bongkah.id – Di balik lorong-lorong putih RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu (Syamrabu) Bangkalan, Madura, suara mesin bekerja nyaris tanpa jeda. Lengan-lengan robotik bergerak presisi, menyusun dan mendistribusikan obat dengan kecepatan yang sulit disaingi tangan manusia.
Di ruang tunggu farmasi, antrean pasien mengalir lebih tenang. Tak lagi diwarnai wajah lelah menunggu berjam-jam.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa berdiri menyaksikan langsung denyut baru pelayanan kesehatan di Madura, Senin (2/2/2026).
Bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang harapan bahwa rumah sakit daerah pun mampu melompat jauh, efisien, dan tetap berpihak pada rakyat kecil.
“Kabar bahwa di RSUD Syamrabu ini surplus lewat BPJS Kesehatan tentu jadi angin segar,” ujar Khofifah.
Di tengah isu penyesuaian anggaran nasional, menurutnya, capaian tersebut mencerminkan kreativitas dan ketangguhan pemerintah daerah dalam mengelola keuangan tanpa mengorbankan kualitas layanan.
Surplus keuangan yang dicatatkan RSUD Syamrabu melalui kerja sama dengan BPJS Kesehatan bukan sekadar angka di laporan neraca.
Ia menjadi penanda bahwa manajemen rumah sakit daerah mampu berjalan efisien di tengah kompleksitas pembiayaan kesehatan nasional. Sebuah tantangan yang selama ini kerap membuat rumah sakit publik terseok.
Namun, sorotan Khofifah tak berhenti pada soal keuangan.
Di balik layar layanan farmasi, teknologi Farmasi Robotik dengan sistem otomatisasi penyimpanan dan pendistribusian obat CONSIS telah mengubah ritme kerja para tenaga kesehatan.
“Digitalisasi terjadi di semua lini. Tadi kita lihat bersama bagaimana kecepatan pengambilan obat, dari resep sampai diterima pasien. Sangat bagus dan sangat advance,” katanya memuji.
Bagi pasien seperti Siti Aminah, warga Bangkalan yang rutin berobat menggunakan BPJS, perubahan itu terasa nyata.
“Dulu bisa menunggu lama sekali ambil obat. Sekarang cepat, tidak sampai lama duduk,” tuturnya pelan sambil menggenggam kantong obatnya.
Waktu tunggu yang lebih singkat berarti lebih sedikit energi terkuras, dan lebih banyak waktu untuk pulang, beristirahat, dan sembuh.
Khofifah menilai teknologi tersebut memangkas waktu peracikan dan pengambilan obat secara signifikan. Risiko kesalahan manusia dapat ditekan, sementara antrean pasien berkurang drastis.
“Semua dilakukan dalam hitungan detik,” ujarnya.
Lebih dari sekadar inovasi alat, Khofifah berharap langkah RSUD Syamrabu Bangkalan menjadi contoh bagi rumah sakit umum daerah lain di Jawa Timur.
Investasi pada teknologi medis, menurutnya, harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan orientasi pelayanan yang tetap berpusat pada masyarakat.
Di Bangkalan, robot-robot farmasi kini bekerja tanpa lelah. Tetapi yang sesungguhnya bergerak maju adalah harapan bahwa layanan kesehatan publik bisa dikelola dengan sehat, modern, dan tetap manusiawi. (anto)




























