Kereta Rel Listrik jurusan Surabaya - Probolinggo beroperasi sebelum Lebaran 2026.

bongkah.id — Senyum dari kerumunan warga yang menunggu angkutan umum di sisi peron Stasiun Probolinggo bukan sekadar harapan, mereka kini punya alasan baru untuk optimis. Rencana pengoperasian Commuter Line (Kereta Rel Listrik) rute Surabaya–Probolinggo ditargetkan dapat dirasakan masyarakat Jawa Timur sebelum masa Lebaran 2026 tiba, momen mudik besar yang diprediksi kembali padat.

Komitmen itu muncul dari hasil audiensi intensif antara Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin dengan jajaran Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) di Jakarta pada awal Januari 2026. Persetujuan prinsip perpanjangan layanan Commuter Line yang semula hanya sampai Pasuruan kini digulirkan hingga ke Stasiun Probolinggo.

ads

“Dengan Commuter Line sampai Probolinggo, mobilitas menjadi lebih cepat, aman, dan terjangkau,” ujar Aminuddin, mengungkapkan harapannya akan perubahan nyata bagi warga yang setiap hari menempuh perjalanan antar kota.

Bagi Siska, 28 tahun, yang setiap pagi mengayuh motor dari Kraksaan ke Surabaya untuk bekerja, pengumuman ini ibarat angin segar. “Biaya bensin makin mahal, macet makin parah. Kalau ada KRL, saya bisa lebih tenang dan sampai lebih cepat,” katanya saat ditemui di dekat Stasiun Probolinggo. Perasaan serupa juga diungkapkan puluhan pelajar dan pedagang yang sering bergantung pada jasa angkutan darat.

Para pejabat Kemenhub menyatakan, rencana perpanjangan ini juga memperhatikan standar pelayanan serta kebutuhan fasilitas di stasiun, termasuk penambahan tempat duduk dan layanan toilet, agar kenyamanan dan keselamatan penumpang tetap terjaga.

Dampak Luas pada Ekonomi Lokal

Ekonom transportasi dari Universitas Islam Negeri Surabaya, Dr. Rinaldi Hasan, menilai layanan ini bukan sekadar moda baru, tetapi potensi besar untuk pengembangan ekonomi lokal.

“Konektivitas lebih baik akan membuka peluang usaha di daerah, menggenjot pariwisata, serta menambah daya tarik investasi di kawasan tapal kuda Jawa Timur,” katanya. Analisis awal juga menunjukkan volume penumpang yang signifikan di Stasiun Probolinggo. Sekitar 15.722 orang naik dan turun sepanjang Januari–November 2025 yang menggambarkan permintaan tinggi untuk layanan angkutan lokal.

Menuju Realisasi Sebelum Lebaran

Target waktu operasional yang dipatok sebelum Lebaran 2026 bukan tanpa alasan, momentum mudik besar tahunan itu dipandang sebagai ujian pertama bagi kesiapan layanan baru ini.

Meski demikian, Kemenhub bersama Pemerintah Kota Probolinggo serta para pemangku kepentingan masih menyusun langkah teknis lanjutan, termasuk kajian operasional, kesiapan sarana, hingga skema subsidi agar tiket tetap terjangkau.

Bagi warga seperti Siska dan puluhan pelaku harian lainnya, yang selama bertahun-tahun berjuang melawan sengatan panas jalanan dan biaya transportasi yang terus naik, Commuter Line bukan hanya soal perjalanan tetapi soal harapan untuk kehidupan yang lebih mudah, cepat, dan murah. (kim)

9

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini