Tingginya minat masyarakat membeli takjil menunjukkan kuatnya pasar Ramadan.

bongkah.id – Memasuki Ramadhan 1447 Hijriah, pasar takjil kembali bermunculan di berbagai sudut kota. Tradisi berburu menu berbuka ini bukan sekadar kebiasaan musiman, tetapi juga penggerak ekonomi masyarakat kecil.

Pakar ekonomi dari Universitas Airlangga, Pakar Ilmu Ekonomi, Gigih Prihantono SE MSE, menegaskan bahwa pasar takjil memberi dampak nyata bagi pelaku usaha mikro.

ads

“Adanya pasar takjil secara kasat mata pasti berdampak pada masyarakat perekonomian kecil, meskipun juga ada manfaatnya bagi pengusaha besar di mal atau restoran,” ujarnya, (22/2/2026).

Menurutnya, lonjakan konsumsi menjelang magrib membuat sektor makanan dan minuman bergerak cepat.

“Kebanyakan mereka membeli ketika waktu berbuka di mana banyak pedagang menjual makanan mendekati magrib,” tambahnya.

Namun ia mengingatkan, dampaknya bersifat sementara. “Pasar takjil hanya temporer jadi tidak terlalu berdampak kontinyu untuk pemulihan ekonomi nasional.”

Di Kota Mojokerto, pemerintah daerah memanfaatkan momentum ini untuk mendorong UMKM. Wali Kota Ika Puspitasari menyatakan, “Pasar takjil menjadi ruang interaksi warga, wadah pelaku UMKM, serta sarana syiar Ramadhan yang menggembirakan.”

Sementara itu, pakar pangan dari IPB University, Tjahja Muhandri, menilai tingginya minat masyarakat menunjukkan kuatnya pasar Ramadan. “Fenomena itu menunjukkan ada tarikan pasar yang kuat dan produk UMKM bisa terjual hampir tanpa sisa.”

Ramadan 2026 pun kembali membuktikan, di balik sebungkys kolak dan gorengan, tersimpan harapan ekonomi rakyat kecil yang terus menyala. (kim)

2

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini