Bongkah.id – Bulan Ramadan nan suci dan penuh berkah akan pergi hari ini. Meninggalkan kaum muslim yang telah melakukan ibadah wajib puasa Ramadan selama 30 hari penuh.

Ini kesekian kalinya kaum muslim di Indonesia dapat melakukan puasa Ramadan sebulan penuh. Ini karena para perukyat tidak melihat hilal. Demikian pula metode hisab (perhitungan) yang menetapkan hilal di bawah ufuk.

“Kepergian bulan Ramadan pada malam ini, saya yakini akan ditangisi para ulama dan muslim beriman, apalagi ditengah kondisi pandemik Covid-19 yang merepotkan ini. Mereka semua menangis, karena ditinggalkan sebuah bulan yang kemuliaannya dijamin Alloh. Semua amal dilipat gandakan. Semua permohonan ampun dikabulkan. Semua doa baik akan diijabahi secara cepat,” kata ulama nyentrik yang lebih senang disebut guru ngaji kampung, Gus Rachmat saat dihubungi ponselnya oleh Bongkah.id, Sabtu (23/05/2020) sore.

Kesedihan para ulama dan kaum muslim beriman, menurut dia, karena kekhawatiran mereka tidak akan bertemu lagi dengan bulan Ramadhan pada tahun 2021. Ini karena umur setiap manusia sudah ditentukan Alloh.

Pada saat tiba waktunya, maka Malaikat Izroil dengan Al-Maut ditangannya akan datang untuk mencabut nyawa setiap mahluk yang hidup. Waktunya tak bisa dikompromi. Diundur agar manusia dapat menyelesaikan hajatnya, yang belum tuntas.

Karena itu, para ulama dan setiap muslim beriman berharap hendaknya Alloh SWT memberikan kesempatan. Tidak menjadikan Ramadhan tahun ini sebagai Ramadan terakhirnya. Namun, diberi kesempatan bertemu lagi dengan bulan Ramadan pada tahun depan.

Sehingga merasakan kemuliaan Ramadan. Beribadah puasa pada siang hari, dengan beragam hadiah yang dijanjikan Alloh. Harapan itu yang membuat para ulama dan stiap muslim beriman bersedih saat berpisah dengan Ramadhan, seperti yang terjadi malam ini.

Kendati demikian, dikatakan ayah dari tiga anak itu, Rasulullah Muhammad SAW memproyeksikan rasa cinta dan sayangnya pada umat muslim dengan memberikan sebuah doa, yang dicontohkan saat Rasulullah akan berpisah dengan Ramadhan.

Doa sebagai amalan yang akan memberikan kebaikan bagi umat muslim itu bacaanya:

للَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ صِيَامِنَا إِيَّاهُ، فَإِنْ جَعَلْتَهُ فَاجْعَلْنِيْ مَرْحُوْمًا وَ لاَ تَجْعَلْنِيْ مَحْرُوْمًا

Allôhumm lâ taj’alhu âkhirol ‘ahdi min shiyâminâ iyyâhu, fa’in ja’altahu faj’alnî marhûman, wa lâ taj’alnî mahrûman.”

Artinya: “Ya Allah, janganlah Kau jadikan bulan Ramadhan ini sebagai bulan Ramadhan terakhir dalam hidupku. Jika Engkau menjadikannya sebagai Ramadhan terakhirku, maka jadikanlah aku sebagai orang yang Engkau sayangi,”

Dalam riwayat Jabir bin Abdillah ra dari Muhammad al-Musthofa SAW: “Siapa yang membaca doa ini di malam terakhir Ramadhan, ia akan mendapatkan salah satu dari dua kebaikan: menjumpai Ramadhan mendatang atau pengampunan dan rahmat Allah”.

Namun, banyak ulama yang mengatakan, doa yang diajarkan Rasulullah itu hendaknya dibaca seiring dengan lantunan gema takbir menyambut hari kemenangan. Pada penghujung Ramadan, doa tersebut menjadi wujud pengharapan umat dalam mengharap ampunan dan juga keridhoan Allah SWT, agar diberikan umur panjang dan dapat berjumpa lagi dengan bulan Ramadan. (ima)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here