bongkah.id – Di sebuah ruang yang sunyi namun sarat cerita, Galeri Q-One berdiri bukan sekadar sebagai tempat memajang lukisan. Di dalamnya, waktu seolah bergerak perlahan, menumpuk dalam bentuk artefak, buku, dan benda-benda yang menyimpan jejak perjalanan peradaban.
Galeri ini memang dikenal sebagai rumah bagi karya-karya seni lukis. Namun, melangkah lebih jauh ke dalam, pengunjung segera menyadari bahwa Q-One menyimpan lebih dari sekadar kanvas dan warna. Berbagai artefak lintas zaman turut mengisi ruang-ruang galeri.
Koleksi pernik dari era kolonial menghadirkan nuansa sejarah yang halus, seperti bisikan masa lalu yang masih bertahan. Di sudut lain, serpihan dinding candi dari masa kejayaan Majapahit tersimpan dengan tenang, seolah menjadi pengingat akan kejayaan arsitektur dan spiritualitas Nusantara.
Tak jauh dari sana, mahkota raja kuno, buku-buku seni lukis, desain interior, hingga antropologi budaya berjajar rapi di rak-rak kayu yang menguatkan atmosfer intelektual galeri.
Namun, di antara berbagai koleksi itu, ada satu yang paling mencuri perhatian: batu-batu gunung berukuran besar yang berasal dari sembilan gunung di Pulau Jawa. Sebagian di antaranya diambil dari Gunung Lawu, Gunung Wilis, Gunung Kelud, dan Gunung Merapi.
Bagi Nasrudin, batu-batu itu bukan sekadar benda alam yang keras dan bisu. Ia memandangnya sebagai simbol energi dan perjalanan spiritual—sesuatu yang menyimpan makna filosofis tentang hubungan manusia dengan alam dan semesta.
Ketertarikan Nasrudin pada seni sendiri bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Sejak muda, melukis telah menjadi bagian dari hidupnya. Hobi itu tumbuh perlahan, membentuk cara pandangnya terhadap dunia.
Sentuhan artistik tersebut tidak pernah benar-benar hilang, bahkan ketika kehidupannya berjalan di berbagai jalur lain.
Dari ketekunan itulah lahir karya-karya bertema Ferrari yang kemudian menjadi salah satu ikon karyanya. Dalam lukisan-lukisan tersebut, Nasrudin memadukan estetika seni dengan teknologi otomotif, menghadirkan interpretasi visual yang mempersatukan kecepatan, desain, dan imajinasi.
Namun bagi Nasrudin, Galeri Q-One lebih dari sekadar tempat memamerkan koleksi atau karya seni.
“Galeri Q-One bukan sekadar ruang koleksi. Ini rumah bagi gagasan, sejarah, dan perjalanan hidup. Setiap lukisan, setiap batu gunung, setiap serpihan candi menyimpan cerita tentang waktu, manusia, dan pertemuan budaya yang melintasi zaman,” ujarnya.
Di ruang inilah seni tidak hanya dipajang. Ia dirawat, dijaga, dan dihidupkan kembali sebagai ingatan peradaban—sebuah pengingat bahwa setiap benda, sekecil apa pun, dapat menyimpan kisah panjang tentang manusia dan zamannya. (anto).




























