Heti Palestina Yunani (inzet) dipilih oleh 13 pengurus Dewan Kebudayaan Surabaya sebagai ketua.

bongkah.id – Proses transformasi Dewan Kebudayaan Surabaya (DKS) memasuki tahap penting dengan terbentuknya struktur kepengurusan. Tahapan ini merupakan awal transformasi lembaga sebagai mitra strategis Wali Kota Surabaya, dimulai.

Dalam pemilihan internal yang berlangsung melalui mekanisme voting terbuka, Heti Palestina Yunani terpilih sebagai ketua DKS kemudian dia menunjuk Probo Darono Yakti sebagai sekretaris.

ads

Pemilihan berlangsung di ruang Disbudporapar, Gedung Siola, Rabu, 4 Maret 2026, siang.

Keputusan pemilihan ketua diambil melalui pemungutan suara terbuka oleh 13 anggota pengurus DKS. Mereka adalah Achmad Zaki Yamani, Bagus Heri Setiadji, Dhany Nartawan, Hery ‘Lentho’ Prasetyo, Heroe Boediarto, Heti Palestina Yunadi, Probo Darono Yakti, Ris Handono, Rojil Nugroho Bayu Aji, Rokim Dakas, Sekar Alit Santya Putri serta Yogi Ishabib.

Ketigabelas nama itu merupakan hasil seleksi dari sekitar 140 pendaftar yang kemudian mengerucut hingga dinyatakan lolos fit and proper test oleh tim penguji yang diinisiasi Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya (Disbudporapar).

Dalam proses pemilihan ketua, terdapat empat kandidat yang diusulkan, yakni Heti Palestina Yunani, Heri “Lentho” Prasetyo, Probo Darono Yakti, dan Heroe Boediarto. Pada putaran awal, Heti dan Heri Lentho sama-sama memperoleh lima suara.

Menariknya, saat proses pemilihan berlangsung Heti mengikuti rapat secara daring melalui Zoom dari atas kapal dalam perjalanan pulang dari Ambon. Pada saat penentuan itulah Heti menggunakan hak suaranya untuk memilih dirinya sendiri, sehingga unggul satu suara dari Heri Lento.

Tentang Kesanggupan dan Komitmen

Menanggapi terpilihnya dirinya sebagai ketua, Heti mengaku tidak pernah membayangkan akan menerima amanah tersebut.

“Secara pribadi saya tidak menyangka akan dibawa sampai menerima tugas ini. Semula ikut musyawarah saja tidak bisa karena hendak ke Ambon, tapi bisa saya tunda,” ujar wartawan Disway tersebut.

Ia menuturkan, pada tahap awal pemilihan pengurus melalui pemungutan tiga suara, dirinya justru memberikan seluruh suara kepada kandidat lain.

“Saya tidak menggalang suara dan tidak mempengaruhi siapa pun untuk memilih. Tapi ternyata tetap mendapat dukungan dan masuk tiga besar,” katanya.

Namun ketika proses penentuan ketua berlangsung, ia memutuskan menggunakan hak suaranya sendiri.

“Pada saat penyusunan struktur baru saya gunakan hak suara saya yang menentukan karena itu sudah menyangkut kesanggupan dan komitmen,” jelas alumni Fakultas Antropologi Universitas Airlangga tersebut.

Menurut Heti, posisi ketua dalam DKS bukanlah bentuk kompetisi kekuasaan.
“Ini bukan persaingan menjadi ketua, melainkan fungsi koordinatif saja. Sebab 13 orang ini akan bekerja secara kolektif dan kolaboratif,” tuturnya.

Memasuki Era Baru Kebudayaan

Heti juga menegaskan bahwa terbentuknya kepengurusan baru menandai babak transformasi Dewan Kebudayaan Surabaya.

“Dengan terbentuknya DKS, Surabaya diharapkan memasuki era baru yang diikuti dengan transformasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, paradigma kerja DKS saat ini berbeda jauh dibandingkan sebelumnya, terutama terkait tugas dan kewenangannya.

Dalam konsep baru tersebut, DKS diposisikan sebagai mitra strategis wali kota dalam merumuskan kebijakan kebudayaan.

Lembaga ini juga dapat melakukan pengawasan, pemantauan, serta evaluasi terhadap implementasi kebijakan kebudayaan di Kota Surabaya.

Struktur organisasi DKS terdiri atas ketua, sekretaris, serta bidang kuratorial dan kebijakan. Sebagai mitra pemerintah kota, fokus kerja lembaga ini adalah merumuskan kebijakan dan mendorong pemberdayaan komunitas pekerja kreatif.

Karena perannya bersifat konseptual dan strategis – secara kelembagaan – Dewan Kebudayaan Surabaya tidak diperkenankan menyelenggarakan kegiatan acara secara langsung.

Selain itu, dalam struktur kelembagaan tidak terdapat posisi bendahara. Disbudporapar pun menyatakan tidak ada dana hibah bagi kelembagaan DKS.

Sungguhpun begitu Dewan Kebudayaan Surabaya diharapkan mampu menjadi ruang koordinasi dan pemikiran strategis bagi pengembangan ekosistem kebudayaan kota. (kim)

74

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini