Seorang petugas polisi lalu lintas berjaga di persimpangan jalan yang ditutup karena penerapan lockdown di Shijiazhuang, provinsi Hebei, China Utara.

Bongkah.id – China mengisolasi 11 juta penduduk di kota utara Shijiazhuang, Provinsi Hebei. Lockdown ini diberlakukan menyusul munculnya 100 kasus COVID-19 baru di daerah itu.

Jumlah kasus tersebut merupakan angka tertinggi yang terjadi pada satu daerah di Negeri Tirai Bambu dalam kurun 5 bulan terakhir. Karena itu China segera mengambil tindakan tegas dengan memberlakukan lockdown.

Surat kabar China Daily melaporkan, pembatasan diberlakukan dengan ketat, polisi difoto dengan pakaian pelindung yang menjaga pintu masuk ke jalan tol. Tiga pejabat di distrik Gaocheng di Shijiazhuang telah dihukum karena “kelalaian”, menurut surat kabar milik pemerintah.

“Desa harus mengidentifikasi, melaporkan, mengisolasi dan menangani kasus sedini mungkin, untuk menghentikan penularan,” kata Wu Hao, seorang pejabat kesehatan nasional, seperti dikutip dari China Daily.

Baca: Covid-19 di Indonesia, Badai Yang Tak Pasti Berlalunya (Seri 1)

Selama penerapan lockdown, sekolah juga ditutup dan penduduk dilarang meninggalkan kota. Pemerintah setempat juga membuka lebih dari 5.000 tempat tes rapid dan swab.

Pengujian massal seperti ini mulai sering dilakukan pemerintah China sejak kasus COVID-19 baru merebak di negara tersebut. Di seluruh Provinsi Hebei, dilaporkan telah muncul 120 kasus baru pada Kamis (7/1/2021).

Lockdown pada Kamis terjadi hanya beberapa pekan sebelum Tahun Baru Imlek, saat orang-orang di China bepergian secara massal untuk menghabiskan liburan bersama keluarga mereka. Hanya penduduk di distrik Gaocheng, Shijiazhuang, yang dianggap sebagai pusat penyebaran, sekarang tidak diizinkan meninggalkan daerah setempat mereka.

Sementara penduduk lain dilarang meninggalkan kota. Dalam hal transportasi, perjalanan bus telah dihentikan dan banyak penerbangan telah dibatalkan.

“Lima rumah sakit di Shijiazhuang telah dibersihkan untuk pasien COVID-19, dengan 3 lainnya siaga.,” kata Wakil Wali Kota Meng Xianghong.

Ini bukan pertama kalinya China memberlakukan lockdown terhadap sebuah kota sebagai tanggapan terhadap sekelompok kasus virus corona sejak wabah pertama menyebar di Wuhan. Pada Oktober, 9 juta penduduk kota Qingdao di Cina diuji dalam lima hari setelah puluhan kasus dikonfirmasi. Kasus-kasus itu terkait dengan rumah sakit yang merawat pasien virus corona yang datang dari luar negeri.

Pada bulan yang sama, pihak berwenang di Kashgar, di Xinjiang, menguji sekitar 4,7 juta orang setelah wabah di sana. (bid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here