bongkah.id – Pemerintah menargetkan pembangunan Jalan Tol Kediri–Tulungagung segera dimulai setelah proses pengadaan lahan dan penyempurnaan desain trase rampung.
Trase adalah garis sumbu rencana jalur jalan yang menghubungkan titik-titik koordinat tertentu, menggambarkan proyeksi lintasan pada peta topografi
Proyek infrastruktur strategis dengan nilai investasi sekitar Rp 9,9 triliun itu diharapkan menjadi pengungkit baru pertumbuhan ekonomi di kawasan selatan Jawa Timur yang selama ini relatif tertinggal dibanding wilayah utara.
Ruas tol sepanjang sekitar 44,5 kilometer ini akan menghubungkan Kota Kediri, Kabupaten Kediri, hingga Kabupaten Tulungagung. Infrastruktur tersebut juga dirancang terintegrasi dengan akses menuju Bandara Dhoho Kediri sehingga memperkuat konektivitas kawasan Mataraman dengan jaringan transportasi nasional.
Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Bobby Soemiarsono, mengatakan pembangunan jalan tol ini sangat penting untuk mempercepat mobilitas barang dan jasa di wilayah selatan provinsi tersebut.
“Jika rencana ini terealisasi akan dapat membantu percepatan pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur karena angkutan logistik bisa lebih cepat dengan biaya yang relatif murah dikarenakan kelancaran akses transportasi darat,” ujar Bobby.
Menurutnya, percepatan distribusi logistik akan berdampak langsung pada sektor perdagangan, pertanian, industri kecil menengah, hingga pariwisata yang selama ini menjadi potensi utama kawasan Kediri, Tulungagung, Blitar, dan daerah sekitarnya.
Pembebasan Lahan Dikebut
Seiring dengan rencana pembangunan tersebut, pemerintah juga mempercepat proses pembebasan lahan di wilayah yang dilalui proyek tol, yakni Kota Kediri, Kabupaten Kediri, dan Kabupaten Tulungagung. Total kebutuhan lahan pada tahap awal proyek diperkirakan mencapai sekitar 107 hektare.
Setelah dilakukan penyesuaian desain trase dan ruang milik jalan, luas lahan yang harus dibebaskan meningkat menjadi sekitar 113 hektare.
Lahan tersebut tersebar di sekitar 580 bidang tanah milik masyarakat maupun instansi pemerintah.
Di wilayah Kabupaten Tulungagung, trase tol diperkirakan melintasi sepanjang sekitar 13 kilometer dan melewati 14 desa di empat kecamatan.
Total lahan yang terdampak di wilayah ini mencapai sekitar 1.072.428 meter persegi.
Selain itu, terdapat tambahan kebutuhan lahan sekitar 6,1 hektare akibat perubahan desain proyek. Penambahan tersebut mencakup sekitar 596 bidang tanah yang harus diselesaikan melalui musyawarah dengan pemilik lahan.
Pada tahap pengembangan lanjutan, pemerintah juga menyiapkan pembebasan lahan tambahan sekitar 41,9 hektare.
Dari jumlah tersebut, sekitar 17,4 hektare berada di wilayah Kota Kediri, sementara sisanya tersebar di Kabupaten Kediri dan sebagian wilayah Tulungagung.
Ketua Tim Pengadaan Tanah Jalan Tol Kediri–Tulungagung, Linanda Krisni Susanti, mengatakan proses pengadaan lahan dilakukan melalui pendekatan musyawarah dengan masyarakat.
“Masih ada sekitar 180 bidang tanah yang dalam proses pembebasan. Kami terus melakukan musyawarah secara bertahap dengan para pemilik lahan agar prosesnya berjalan baik,” ujarnya.
Dorong Pertumbuhan Kawasan Mataraman
Anggota Komisi D DPRD Jawa Timur, Heri Romadhon, menyambut positif pembangunan jalan tol tersebut. Menurutnya, proyek ini akan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di kawasan selatan Jawa Timur, Selasa (3/3/2026).
“Saya berharap dengan pembangunan jalan tol ini akan membawa keberkahan bagi semuanya,” kata Heri.
Sementara itu, Penjabat Wali Kota Kediri, Zanariah, menilai keberadaan jalan tol yang terintegrasi dengan Bandara Dhoho Kediri akan memperkuat posisi Kota Kediri sebagai pusat aktivitas ekonomi di kawasan Mataraman.
“Dengan begitu Kota Kediri bisa lebih dikenal karena potensi yang dimiliki. Tidak hanya dilewati, Kota Kediri akan jadi destinasi,” ujarnya.
Infrastruktur dan Efisiensi Logistik
Secara nasional, pembangunan jaringan jalan tol menjadi salah satu strategi utama pemerintah dalam meningkatkan daya saing ekonomi.
Data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menunjukkan panjang jalan tol di Indonesia kini telah mencapai lebih dari 2.800 kilometer.
Pembangunan jaringan tol tersebut terbukti mampu menurunkan biaya logistik nasional yang sebelumnya mencapai sekitar 23 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Pemerintah menargetkan biaya logistik dapat ditekan hingga mendekati 14 persen dari PDB.
Dengan hadirnya Tol Kediri–Tulungagung, kawasan selatan Jawa Timur yang selama ini relatif tertinggal diharapkan dapat terhubung lebih cepat dengan jaringan Tol Trans Jawa serta pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di provinsi tersebut.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, tol ini diyakini akan menjadi jalur strategis yang mempercepat distribusi barang, membuka peluang investasi baru, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah selatan Jawa Timur. (kim)




























