Desain trase atau garis sumbu jalur tol Kediri - Tulungagung.

bongkah.id – Di tengah rencana besar pembangunan Jalan Tol Kediri–Tulungagung, kota tua Kediri menyimpan kisah budaya yang cukup unik.

Selain dikenal sebagai pusat peradaban Kerajaan Kediri pada abad ke-12, daerah ini juga lekat dengan berbagai legenda dan mitos yang berkembang dalam tradisi masyarakat Jawa.

ads

Salah satu cerita yang paling sering diperbincangkan adalah mitos bahwa pejabat tinggi negara tidak berani datang ke Kediri karena diyakini dapat membawa nasib politik kurang baik.

Kepercayaan ini sering disebut sebagai “kutukan Kediri” atau “kutukan Jayabaya”, merujuk pada sosok legendaris Raja Jayabaya, penguasa Kerajaan Kediri yang dikenal dalam berbagai ramalan Jawa.

Dalam cerita rakyat yang berkembang, konon penguasa negara yang datang ke Kediri akan mengalami perubahan nasib politik setelah kunjungannya.

Mitos ini sempat menjadi perbincangan publik ketika Sekretaris Kabinet Pramono Anung pada 2020 berseloroh bahwa ia pernah menyarankan Presiden Joko Widodo agar tidak datang ke Kediri.

“Terus terang saya termasuk yang menyarankan Bapak Presiden tidak ke Kediri. Mau percaya atau tidak, setelah Gus Dur pulang dari Lirboyo, tak lama kemudian terjadi gonjang-ganjing politik di Jakarta,” kata Pramono saat itu.

Pernyataan tersebut memang disampaikan dalam suasana bercanda, namun kembali mengingatkan publik pada cerita lama yang berkembang di masyarakat.

Beberapa peristiwa politik sering dikaitkan dengan mitos tersebut, meskipun tidak memiliki hubungan sebab-akibat yang nyata.

Presiden pertama Indonesia Soekarno pernah berkunjung ke Kediri sebelum masa pemerintahannya berakhir pada 1965. Presiden B. J. Habibie juga pernah datang ke Kediri sebelum masa jabatannya berakhir pada 1999.

Sementara Presiden Abdurrahman Wahid pernah menghadiri acara di Pesantren Lirboyo Kediri sebelum menghadapi krisis politik yang berujung pada pemakzulannya pada 2001.

Namun tidak semua kisah memperkuat mitos tersebut. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tercatat pernah beberapa kali mengunjungi Kediri, termasuk saat meninjau dampak erupsi Gunung Kelud, dan tetap menyelesaikan masa jabatannya hingga akhir periode.

Para budayawan menilai kisah “kutukan Kediri” lebih merupakan bagian dari folklor Jawa yang berkembang dari legenda sejarah dan kepercayaan masyarakat.

Dalam budaya Jawa, mitos semacam ini sering berfungsi sebagai simbol moral yang mengingatkan bahwa seorang pemimpin harus menjalankan kekuasaan secara adil dan bijaksana.

Kini, ketika pemerintah menyiapkan pembangunan jalan tol yang akan menghubungkan Kediri dengan Tulungagung dan jaringan tol nasional, kota yang dahulu menjadi pusat kerajaan besar di Jawa itu justru berada di titik kebangkitan baru.

Keberadaan Bandara Dhoho Kediri, rencana pembangunan jalan tol, serta pengembangan kawasan ekonomi di wilayah Mataraman menandai transformasi Kediri dari kota sejarah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Timur bagian selatan.

Di tengah mitos lama yang masih sering diceritakan, pembangunan infrastruktur modern tampaknya sedang membuka babak baru bagi Kediri. Sebuah kota tua yang kini kembali bergerak menuju masa depan. (kim)

7

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini