
Bongkah.id – Suasana di Universitas Nusantara PGRI Kediri memanas ketika ratusan mahasiswa menggelar aksi protes di halaman kampus pada Senin, (19/12/24) pagi. Mereka menuntut transparansi anggaran dan percepatan pembangunan Gedung Cakrawala Mandala, gedung belajar tujuh lantai yang mangkrak selama enam bulan terakhir.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa membakar ban sebagai simbol kekecewaan mereka. Selain masalah gedung, mahasiswa juga membawa tiga tuntutan tambahan, yakni pelebaran musala di Kampus 1, pencairan dana kemahasiswaan yang tertunda, dan perbaikan sistem pelayanan kampus.
Kekecewaan atas Pembangunan Gedung Mangkrak.
Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UN PGRI Kediri, Lucky Alan Musthofa, mengungkapkan kekecewaan mahasiswa atas lambatnya progres pembangunan Gedung Cakrawala Mandala. “Peletakan batu pertama sudah dilakukan sejak 2022 dan dijanjikan selesai dalam dua tahun. Namun hingga kini, tidak ada perkembangan. Ini sangat mengecewakan,” tegasnya.
Menurut Lucky, gedung yang direncanakan menghabiskan anggaran sebesar Rp13 miliar ini terhambat akibat masalah pengelolaan dana. Yayasan kampus disebut harus melakukan pinjaman dana melalui rasionalisasi anggaran, yang sumber utamanya berasal dari Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa.
“Kami ingin transparansi penuh terkait penggunaan dana. Mahasiswa harus tahu bahwa uang yang kami bayarkan dikelola dengan benar,” tambah Lucky.
Audiensi dengan Yayasan dan Respons Rektorat
Dalam audiensi terbuka saat aksi berlangsung, Ketua Yayasan UN PGRI Kediri berjanji segera melunasi utang pembangunan yang tertahan di bank. Hal ini diharapkan mempercepat proses pembangunan fasilitas kampus yang selama ini terhenti.
Sementara itu, Rektor UN PGRI Kediri, Zainal Afandi, menyatakan bahwa pembangunan fasilitas kampus merupakan tanggung jawab yayasan. Namun, ia menegaskan bahwa rektorat tetap berkewajiban merespons keluhan mahasiswa.
“Kami sudah mengajukan pembangunan Gedung Cakrawala Mandala kepada yayasan, tetapi ada kendala yang sulit direalisasikan dengan cepat. Meski begitu, kami berkomitmen untuk menyelesaikan masalah ini,” ujarnya.
Tuntutan Tambahan: Musala dan Dana Ormawa
Mahasiswa juga menuntut pelebaran musala di Kampus 1 yang saat ini tidak memadai untuk menampung jamaah salat Jumat. Selain itu, mereka mendesak pencairan dana kemahasiswaan yang tertunda, yang berdampak pada aktivitas organisasi mahasiswa.
Lucky menegaskan bahwa jika tuntutan mereka tidak segera dipenuhi, aksi lanjutan dengan skala lebih besar akan digelar. “Kami beri waktu untuk pihak yayasan dan rektorat. Jika tidak ada tindak lanjut, kami akan kembali turun ke jalan,” ancamnya.
Komitmen Penyelesaian
Zainal Afandi mengaku prihatin atas situasi ini, terutama karena jumlah mahasiswa yang terus meningkat hingga 7.000 orang belum diimbangi dengan fasilitas yang memadai. “Tuntutan mahasiswa sangat rasional. Kami akan meningkatkan koordinasi dengan yayasan agar masalah ini segera teratasi,” tutupnya.
Aksi ini menjadi pengingat bagi pihak kampus untuk lebih responsif terhadap kebutuhan mahasiswa, yang berharap pendidikan tinggi tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga fasilitas yang layak untuk mendukung proses pembelajaran. (wan)