Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa didampingi Kepala Dinas Pendidikan Wahid Wahyudi saat meninjau pembelajaran tatap muka terbatas yang digelar salah satu sekolah di Kota Probolinggo.

Bongkah.id – Pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di sejumlah daerah PPKM Level 1,2 dan 3 di tengah pandemi rupanya masih membawa dampak penularan virus. Terbukti, sejak PTM kembali digelar, muncul klaster COVID-19 di 1.299 sekolah, paling banyak berada di Jawa Timur.

Munculnya klaster COVID-19 baru dari sekolah yang menggelar PTM tersebut tersaji dari data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Hingga 22 September pukul 09.45 WIB, data Kemendikbudristek menunjukkan klaster PTM terbanyak terjadi di Jawa Timur, yaitu 164 klaster.

ads

Baca juga: Dispendik Jatim Izinkan Daerah Level 3 Gelar PTM, Ini Syaratnya

Berikutnya Jawa Barat sebanyak 149 klaster, Jawa Tengah 132 klaster, Nusa Tenggara Timur 104 klaster, Sumatera Utara 52 klaster, Kalimantan Barat dan Sumatera Barat 50 klaster. Disusul Kalimantan Tengah 49 klaster, dan Banten 44 klaster. Penularan terendah berada di provinsi Sulawesi Barat sebanyak 2 klaster, Sulawesi Tenggara 5 klaster, Maluku Utara 6 klaster, serta Sulawesi Utara dan Maluku masing-masing 8 klaster.

“Data itu diperoleh dari pelaksanaan PTM terbatas. Porsi sekolah tatap muka hanya 42% dari pelaksanaan pendidikan saat ini,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) PAUD dan Pendidikan Dasar Menengah Kemendikbudristek, Jumeri.

Sementara persentase PTM tertinggi berada di wilayah Aceh, Maluku Utara, dan Sumatera Barat. Sementara, persentase sekolah tatap muka terendah barada di DKI Jakarta.

“Sebanyak 660 sekolah di DKI membuka PTM, tapi frekuensinya terbatas. Satu minggu hanya satu hari,” ujar Jumeri.

Adapun jumlah klaster sebanyak 1.299 setara 2,77% dari total sekolah yang melapor ke Kemendikbudristek. Dari angka tersebut, sebanyak 7.285 pendidik dan tenaga kependidikan positif COVID-19. Sedangkan, jumlah peserta didik yang tertular virus corona mencapai 15.655 orang.

Secara rinci klaster terbanyak berada pada jenjang SD, yaitu 584 klaster penularan. Adapun, total pendidik dan tenaga kependidikan SD yang positif corona sebanyak 3.174 orang, sedangkan murid yang terkena COVID-19 mencapai 7.114 orang.

Klaster terbesar berikutnya berada pada tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yaitu 250 klaster penularan. Dari jumlah itu, ada 955 pendidik dan tenaga kependidikan yang terinfeksi COVID-19 serta 2.006 peserta didik positif corona. Di tingkat SMP, ada 243 klaster penularan saat sekolah tatap muka. Pendidik dan tenaga kependidikan yang tertular sebanyak 1.482 orang, adapun murid yang terinfeksi mencapai 2.201 orang.

Selanjutnya, sebanyak 107 klaster terjadi di tingkat SMA. Kementerian mencatat, pendidik dan tenaga kependidikan yang tertular sebanyak 798 orang, sedangkan sebanyak 1.947 murid tertular corona. Pada tingkat SMK, jumlah klaster mencapai 70 klaster penularan.

Total pendidik dan tenaga kependidikan yang tertular sebanyak 605 orang, sementara murid mencapai 1.590 orang. Sedangkan, total klaster di tingkat Sekolah Luar Biasa (SLB) sebanyak 13 dengan jumlah penularan pada pendidik dan tenaga kependidikan 131 orang dan murid 112 orang. (bid)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini