Ahli epidemiologi Universitas Indonesia Syahrizal Syarif (kiri) dan Ketua Tim Kedaruratan Kesehatan WHO Michael Ryan (kanan) silang pendapat soal Covid-19.

Bongkah.id – Pakar virus epidemik (epidemiolog) Universitas Indonesia Syahrizal Syarif mementahkan pendapat WHO terkait ancaman pandemi Covid-19 yang meresahkan masyarakat. Doktor lulusan University of Newcastle, Australia, itu menegaskan Covid-19 tidak akan menjadi endemik seperti virus HIV/AIDS karena manusia bukan induk (sumber) SARS-CoV-2.

SARS-CoV-2 merupakan jenis Corona self-limited disease yang menjadi virus penyebab Covid-19. Sementara HIV bukan virus self limited disease.

“Dan masa inkubasi virus corona hanya 2-14 hari, jauh lebih singkat dibanding HIV,” kata Syahrizal Syarif kepada wartawan, Jumat (15/5/2020).

Alasan lain Covid-19 dapat dihilangkan karena SARS-CoV-2 bisa dideteksi secara dini dengan alat diagnostik yang akurat, seperti dengan metode PCR atau polymerase chain reaction. Kendati belum ditemukan obat atau vaksin untuk virus ini, namun tingkat kesembuhan sangat tinggi.

“Bisa dideteksi dan tingkat kesembuhan pasien di atas 95 persen. Karena itu Covid-19 tidak akan menjadi endemi seperti halnya HIV,” ujarnya.

Sehingga dengan kewaspadaan tinggi, lanjut Syahrizal, bukan mustahil virus Covid-19 bisa musnah dalam beberapa bulan ke depan. Ia mencontohkan merebaknya virus SARS-CoV pada 2002 terbukti bisa diatasi dan dieradikasi dalam waktu 8 bulan.

“Sedangkan pandemi SARS-Cov2 saat ini baru memasuki bulan ke-5. Dengan sistem kewaspadaan tinggi dan deteksi dini, Covid-19 bisa hilang,” tutur doktor lulusan University of Newcastle, Australia, tersebut.

Hal ini berbeda dengan virus HIV. Selain tidak memiliki obat pilihan dan vaksin, penyakit yang timbul akibat virus ini (AIDS) dan proses penularannya sangat inklusif.

Menurutnya, penderita HIV sebagai kunci penularan cenderung tertutup. Sehingga membuat tindakan deteksi dan pencegahan dini penularan virus ini menjadi sangat sulit.

“Deteksi dini dan penelusuran kontak pasien HIV juga menjadi masalah tersendiri. Ini yang menyebabkan HIV sulit dihilangkan dari kehidupan manusia,” tandasnya.

Adapun obat ARV yang bisa digunakan untuk mempertahankan imun pasien yang terjangkit HIV harus dikonsumsi seumur hidup. Di sisi lain, virusnya tidak bisa hilang, tetap dalam tubuh si pasien.

Syahrizal menilai, sesungguhnya permasalahan dalam rangka penanganan Covid-19 saat ini adalah penemuan vaksin. Selain itu, negara-negara menengah ke bawah, fasilitas dan kapasitas lab medis yang bisa mendeteksi dan menekan virus masih terbatas.

Sebelumnya, Ketua Tim Kedaruratan Kesehatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Michael Ryan mengeluarkan pernyataan kontroversial yang meresahkan publik.

“Virus (Covid-19) ini mungkin tidak akan pernah hilang. Mungkin menjadi endemi lainnya di dalam masyarakat dan,” kata Ryan seperti dilansir Channel News Asia, Kamis (14/5/2020).

Penyakit endemik adalah suatu penyakit yang menyerang wilayah geografis atau kelompok populasi tertentu, seperti demam berdarah, malaria, hepatitis, atau bahkan HIV/AIDS. Makanya, Ryan secara dramatis langsung membandingkan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 dengan HIV/AIDS.

“HIV belum juga hilang-tapi kita telah menerima dan menghadapi virus itu,” imbuh Ryan. (bid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here