bongkah.id — Di sudut Perumahan Bumi Citra Fajar (BCF), tepatnya di Cluster Monaco D-2138–2139, Sidoarjo, berdiri sebuah bangunan tiga lantai yang tampak sederhana dari luar.
Namun begitu pintunya terbuka, ruang di dalamnya seolah mengantar pengunjung menyeberangi waktu dan benua.
Tempat itu bernama Galeri Q-One. Huruf “Q” dimaknai sebagai Quality—sebuah penanda tentang mutu, ketekunan, dan perjalanan panjang yang membentuknya.
Suasana galeri menghadirkan keheningan yang kontemplatif.
Dinding-dindingnya dipenuhi lukisan para maestro seni rupa Indonesia. Di antaranya karya pelukis realisme romantik Basuki Abdullah, sapuan ekspresif Affandi, hingga karya maestro palet asal Banyuwangi, Mozes Misdy.

Lukisan-lukisan itu tidak sekadar dipajang. Mereka seolah berdialog satu sama lain—menyambungkan generasi, aliran, dan cara pandang dalam kanvas yang sama.
Di balik berdirinya galeri ini ada sosok Nasrudin Rr, pria 56 tahun asal Desa Sitiaji, Kecamatan Sukosewu, Bojonegoro, Jawa Timur. Perjalanan hidupnya tidak biasa.
Hampir satu dekade ia menetap di Italia dan terlibat dalam industri otomotif kelas dunia, khususnya bersama Ferrari—merek mobil legendaris dengan lambang kuda jingkrak.
Kisah itu bermula pada 1995. Saat itu Nasrudin memperoleh pengakuan dari asosiasi industri dan perdagangan di Italia atas kepiawaiannya mengolah kulit industri (leather).
Dalam sebuah kompetisi internasional, keahliannya diuji melalui presisi, rasa, dan estetika yang tinggi pada lembaran kulit.
Dari sana ia meraih predikat The Master of Genuine Leather of The World.
Tak lama setelah itu, ia dipercaya menjadi konsultan kulit untuk interior mobil Ferrari.
Di titik inilah dua dunia bertemu: teknologi otomotif yang presisi dan jiwa seni yang telah lama bersemayam dalam dirinya.
Pertemuan itu melahirkan karya-karya yang tak lazim. Nasrudin menciptakan lukisan monumental dengan tekstur cat yang tebal dan berat yang nyaris tak terbayangkan bagi sebuah kanvas.
Salah satunya berjudul Q-One, dengan bobot mencapai 70 kilogram. Karya lainnya menggambarkan legenda Formula 1 asal Jerman, Michael Schumacher, duduk tegap di balik kemudi mobil Ferrari. Lukisan bertekstur tebal itu memiliki berat hingga 200 kilogram.
Kedua karya tersebut dikerjakan dengan teknik pisau palet, menghadirkan lapisan cat yang membentuk relief kasar dan kuat.
Di tangan Nasrudin, cat tidak lagi sekadar warna yang melekat di kanvas. Ia berubah menjadi materi yang memiliki berat, volume, bahkan kehadiran fisik yang nyaris menyerupai patung.
Galeri Q-One pun bukan hanya ruang pamer. Ia adalah persimpangan perjalanan—tempat di mana seni, industri, dan pengalaman lintas benua bertemu dalam satu kanvas kehidupan. (anto)




























