HERBAL kunyit, meniran, dan sambiloto memiliki manfaat mengurangi efek samping dari obat yang diresepkan dokter untuk pasien Covid-19 bergejala ringan, yang dikeluhkan berefek samping rasa mual. ini karena ketiga herbal tersebut memiliki manfaat mengurangi mual, antiperadangan, dan meningkatkan imunitas seseorang. (net)

bongkah.id – Saat ini Indonesia, bahkan dunia tengah diserang pandemi Covid-19. Pandemi yang datang sejak akhir 2019. Pandemi yang cukup banyak membawa kematian. Semua itu terjadi, karena pandemi ini belum ada obatnya.

Harapan satu-satunya hanya vaksin. Untuk menjadi dewa penyelamat. Bukan untuk mengobati penderita Covid-19. Namun, untuk meningkatkan imunitas diri seseorang. Untuk melawan serangan Covid-19. Yang diyakini mayoritas ilmuwan sebagai virus. Sementara ilmuwan Rusia meyakini sebagai bakteri, sebagaimana hasil otopsi mereka terhadap jenazah pasien Covid-19.

ads

Akibat ketidak pastian dunia medis terhadap Covid-19, masyarakat dicengkeram rasa ketakutan. Pun keputus-asaan. Kendati demikian, saat seseorang terkonfirmasi positif Covid-19 dari hasil tes swab PCR yang dijalani, mereka akan berserah nasib pada rumah sakit. Untuk dirawat sebagai penderita Covid-19. Sikap itu yang membuat rumah sakit over kapasitas, seperti yang tejadi saat ini.

Padahal tidak harus demikian. Sebab status terkonfirmasi Covid-19 ada beberapa tahap. Yakni tahap tanpa gejala (gejala ringan), gejala sedang, dan gejala berat. Aturannya hanya status sedang  dan berat yang berkesempatan mendapat perawatan lanjutan di rumah sakit. Status tanpa gejala atau ringan, cukup menerapkan isolasi mandiri (isoman).

Pada status isoman ini, terkonfirmasi positip Covid-19 dalam pengawasan Puskesmas di wilayah tempat tinggalnya. Dalam status ini, sesungguhnya ada beberapa jenis herbal, yang dapat dikonsumsi untuk mempercepat penyembuhan diri. Sehingga terkonfirmasi negatif Covid-19 pada dua kali tes swab PCR, sebagaimana agenda yang ditetapkan dunia medis.

Konsumsi herbal bagi terkonfirmasi positif Covid-19 tanpa gejala, menurut Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) Dr. (Cand) dr. Inggrid Tania, tidak ada larangan. Secara medis diizinkan, senyampang berkonsultasi dengan dokter yang mengawasi kesehatan pasien.

Mengkonsumsi herbal kunyit dan sambiloto, misalnya. Ini karena kedua herbal tersebut dapat membantu mengurangi efek samping dari obat yang diresepkan dokter. Yakni rasa mual yang kerap dikeluhkan beberapa pasien Covid-19 bergejala ringan selama masa perawatan mereka.

“Kadang obat medis yang diresepkan dokter untuk pasien Covid-19 bergejala ringan memiliki  efek samping. Misalnya mual. Efek itu dapat dinetralisir dengan herbal bersifat mengurangi mual, antiperadangan, dan meningkatkan imunitas, seperti kunyit, meniran, dan sambiloto,” kata Tania.

Manfaat berkonsultasi dengan dokter yang mengawasi, dikatakan, membuat konsumsi herbal akan sesuai dengan dosis obat medis yang diminum pasien. Selain itu, waktu meminum herbal biasanya ditetapkan dokter pengawas, selang waktu 1-2 jam dengan obat medis.

Sedangkan herbal yang menjadi rekomendasi sebagian orang, adalah Qusthul Hindi (Saussurea costus). Yakni spesies tumbuhan dalam genus Saussurea dari India dan Pakistan. Herbal dalam bentuk bubuk ini, diyakini memberikan efek antiinflamasi, antimikroba, dan analgesik (penghilang rasa sakit) yang kuat dan bermanfaat bagi kesehatan.

Dalam jurnal International Immunopharmacology pada Juli 2012 lalu, Saussurea mengandung senyawa aroma terpene yang dapat mengurangi rasa sakit dan peradangan. Yakni dengan menekan enzim siklooksigenase (COX). Enzim sama seperti target obat antiinflamasi nonsteroid, seperti Advil (ibuprofen) dan Aleve (naproxen).

Qusthul Hindi, menurut Tania, boleh dipakai untuk pengobatan. Namun, bukan untuk pencegahan. Herbal yang bisa dikonsumsi tiga kali sehari ini dapat mengurangi gejala demam, batuk, dan sakit tenggorokan.

Pasien dapat meminumnya dengan melarutkan ke dalam air. Takaran yang disarankan 1/2 – 1 sendok teh Qusthul Hindi dilarutkan dalam segelas air. Selanjutnya diaduk dan dibiarkan hingga ada endapan. Pasien bisa meminum bagian atasnya. Bukan endapannya. Rasa herbal ini cenderung pahit. Dapat ditambahkan madu untuk mengurangi rasa pahitnya.

Selain Qusthul Hindi, ada juga rekomendasi ramuan air hangat dan garam. Menurut Tania, ramuan ini bisa untuk berkumur. Ini karena sifatnya sebagai antiseptik dan membantu meredakan nyeri. Misalnya pada tenggorokan.

Sedangkan bagi pasien Covid -19 bergejala ringan yang memiliki masalah lambung dan tak ingin semata mengandalkan obat medis, dapat mengkonsumsi kunyit, temulawak dan meniran. Ini karena kunyit mengandung senyawa yang disebut kurkumin. Sebuah tinjauan pada tahun 2013 menyimpulkan, kurkumin memiliki aktivitas antiinflamasi dan antioksidan yang dapat membantu mencegah sakit maag. Namun, penelitian ini masih terbatas sehingga memerlukan studi lebih lanjut.

Ironisnya, herbal juga berpeluang memicu masalah pada pasien dengan riwayat sakit maag (sindroma dispepsia). Menurut Tania, status tersebut tergantung pada jumlah dan jenis herbal yang dikonsumsi, seberapa berat sakit maag-nya, dan sensitifitas lambung terhadap suatu herbal tertentu.

Herbal jahe yang dapat membantu mengatasi keluhan sakit maag, mual, dan nyeri ulu hati. Pada pasien dengan lambung sensitif, rasa panas jahe yang berasal dari shogaols (yang sifatnya panas) berpeluang memicu kambuhnya sakit maag. Agar tak memicu masalah khusus tersebut, secara medis disarankan mengkonsumsi herbal jahe itu setelah makan. (bid-03/bersambung)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini