Tim ekskavasi dari BPCB Jawa Timur membesrihkan area ditemukannya kerangka manusia di Situs Kumitir, Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.

Bongkah.id – Ekskavasi Situs Kumitir di Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, menguak fakta baru yang mencengangkan. Tim arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim menemukan beberapa kerangka manusia di tengah struktur bangunan kuno era peninggalan Majapahit itu.

Arkeolog BPCB Jatim, Wicaksono Dwi Nugroho menjelaskan, penemuan ini kerangka itu terjadi pada hari ke-14 ekskavasi tahap I tahun 2021 ini yang dimulai pada 1 Maret. Kerangka manusia itu tepatnya ditemukan di sektor C Situs Kumitir.

ads

“Ada lebih dari satu kerangka manusia. Tetapi hanya satu kerangka yang masih utuh,” tutur Wicaksono kepada wartawan, Jumat (12/3/2021).

Sementara kerangka yang lain, kata Wicaksono, cuma berupa potongan-potongan bagian tubuh.  Antara lain ada yang hanya berbentuk kepala, bagian tangan dan kaki saja.

Wicaksono menerangkan, kerangka-kerangka tersebut ditemukan di kedalaman 60 sentimeter dari permukaan tanah. Pihaknya menduga, kerangka itu berasal dari periode waktu baru.

Pasalnya, terdapat tempat pemakaman umum desa yang tak jauh sari Situs Kumitir. Tepatnya berjarak hanya 10 meter di sisi timur situs.

“Tetapi setelah diteliti, tanah makam itu lebih rendah 1 meter dari tanah di sektor A, B, dan C situs Kumitir,” ujarnya.

Pihaknya akan meneliti lebih dalam terkait temuan kerangka ini. Hal itu untuk memastikan apakah kerangka-kerangka tersebut berasal dari jaman Majapahit atau sisa mayat yang meninggal di era modern ini.

“Kalau kerangka ini ditemukan di kedalaman 60 sentimeter, berarti bisa satu konteks atau tidak dengan makam desa? Itu masih harus diteliti lagi kebenarannya,” urainya.

Untuk mengungkap kebenaran itu, BPCB Jatim melibatkan tim ahli dari antropologi forensik Universitas Airlangga Surabaya. Tim akan membantu mengidentifikasi temuan kerangka-kerangka tersebut.

“Apakah ini makam baru atau satu konteks dengan temuan di sektor A, B, dan C situs Kumitir?. Itu nanti mereka (tim ahli Antropologi forensik Unair Surabaya) yang akan menjawab,” jelasnya.

Wicaksono menambahkan, ekskavasi situs Kumitir saat ini merupakan lanjutan dari ekskavasi tahun 2020. Dimana tahun 2020 pihaknya mendapati adanya bangunan dinding keliling seluar kurang lebih 6 hektar dengan panjang 316 meter dari timur ke barat. Sedangkan dari Utara ke Selatan diduga berukuran 250 meter.

“Kami masih berupaya mencari ujung dari sisi tenggara dan barat daya yang tahun kemarin belum kita temukan. Sehingga tahun ini targetnya mencari kepastian dari lebar dinding utara ke selatan,” paparnya.

Ekskavasi situs Kumitir pada tahun 2021 akan dilaksanakan dua tahap. Tahap pertama 1 sampai 30 Maret dan tahap kedua pada bulan Juli dengan menggunakan anggaran dari Provinsi Jatim.

BPCB harus menyiapkan anggaran Rp 500 juta untuk proyek ekskavasi Situs Kumitir ini. Sebanyak 90 orang terlibat dalam tim ekskavasi.

“Karena masih dalam situasi pandemi, kita melibatkan tim dari Internal BPCB. Biaya kompensasi tanah per meter Rp 50 ribu. Itu masih kurang untuk biaya ekskavasinya,” kata Wicaksono.

Situs Talud, Candi Pendermaan hingga Istana

Situs Kumitir pertama kali ditemukan warga penggali tanah untuk membuat batu bata di Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. Lokasinya hanya beberapa kilometer dari pusat Kerajaan Majapahit dulu di Kecamatan Trowulan.

Setelah digali pada tahun 2020 lalu, terkuak situs tersebut berupa struktur batu bata kuno setinggi 1,4 meter yang membentang dari utara ke selatan itu. Dalam perkembangannya, terungkap bahwa struktur berbentuk dinding penahan (talud) itu dibangun di atas candi pendermaan untuk Narasinghamurti, kakek dari Raden Wijaya, sang pendiri Kerajaan Majapahit.

Narasinghamurti atau Mahisa Cempaka merupakan cucu dari pendiri Kerajaan Singasari Ken Arok. Menurut catatan sejarah, Ken Arok berasal dari sebuah desa di Blitar dan kemudian merebut kerajaan Tumapel setelah membunuh penguasanya, Tunggul Ametung.

Penampakan sebagian lokasi Situs Kumitir dari atas.

Wicaksono menerangkan, tembok yang baru ditemukan dan diekskavasi selama 10 hari pada akhir Oktober 2019 lalu merupakan bagian terluar dari kuil Kumêpêr. Dalam naskah kuno Kumêpêr disebutkan sebagai tanah pemakaman abu Narasinghamurti.

Naskah kuno yang dimaksud Wicaksono adalah Kitab Negarakertagama yang ditulis tokoh sastra Majapahit Mpu Prapanca; Pararaton yang memuat silsilah raja Singasari dan Majapahit ditulis pada awal abad ke-17; serta Kidung Wargasari dari Bali.

“Kumêpêr identik dengan “Kumitir” ini,” ujar Wicaksono.

Pada September 2020 lalu, hasil ekskavasi membuahkan hipotesa kuat lainnya. Yakni situs di areal seluas enam hektare itu bukan hanya candi pendermaan, tetapi juga istana Raja (Bhre) Wengker, Kudamerta.

Fakta ini terkuak setelah tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur menyelesaikan ekskavasi situs purbakala seluas 312 x 250 meter persegi pada 9 September 2020 lalu. Tepatnya pada sisi barat, ditemukan struktur bangunan kuno yang membentuk sebuah bangunan gerbang istana.

“Dari hasil ekskavasi kita lakukan kajian, dugaan kami sementara, Situs Kumitir ialah bekas kompleks puri atau pesanggrahan Bhre Wengker,” kata Wicaksono Dwi Nugroho di kawasan situs Kumitir, Sabtu (12/9/2020) lalu. Dalam Kitab Negarakertagama, imbuh Wicaksono, Puri Bhre Wengker disebut sebagai ‘Istana ajaib’. (bid)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini