampung tangguh yang berpotensi terbentuk dapat mencapai sekitar 60 hingga 100 kampung. Asumsi tersebut dengan pertimbangan, ada setengah Polres yang mampu membentuk 2 kampung tangguh per minggu, karena kondisi geografi wilayah yang perlu ditoleransi.

Saat setiap minggu terbentuk 60 hingga 100 kampung tangguh, maka dalam satu bulan akan terbentuk 240 hingga 400 kampung tangguh. Dalam tiga bulan atau 90 hari akan terbentuk 720 hingga 1200 kampung tangguh. Sementara yang 10 hari akan terbentuk antara 75 hingga 120 kampung tangguh. Artinya dalam 100 hari ke depan, di Jatim akan bertambah kampung tangguh sebanyak 795 hingga 1320 kampung. Dengan jumlah kampung tangguh saat ini sebanyak 3.449 kampung, maka dalam waktu 100 hari berpotensi mencapai 4.244 hingga 4.769 kampung tangguh.

“Perhitungan konsep pembentukan kampung tangguh di Jatim itu dengan target 2 sampai 3 kampung per minggu. Namun, saya punya keyakinan jika semua Polres di Jatim mampu membentuk minimal 8 kampung tangguh per minggu, sehingga target 7.043 Kampung Tangguh Semeru dalam 100 hari dapat tercapai,” kata perwira tinggi salah satu kandidat Kabareskrim Mabes Polri ini.

Selain optimalisasi Kampung Tangguh Semeru, alumni SMA Negeri 2 Surabaya ini mengatakan, pihaknya juga akan memberikan edukasi. Juga, siap menindaklanjuti arahan Menteri Agama untuk bekerja sama menyosialisasikan protokol kesehatan melalui kegiatan agama, khususnya di hari Jumat. Ini karena Jawa Timur berbasis Islam kultural.

Tidak hanya itu, perwira berusia 49 tahun ini akan mengajak tokoh berpengaruh, tokoh formal, atau informal, komunitas dan organisasi untuk menyampaikan misi atau pesan terkait dengan protokol kesehatan dan 3M.

“Selain strategi preemtif, kami juga melakukan strategi preventif dengan pembagian masker, dan strategi penindakan hukum dengan melakukan operasi yustisi, bekerja sama dengan TNI dan Satpol PP. Tentunya akan melaksanakan PPKM di lingkungan RT dengan titik utama di zona merah dan oranye,” tambahnya.

Kebijakan lain dalam penanggulangan dan memutus rantai penyebaran Covid-19 di Jatim, Nico memiliki kebijakan mendorong personelnya yang sembuh dari infeksi Covid-19 untuk melakukan program donor plasma konvalesen di kantor Palang Merah Indonesia (PMI), yang ada di kabupaten/kota se Jatim.

Sedangkan Guberjur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat meninjau Kampung Tangguh Semeru di Desa Ngale, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, Minggu (7/2/2021), menegaskan jika pembentukan Kampung Tangguh Semeru yang dimotori Polda Jatim merupakan embrio Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dalam skala mikro yang dicanangkan oleh Presiden RI Joko Widodo guna menekan kasus Covid-19.

“Jadi, Pemprov Jatim berkomitmen melaksanakan PPKM mikro dengan mendorong kian banyaknya Kampung Tangguh Semeru sebagai salah satu embrio melawan Covid-19. Buktinya program Kampung Tangguh Semeru yang dimiliki Jatim sejak delapan bulan lalu, kini diadopsi oleh mayoritas pemprov yang ada di Indonesia,” kata mantan Menteri Sosial ini.

Menurut dia, Kampung Tangguh Semeru sendiri merupakan inovasi yang diciptakan Polda Jatim bersama dengan dukungan Pemprov Jatim, Kodam V/Brawijaya, pemerintah kota/kabupaten se-Jatim, dan perguruan tinggi. Bersepakatan menciptakan satuan terkecil berbasis partisipasi masyarakat dalam melawan penyebaran Covid-19.

Diakui, inovasi Kampung Tangguh Semeru itu sesuai dengan rekomendasi WHO. Badan kesehatan dunia itu menegaskan, penanganan Covid-19 akan sukses jika melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Basis program kampung tangguh adalah RT, RW, kelurahan, maupun desa.

“Kampung tangguh yang sudah ada di Jatim ini adalah suatu bentuk kearifan lokal, yang akan membantu masyarakat melaksanakan edukasi protokol kesehatan Covid-19,” katanya.

Karenanya, Pemprov Jatim berkomitmen untuk melaksanakan PPKM mikro dengan modal sosial yang telah dipupuk sejak delapan bulan lalu, yakni melalui satuan kampung tangguh.

Berdasarkan Inmendagri Nomor 3 tahun 2021, sebagaimana diketahui Jawa Timur termasuk dalam daerah yang mendapatkan instruksi untuk pelaksanaan PPKM mikro dengan daerah prioritas Malang Raya, Surabaya Raya, dan Madiun Raya. Pemberlakuan PPKM mikro akan dilaksanakan tanggal 9-22 Februari 2021.

“Kami harapkan pelaksanaan PPKM mikro ini mampu berlangsung lancar di Jatim. Tentunya dengan dukungan seluruh elemen, baik TNI, Polri, serta masyarakat. Utamanya, dengan terus memperkuat dan memberdayakan keberadaan kampung tangguh yang memang sudah kita terapkan di Jatim,” kata Khofifah.

Pihaknya optimistis pelaksanaan PPKM mikro di Jatim akan signifikan menekan kasus COVID-19. Hal itu melihat dari kegiatan PPKM biasa yang dilakukan sejak tanggal 11-25 Januari 2021. Dilanjutkan PPKM jilid II pada 26 Januari-8 Februari 2021. Secara faktual mampu mengurangi angka konfirmasi positif Covid-19 di Jatim.

Selama PPKM terjadi penurunan zona merah di Jatim hingga tinggal dua daerah. Selain itu, bed occupancy ratio (BOR) isolasi biasa juga menurun, dimana saat PPKM dimulai tanggal 11 Januari tercatat 79 persen saat ini turun menjadi 55 persen. Kemudian, BOR ICU semula tercatat 73 persen, saat ini menjadi 67 persen. (ima)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini