ILUSTRASI. Kompleks Pemakaman al-Baqi terletak di dekat Masjid Nabawi di Madinah. Di tanah yang cukup luas inilah kerabat dan sahabat Nabi Muhammad beserta kaum Muslimin lainnya dimakamkan. Disini dimakamkan Usman Bin Affan RA (Khalifah III) dan para istri Nabi, yaitu Siti Aisyah RA, Umi Salamah, Juwariyah, Zainab, Hafshah binti Umar Bin Khattab dan Mariyah Al Qibtiyah RA. Juga putra-putri Rasulullah SAW, di antaranya Ibrahim, Siti Fatimah, Zainab dan Ummu Kulsum.

by Rachmat Abd. Faqih/bongkah.id

SEKETIKA Pendeta Yahudi tersebut berteriak penuh kesedihan, “Betapa sedih hariku, betapa sia-sia perjalananku! Aduhai, andai saja ibuku tidak pernah melahirkan aku, andai saja aku tidak pernah membaca Taurat dan mengkajinya, andai saja dalam membaca dan mengkaji Taurat aku tidak pernah menemukan ayat-ayat yang menyebutkan sifat-sifat dan keadaannya, andai saja aku bertemu dengannya setelah aku menemukan ayat-ayat Taurat tersebut….tentu tidak akan sesedih ini hatiku!”

Lelaki Yahudi tersebut menangis tersedu. Tenggelam dalam kesedihannya sendiri. Seakan teringat sesuatu. Tiba-tiba ia berkata, “Apakah Ali berada di sini, sehingga ia bisa menyebutkan sifat-sifat Muhammad kepadaku!”

“Ada, aku disini,” Kata Ali bin Abi Thalib sembari beringsut mendekati Pendeta Yahudi tersebut.

“Aku menemukan namamu dalam kitab Taurat bersama Muhammad. Tolong engkau ceritakan padaku ciri- ciri beliau!” ujar Pendeta Yahudi itu dengan pandangan memohon.

Ali bin Abi Thalib pun berkata, “Rasulullah SAW itu tidak tinggi dan tidak pendek. Kepala beliau bulat dan dahinya lebar. Sepasang mata beliau tajam. Dihiasi kedua alis yang tebal. Bila beliau tertawa, terlihat cahaya dari sela-sela giginya. Dadanya berbulu. Telapak tangannya berisi. Telapak kakinya cekung. Saat berjalan lebar langkahnya, dan di antara dua belikat beliau ada tanda-tanda khatamun nubuwwah.

“Engkau benar, wahai Ali,” kata Pendeta Yahudi tersebut. “Seperti itulah ciri-ciri Nabi Muhammad yang disebutkan dalam Kitab Taurat. Apakah masih ada sisa baju beliau, sehingga aku bisa menciumnya?”

“Masih ada!” kata Ali. Sesaat kemudian meminta tolong kepada Salman untuk mengambil jubah Rasulullah SAW yang disimpan Fathimah az Zahrah, putri kesayangan Sang Nabi yang juga istri Ali bin Abi Thalib.

Salman segera bangkit menuju tempat kediaman Fathimah. Di depan pintu rumah Fatimah, Salman mendengar tangisan Hasan dan Husain. Cucu kecintaan Rasulullah SAW. Sambil mengetuk pintu, Salman berkata, “Wahai tempat kebanggaan para nabi, wahai tempat hiasan para wali!!”

“Siapakah yang mengetuk pintu orang yatim ini!” Fathimah menyahut dari dalam.

“Saya, Salman…” jawab Salman. Kemudian menyebutkan maksud kedatangannya sesuai yang dipesankan oleh Ali bin Abi Thalib.

“Siapakah yang akan memakai jubah ayahku?” Kata Fathimah sambil menangis.

Salman menceritakan peristiwa berkaitan dengan Pendeta Yahudi yang datang dari Syam untuk menemui Sang Nabi. Setelah mendengar cerita Salman, lalu Fathimah mengeluarkan jubah Rasulullah SA. Sebuah jubah sederhana yang tak semestinya dipakai oleh pemimpin umat Islam. Sebuah jubah dengan warna yang sudah pudar. Dihiasi tujuh tambalan dengan tali serat kurma.

