Sejumlah tenaga kesehatan mendorong peti mati berisi jenazah dokter Oki Alfin yang meninggal akibat Covid-19, di RSUD Arifin Achmad, Kota Pekanbaru, Riau, 12 September 2020. Almarhum dokter Oki terpapar virus corona dari pasien yang dirawatnya di Puskesmas Gunung Sahilan 1 Kabupaten Kampar, dan kemudian turut menularkan virus ke isterinya.

Selama masa pandemi Covid-19 sudah 15 dokter menjadi korban meninggal per 13 13 September 2020. Kondisi ini mendorong Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menerbitkan pedoman standar perlindungan dokter untuk pelayanan pasien Covid-19. Pedoman tersebut sebagai cara tidak bertambahnya kasus kematian dokter.

bongkah.id – Mengutip data Tim Mitigasi PB IDI di Jakarta, Rabu, dari total 115 dokter yang gugur tersebut di antaranya 60 dokter umum, 53 dokter spesialis, dan dua dokter residen atau yang masih menjalani pendidikan dokter spesialis. Diantara korban tersebut diketahui tujuh dokter bergelar guru besar atau profesor. Yakni tiga guru besar dari dokter umum dan empat guru besar dokter spesialis.

Kasus kematian dokter paling banyak terjadi di Jawa Timur 29 dokter, Sumatera Utara 21 dokter, DKI Jakarta 15 dokter, Jawa Barat 11 dokter, dan Jawa Tengah 8 dokter. Untuk dokter spesialis yang paling banyak meninggal sebanyak 8 dokter spesialis penyakit dalam, 7 dokter spesialis bedah, dan 5 dokter spesialis kebidanan dan kandungan.

Ironisnya catatan PB IDI menunjukkan jumlah dokter di Indonesia merupakan yang terendah kedua di Asia Tenggara. Yaitu sebesar 0,4 dokter per 1.000 penduduk. Artinya Indonesia hanya memiliki 4 dokter untuk melayani 10.000 penduduk. Untuk rasio dokter spesialis sebesar 0,13 per 1.000 penduduk. Demikian pula distribusi tenaga medis dan tenaga kesehatan juga terkonsentrasi di Jawa dan kota-kota besar.

Ketua Tim Mitigasi PB IDI Adib Khumaidi menjelaskan, kematian dokter sebanyak 115 dokter itu dengan asumsi seorang dokter melayani 2500 pasien. Fakta itu menggambarkan Rakyat Indonesia yang berjumlah hampir 300 ribu akan kehilangan pelayanan dari dokter, begitu juga dengan meninggalnya dokter gigi dan perawat.

“Apalagi dengan meninggalnya dokter spesialis yang saat ini masih dirasakan kurang di Indonesia. Dokter adalah aset bangsa. Investasi untuk menghasilkan dokter dan dokter spesialis sangat mahal. Kehilangan dokter akan berakibat menurunnya kualitas pelayanan kesehatan bagi Rakyat Indonesia,” kata Adib.

Karena itu, Adib meminta ketegasan pemerintah untuk membuat langkah-langkah kongkret. Sebagai upaya perlindungan dan keselamatan bagi para dokter dan tenaga kesehatan lainnya.

Upaya kongkret melalui pembentukan Komite Nasional Perlindungan dan Keselamatan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan. Yang bertugas mengintegrasikan seluruh stakeholder kesehatan, untuk fokus dalam upaya perlindungan dan keselamatan serta upaya-upaya pengawasan nya .

“Kebutuhan dokter tentunya menjadi pekerjaan rumah bagi organisasi profesi dan perhimpunan-perhimpunan spesialis untuk tetap dapat menjamin proporsi pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” ujarnya.

Kisah yang disampaikan Hans Siti Masoh Soesana (55 tahun), misalnya. Dokter umum di Puskesmas Sukapura, Jakarta Utara, ini sudah dua kali terinfeksi virus corona. Pertama, ia terinfeksi diperkirakan pada akhir Juni lalu. Penularan yang ia sebut bukan berasal dari pasien, tapi kontak dari seorang pedagang di kantin puskesmas. Saat itu Soesana memesan makanan. Diantar sendiri oleh ibu kantin ke ruang kerjanya. Baru diketahui belakangan, dua anak dari ibu kantin ini positif Covid-19.

“Saya bayar ke ibunya. Ternyata ibunya eh positif. Nggak tahu dari uang atau dari mana. Itu warungnya bersih. Habis gitu saya pakai hand sanitizer. Dia juga biasa-biasa saja,” kata dr Soesana kepada BBC.

Pada kasus infeksi pertama, Soesana mengaku tidak mengalami gejala yang signifikan. Ia sempat menjalani isolasi dan perawatan, ‘hanya pusing sedikit’, lalu dinyatakan negatif, dan kembali bekerja di puskesmas akhir Juli.

“Sekarang itu (terinfeksi virus corona kedua) tanggal 5 Agustus. Tanggalnya sama, sebulan kemudian. Gejala itu luar biasa. Tapi ke arah jantungnya. Ada pembesaran jantung. Macam-macam jadinya,” lanjut Soesana.

Pada kasus infeksi virus corona yang kedua kalinya, ia tak mengetahui sumbernya. Tapi ia sempat bekerja di puskesmas sebelum akhirnya terinfeksi lagi. “Yang kedua ini, tanggal 20 Juli sudah masuk 28-30 Juli. Itu pun layanan di (lantai) atas. Pakai APD lengkap,” tambahnya. Sesaat kemudian Soesana tak bisa melanjutkan pembicaraan dengan BBC, karena harus kembali memasang selang oksigen.

Saat ini hasil tes usap-nya sudah menunjukkan negatif. Tapi dampak yang ditimbulkan virus corona ini membuatnya kesusahan bernapas. Dalam pesan tertulis, Soesana berharap adanya perhatian lebih terhadap dokter umum yang berjaga di puskesmas, terutama dalam penyediaan APD.

Saat bertugas beberapa bulan lalu, baju hazmatnya dicuci ulang agar bisa dipakai tiga hingga lima kali. (ima/bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here