bongkah.id – Kunjungan Gubernur Khofifah Indar Parawansa ke Taman Krida Budaya Jawa Timur, Malang, Minggu (22/2/2026), tak ada panggung megah atau gegap gempita festival.
Yang ada justru percakapan tentang kebudayaan, tentang sesuatu yang tak terlihat, namun terasa begitu dekat yakni Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
“Mohon para bupati dan wali kota terus menginventarisir seluruh Warisan Budaya Tak Benda di daerah masing-masing,” pesannya di antara para pegiat seni, birokrat, dan penjaga tradisi yang berbaur di sana.
Di tempat itu, Khofifah mengingatkan bahwa kebudayaan bukan hanya soal candi, gedung tua, atau benda pusaka. Tapi ada lapisan lain yang kerap luput dari perhatian, yang disebut WBTB yakni tradisi lisan, upacara adat, seni pertunjukan, kearifan lokal, hingga pengetahuan tradisional yang hidup di tengah masyarakat.
Kata inventarisasi mungkin terdengar administratif. Namun di baliknya, ada kerja yang panjang.
Mendatangi desa-desa, mewawancarai sesepuh, menelusuri jejak sejarah keluarga, mencatat lirik tembang yang hampir punah, hingga merekam gerak tari yang diwariskan tanpa buku panduan. Semua itu adalah upaya menyelamatkan ingatan sebelum ia memudar.
WBTB tak pernah benar-benar diam. Ia hidup dalam suara dalang saat memainkan wayang, hidup dalam doa yang dilantunkan pada upacara adat, hidup dalam resep turun-temurun yang hanya dihafal, bukan ditulis. WBTB bertahan karena diwariskan, bukan karena dipamerkan.
Namun zaman bergerak cepat. Anak-anak kini lebih fasih menelusuri layar sentuh gawai ketimbang memahami simbol-simbol dalam tari tradisional.
Di sinilah urgensi pendataan muncul. Data bukan sekadar arsip, melainkan bentuk pengakuan bahwa tradisi itu ada, sah, dan layak dijaga.
Menurut Khofifah, setiap data yang dihimpun akan diverifikasi, dikaji, lalu diperkuat melalui naskah akademik sebelum masuk tahap digitalisasi.
“Proses ini penting agar budaya tidak sekadar tercatat, tetapi juga memiliki legitimasi ilmiah dan perlindungan hukum,” lanjutnya.
Di Kota Malang, semangat itu menemukan wujudnya. Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, bercerita kini anak-anak usia taman kanak-kanak mulai memainkan tari topeng, kesenian yang dulu didominasi generasi lebih tua.
“Pemandangan itu seperti penanda bahwa mata rantai belum terputus. Regenerasi, dalam konteks ini, bukan kebetulan. Ia lahir dari kesadaran kolektif bahwa budaya bukan warisan pasif, melainkan energi yang harus terus dihidupkan,” katanya.
Pemerintah Kota Malang mendorong ruang-ruang ekspresi bagi seniman muda, sementara sekolah dan komunitas menjadi ladang persemaian.
Inventarisasi pun melampaui fungsi dokumentasi. Ia menjadi fondasi bagi penguatan identitas daerah dan ekosistem pariwisata.
Tradisi yang terpetakan dengan baik lebih mudah dipromosikan, dipentaskan, bahkan dikembangkan tanpa kehilangan akar.
Pada momen yang sama, Khofifah memberikan penghargaan kepada para juru pelihara cagar budaya sebagai pengingat bahwa pelestarian sering kali bertumpu pada dedikasi individu.
Mereka yang menjaga situs, merawat benda pusaka, atau setia mengajarkan seni tradisi adalah simpul-simpul penting dalam jejaring kebudayaan.
Jawa Timur sesungguhnya sedang menyisir ingatannya sendiri. Dari pesisir utara hingga lereng pegunungan, dari kota besar hingga desa terpencil, setiap wilayah menyimpan cerita yang berbeda.
Bila seluruhnya terdokumentasi, terverifikasi, dan terdigitalisasi, maka yang terbangun bukan sekadar basis data, melainkan peta identitas.
WBTB memang tak kasatmata. Ia tak berdiri kokoh seperti bangunan tua. Namun justru di situlah kekuatannya: ia hidup dalam manusia.
Dan selama masih ada yang mencatat, mengajarkan, serta mempraktikkannya, ia akan terus menemukan jalan untuk bertahan melampaui zaman, melampaui generasi. (anto)


























