ILUSTRASI. Cita rasa kopi lokal hasil tanam petani Desa Argotirto, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, memiliki potensi berkibar ditingkat dunia.

bongkah.id – Fluktuatifnya harga biji kopi (green bean) yang kian diperparah adanya pandemi covid-19, membuat galau para petani biji kopi di Desa Argotirto, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Keresahan tersebut yang merangsang tim pengabdian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk melakukan inovasi. Sehingga meningkatkan harga jual green bean di tingkat petani.

Program pengabdian yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM tersebut, memulai upaya peningkatan harga jual green bean dengan edukasi mengenai biji kopi. Lokasi pilihan tim pengabdian yang terdiri dari Novi Puji Lestari, Fika Fitriasari, Mochamad Rofik dan Wofi Toyibatul Chusnah itu, adalah Desa Argotirto. Desa yang membuktikan sebagai salah satu penghasil komoditas kopi robusta terbesar di Malang Selatan.

“Kami melihat Robusta Argotirto memiliki karakteristik sangat unik. Berbeda dengan kopi robusta daerah lain. Namun, rasa tersebut belum benar-benar tereksplorasi, karena proses pemilahan dan roasting yang kurang tepat. Karena itu, kami memulai dari edukasi sorting process,” kata dosen pengampu mata kuliah Matematika Ekonomi dan Statistika Bisnis UMM, Mochamad Rofik dalam keterangan pres yang diterimah bongkah.id, Jumat (24/7/2020).

Proyek pengabdian tersebut, menurut Rofik, bekerja sama dengan roaster berpengalaman. Tujuannya, kian menguatkan cita rasa Kopi Argotirto. Tekniknya, biji kopi yang telah melewati proses sortir, dikirimkan ke roaster terbaik tersebut.

Sedangkan jenis kopi yang di tanam di Desa Argotirto, adalah jenis Robusta, Honey Processed, dan Dark Roasted. Karena itu, kopi Argotirto merupakan nano lot Kopi Dampit grade A.

Sementara itu, Novi Puji Lestari menerangkan, selain kualitas cita rasa, brand dan packaging merupakan faktor penting dalam keberhasilan pemasaran. Karena itu, setelah memastikan memiliki kopi dan proses yang baik, maka tim akan mengerjakan aspek branding dan packaging.

Novi juga bercerita, dari Focus Group Discussion (FGD) yang diadakan dengan beberapa pakar dan petani, akhirnya mereka mengembangkan brand Argotirto dan Aksara. Kandungan Argotirto dan Aksara pada prinsipnya sama.

“Namun, Argotirto memiliki 10-12 persen kandungan peaberry atau kopi lanang, yang mampu meningkatkan stamina. Kelebihan itu membuat konsentrasi kaffein yang dimiliki lebih tinggi. Karena itu, tidak bisa dikonsumsi harian,” kata dosen Manajemen Keuangan tersebut.

Kopi Argotirto produksi petani Desa Argotirto memiliki potensi berbicara ditingkat dunia. Selain cita rasanya yang khas, jenis kemasan ini memiliki konsentrasi kaffei kadar tinggi. Cocok untuk para penikmat dan pecandu kopi.

Keistimewaan dari kopi Argotirto itu, ditambahkan, patut dieksplorasi maksimal sebagai salah satu mascot menggebrak pasar. Argotiro harus menjadi solusi untuk menikmati kopi robusta tanpa mengurangi taste, dengan manfaat tambahan untuk meningkatkan stamina.

Tim pengabdi lainnya, Fika Fitriasari yang juga dosen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM bertanggung jawab untuk mengembangkan jejaring pemasaran. Fika dibantu oleh Wofi Toyibatul Chusnah yang tercatat masih aktif sebagai mahasiswi Kesejahteraan Sosial FISIP UMM. Proses pengembangan jejaring pemasaran terus mereka lakukan untuk meningkatkan omset.

“Saat ini kami sudah memiliki beberapa agen, reseller dan juga dropshipper. Demikian pula bekerjasama dengan beberapa minimarket lokal,” ungkap Wofi yang kelahiran Tulungagung itu. (ima)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here