Setelah menerima jubah tersebut dari Fathimah, maka Salman menciumi jubah itu dengan berderai air mata. Jubah itu kemudian didekapnya di dada. Dan, dibawanya ke masjid, dengan mata yang masih berkaca-kaca. Saat menerima jubah tersebut dari Salman, Ali menciumnya diiringi haru dan tangis, hingga sembab matanya. Jubah Rasulullah SAW tersebut beredar dari satu sahabat ke sahabat lainnya yang hadir. Mereka menciumnya dan banyak yang menangis. Mereka terharu dan rindu kepada Sang Nabi. Jubah itu kemudian sampai ke tangan Pendeta Yahudi tersebut.

Pendeta Yahudi ini mencium jubah Sang Nabi. Ia kemudian mendekap didadanya sembari berkata, “Betapa harumnya jubah ini…!!” Dengan tetap mendekap jubah tersebut, Pendeta Yahudi itu mendekat ke makam Rasulullah SAW. Kemudian menengadahkan kepalanya ke langit dan berkata, “Wahai Tuhanku, saya bersaksi bahwa Engkau adalah Dzat yang Esa, Tunggal dan tempat bergantung (AshShomad). Dan saya bersaksi bahwa orang yang berada di kubur ini adalah Rasul-Mu dan kekasih-Mu. Saya membenarkan segala apa yang ia ajarkan! Wahai Allah, jika Engkau menerima keIslamanku, maka cabutlah nyawaku sekarang juga..!!”

Tak lama kemudian mantan Pendeta Yahudi tersebut terkulai. Jatuh di sebelah makam Sang Nabi. Ia meninggal dunia dalam Islam. Melihat pemandangan yang tiba-tiba itu, para sahabat terharu, sedih, dan senang. Melihat mantan Pendeta Yahudi tersebut meninggal dalam Islam. Para sahabat segera memandikan. Mengurus jenazah mantan Pendeta Yahudi, yang telah menjadi muslim tersebut secara Islam. Pun dimakamkan di Baqi’.

Memang, mantan Pendeta Yahudi itu bukanlah termasuk sahabat Sang Nabi. Bahkan dalam keislamannya belum satupun melakukan rukun Islam lainnya, seperti shalat, puasa Ramadhan, zakat, naik haji, dan kewajiban fardhu lainnya. Namun, kecintaan dan kerinduannya kepada Rasulullah Muhammad Saw membuatnya pantas dimakamkan di Baqi’.

Kompleks Pemakaman al-Baqi terletak di dekat Masjid Nabawi di Madinah. Di tanah yang cukup luas inilah kerabat dan sahabat Nabi Muhammad beserta kaum Muslimin lainnya dimakamkan. Disini dimakamkan Usman Bin Affan RA (Khalifah III) dan para istri Nabi, yaitu Siti Aisyah RA, Umi Salamah, Juwariyah, Zainab, Hafshah binti Umar Bin Khattab dan Mariyah Al Qibtiyah RA. Juga putra-putri Rasulullah SAW, di antaranya Ibrahim, Siti Fatimah, Zainab dan Ummu Kulsum.

Demikian pula Ruqayyah Halimatus Sa’diyah ibu yang menyusui Rasulullah SAW. Sahabat yang pertama kali dimakamkan di Baqi adalah Abu Umamah, Hasan bin Zararah dari kaum Anshar dan Usman bin Maz’un dari golongan Muhajirin.

Itulah sebuah kisah memikat tentang hidayah Alloh yang bisa datang kapan pun waktunya. Juga pada siapa pun individunya. Tanpa diketahui oleh manusia. Kisah yang disaksikan Sahabat Ibnu Abbas ini ada sedikit dalam Kitab Tafsir Ibnu Abbas berjudul Tanwir Al-Miqbas min Tafsir Ibn Abbas (تفسير المقباس من تفسير ابن عباس). Kitab berisi kumpulan riwayat-riwayat tafsir yang dinisbahkan kepada Ibnu Abbas. Kitab tersebut ditulis oleh Imam Abu Thohir Muhammad bin Ya’quub al-Fairuuz Aabadiy (wafat 817 H). Ia mengumpulkan riwayat-riwayat, yang dinisbahkan kepada Ibnu Abbas dari beberapa kitab. Dikumpulkan menjadi satu kitab. Namun, kitab Tafsir Ibnu Abbas itu sampai kini menjadi bahan kajian dan polemik. Melacak kualitas sanadnnya. (END)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here