TRIO MILENIAL TERPILIH. Silahturahim casual meeting dilakukan Wali Kota Surabaya terpilih Eri Cahyadi (tengah) bersama Bupati Sidoarjo terpilih Ahmad Muhdlor Ali (kanan) dan Bupati Gresik terpilih Fandi Akhmad Yani (kiri) di salah satu hotel di Surabaya, Minggu (21/2/2021). mereka bertiga membahas beragam kesekapakatan atas kebijakan pemerintahan yang akan mereka pimpin, untuk menemukan sebuah sinergi kesepemahaman dalam membangun masing-masing daerah yang bermanfaat bagi masyarakat Surabaya Raya. (dok. Media Center Eri-Armuji)

bongkah.id – Sinergitas kebijakan tiga pemerintahan di Surabaya Raya sampai tahun 2024, berpeluang lebih baik dibanding kebijakan pada pemerintahan lima tahun sebelumnya. Ini karena persamaan frekuensi kebijakan yang akan ditetapkan tiga kepala daerah di Kota Surabaya, Kabupaten Gresik, dan Kabupaten Sidoarjo.

Kabar menarik itu tersuar dari pertemuan Wali kota Surabaya terpilih Eri Cahyadi, Bupati Sidoarjo terpilih Ahmad Mudhlor Ali, dan Bupati Gresik terpilih Fandi Akhmad Yani di salah satu hotel di Surabaya, Minggu (21/2/2021). Ketiga kepala daerah terpilih yang rencananya dilantik pada 26 Februari 2020 itu, bertemu untuk membangun kesepahaman di semua aspek yang menghubungkan kepentingan dan kebijakan Pemkot Surabaya, Pemkab Sidoarjo, dan Pemkab Gresik.

“Kami bertiga bersilahturahim untuk menyamakan frekuensi sambil bercanda. Ya casual meeting sesama milenial untuk membangun Surabaya Raya. Ini penting, karena sesungguhnya Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik saling berhubungan. Relasinya sangat dekat, terutama mobilitas warganya yang saling terkoneksi. Semoga pertemuan ini membawa barokah,” kata Eri Cahyadi saat dihubungi ponselnya, Senin (22/2/2021).

Menurut dia, pertemuan satu meja di salah satu sudut hotel di Surabaya itu sifatnya non dina. Sebab mereka bertiga saat ini masih bukan siapa-siapa. Hanya sesama milenial yang dipilih masyarakat dalam Pilkada 2020. Silahturahim itu sekadar membangun kesepahaman antar pemerintahan, sehingga saat masing-masing sudah menjabat akan menciptakan sebuah sinergi yang bermanfaat bagi masyarakat Surabaya Raya.

“Dalam pertemuan tersebut kami sepakan membangun sistem gotong royong skala Jatim, nasional, bahkan secara global. Komitmen kami untuk membawa masing-masing daerah semakin maju,” ujarnya.

Dalam pertemuan selama 120 menit dengan protokol kesehatan tersebut, dikatakan, ada lima hal yang dibahas dan disepakati. Yakni integrasi penanganan pandemi Covid-19, manajemen transportasi terpadu, manajemen sungai terpadu, pengembangan manajemen pengetahuan untuk meningkatkan kualitas inovasi antar-daerah, dan infrastruktur jalan.

“Misalnya, terkait penanganan pandemi, berbagai kebijakan tiga daerah ini harus sinergis. Saling support. Selain aspek pencegahan, untuk tracing semestinnya bisa saling dukung jika memang pasiennya punya mobilitas di antara daerah-daerah ini,” tambahnya.

Sementara Bupati Sidoarjo terpilih Ahmad Muhdlor Ali saat dihubungi, mengakui, bahwa keterpaduan program antardaerah sangat penting. Dicontohkan manajemen transportasi terpadu, yang dibahas dalam penerapan beberapa skema. Kendati demikian, hasil pembicara itu nantinya akan dikonsultasikan pada Pemprov Jatim. Demikian pula pada pemerintah pusat.

Selain itu, putra ulama sepuh Gus Ali Tulangan ini menambahkan, bahwa ketiga daerah juga sepakat membangun sistem knowledge management (manajemen pengetahuan) yang memungkinkan adanya replikasi inovasi antardaerah. Dengan manajemen pengetahuan, ide dan gagasan inovatif antardaerah saling bisa diakses. Ini untuk mendorong kolaborasi dalam melahirkan pelayanan terbaik buat masyarakat masing-masing daerah.

Tidak hanya itu, ketiga daerah juga akan intens membahas program bersama yang bisa berdampak pada percepatan pemulihan ekonomi rakyat di masing-masing daerah. Misalnya, membuat program bersama untuk UMKM, tenaga kerja, industri, dan sebagainya.

Pada tempat berbeda, Bupati Gresik terpilih Fandi Akhmad Yani mencontohkan pentingnya integrasi program terkait manajemen penanganan banjir. Misalnya, soal banjir Kali Lamong yang merupakan problem klasik di kabupaten tersebut.

Menurut menantu Gus Ali Tulangan ini, penanganan banjir Kali Lamong harus terintegrasi secara kelembagaan. Pasalnya secara kewilayahann, pengaturan sungai dan sistem pengendali banjir Kali Lamong tersebar di Gresik, Mojokerto, dan Surabaya.

Pria yang karib dipanggil Gus Yani ini tak memungkiri, bahwa integrasi pembangunan infrastruktur jalan juga mutlak dilakukan. Misalnya, Pemkot Surabaya yang sedang merapungkan Jalan Lingkar Luar Barat yang bakal terhubung dengan tol Surabaya-Gresik dan Teluk Lamong, hingga ke kawasan Menganti, Gresik. Demikian pula perlunya jalan baru Surabaya-Gresik, termasuk membikin jembatan yang membuka akses anyar antardaerah.

“Jika nanti semuanya terpadu, saya yakin poros Surabaya Raya bakal semakin tertata, modern, hijau, dan berkelanjutan,” katanya. (vd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here