RIBUAN meme bertebaran mengkritisi perilaku Presiden AS Donald Trump, yang hobi tebar hoaks di media sosial. Para pembuat meme mengaku sangat malu pada masyarakat dunia, karena perilaku kepala negaranya yang tidak cerdas dan mencerminkan sosok negarawan sejati.

bongkah.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kian populer di mata masyarakat Amerika Serikat. Tidak hanya gaya berpolitiknya yang ala “Dewa Mabuk”. Bermain politik tanpa rasa malu. Tidak cerdas. Pun ngawurisasi. Namun, kini dia populer sebagai “Penebar Hoaks Covid-19 Terbesar di Dunia”. Sebuah predikat yang kian membuat malu masyarakat Amerika Serikat.

Penilaian tersebut berdasar kesimpulan riset para peneliti di Cornell University. Mereka menganalisis sekitar 38 juta artikel tentang pandemi Covid-19 yang dimuat media-media berbahasa Inggris di seluruh dunia. Tidak hanya di media cetak. Juga di media online. Hasil studi yang dipublikasikan pada 1 Oktober 2020 ini sebagaimana dilansir Nawala Tempo yang diterima bongkah.id, Sabtu (9/10/2020), sebanyak 38 persen berita yang membahas misinformasi seputar Covid-19 merujuk pada Trump.

“Kejutan terbesar adalah Presiden AS merupakan pendorong utama dan terbesar informasi palsu seputar Covid-19. Hal ini mengkhawatirkan karena terdapat implikasi kesehatan yang mengerikan di dunia nyata,” ,” kata Sarah Evanega, penulis utama studi tersebut, yang juga direktur Cornell Alliance for Science.

Studi itu mengidentifikasi 11 topik misinformasi, termasuk berbagai teori konspirasi, seperti yang muncul pada Januari lalu, bahwa “pandemi Covid-19 dibuat oleh Partai Demokrat”, bertepatan dengan sidang pemakzulan Trump”.

Sejauh ini, topik misinformasi yang paling umum adalah “obat ajaib”, termasuk obat antimalaria dan disinfektan yang dipromosikan Trump sebagai obat potensial untuk Covid-19. Menurut studi tersebut, topik “obat ajaib” menyumbang lebih banyak misinformasi ketimbang gabungan dari 10 topik lainnya.

Saking seringnya Trump melontarkan informasi menyesatkan seputar Covid-19, saat ia dan istrinya, Melania Trump, dinyatakan positif Covid-19 pada 2 Oktober 2020. Banyak warganet tidak percaya. “Apakah Trump berbohong, sehingga dia bisa berpura-pura telah pulih dan kemudian membuktikan bahwa Covid-19 tidak berbahaya? Atau mungkin dia mengarang cerita untuk mengalihkan perhatian publik dari penampilannya dalam debat calon Presiden AS, yang kacau-balau?” demikian isu liar yang beredar.

Isu ini tentu belum terbukti kebenarannya. Tapi, yang terjadi, empat hari setelah dinyatakan positif Covid-19. Pun dirawat di pusat kesehatan militer Walter Reed, Trump mencuit di Twitter, “Jangan takut dengan Covid-19. Jangan biarkan Covid-19 mendominasi hidupmu.” Pernyataan ini memang menuai cemoohan, tapi juga mendorong munculnya klaim-klaim, bahwa Covid-19 tidak seserius yang ditunjukkan oleh bukti-bukti medis.

Mengutip tweet Trump, DeAnna Lorraine, tokoh NewsMax yang ikut memperkuat misinformasi Covid-19, memberi selamat kepada presiden karena telah “membuat shamdemic terbuka lebar”. Sementara Nick Short, tokoh lembaga pemikir konservatif Claremont Institute, mencuit, “Jangan takut pada Covid-19, ya, anggap itu serius, tapi lebih takutlah pada mereka yang berkuasa yang telah menggunakan Covid-19 sebagai alat untuk mengendalikan hidup Anda.”

Tak berhenti sampai di situ, pada hari yang sama, Trump mengunggah pernyataan di Facebook dan Twitter yang membandingkan Covid-19 dengan flu. Juga, menentang lockdown. Dia menulis, “Musim flu akan datang! Banyak orang meninggal, karena flu setiap tahun, terkadang lebih dari 100 ribu meskipun telah divaksinasi. Apakah kita akan menutup negara kita? Tidak, kita telah belajar untuk hidup bersamanya, sama seperti kita belajar untuk hidup bersama Covid-19, di sebagian besar populasi jauh lebih mematikan!”

Twitter menyembunyikan cuitan tersebut di balik peringatan “menyebarkan informasi yang menyesatkan dan berpotensi membahayakan”. Sementara Facebook menghapus unggahan Trump itu. “Kami menghapus informasi yang keliru tentang tingkat keparahan Covid-19,” ujar manajer komunikasi kebijakan Facebook, Andy Stone.

Saat ini, tingkat kematian yang pasti untuk Covid-19 belum diketahui. Namun, menurut John Hopkins University, tingkat kematian Covid-19 jauh lebih tinggi. Kemungkinan 10 kali atau lebih dari kebanyakan jenis flu lainnya.

Organisasi cek fakta AS, FactCheck, telah memverifikasi klaim dalam cuitan-cuitan Trump itu. Menurut laporan FactCheck, tidak semua orang bisa mengalahkan atau selamat dari Covid-19. Di seluruh dunia, lebih dari 1 juta orang meninggal, karena Covid-19. Terkait jumlah kematian akibat flu, dalam satu dekade terakhir, yang tertinggi terjadi pada 2017-2018. Sekitar 61 ribu kematian, tak sampai 100 ribu seperti yang diklaim oleh Trump.

Menurut wakil dekan John Hopkins Bloomberg School of Public Health, Joshua Sharfstein, informasi yang jelas, ringkas, dan akurat adalah dasar dari komunikasi yang efektif di tengah wabah penyakit menular. Dia mengatakan, informasi palsu merupakan salah satu alasan utama AS tidak bisa melewati pandemi ini sebaik negara lain. Dengan tidak adanya pengobatan atau vaksin, pesan yang jujur dan konsisten sangat penting.

“Inilah yang kita butuhkan untuk menyelamatkan nyawa. Jika tidak, Anda akan mendapatkan lebih banyak infeksi dan kematian,” kata Joshua Sharfstein. (ima)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here