ILUSTRASI. Virus varian Delta yang berkembang di India sejak akhir 2020 silam, kini sudah masuk Indonesia. Tercatat sudah 160 kasus di sembilan provinsi. Virus varian baru ini lebih ganas. Kemampuannya menular lebih kuat. Cukup berpapasan dengan seseorang yang terinfeksi, maka virus tersebut sudah mampu menginfeksi pada manusia lainnya.

bongkah.id – Peningkatan angka kasus paparan Covid-19 setiap hari terus melonjak. Tidak hanya kasus yang diakibatkan paparan varian Wuhan. Varian yang pertamakali menginfeksi masyarakat Indonesia. Namun, juga mulai banyak ditemukannya varian baru, yang menginfeksi masyarakat Indonesia. Varian yang pada mulanya diyakini tak mungkin masuk Indonesia. Faktanya kini sudah berhasil menyusup dan menginfeksi masyarakat tingkat kabupaten/kota di Indonesia.

Berdasarkan situs litbang.kemkes.go.id, terdata ada tiga varian baru yang telah mengifeksi masyarakat Indonesia. Yakni varian B.1.617.2 yang populer disebut Varian Delta, varian B117 (Alpha), dan Varian B1351 (Beta). Varian terbanyak menginfeksi masyarakat Indonesia adalah varian Delta. Varian yang berkembang di India sejak akhir tahun 2020 silam. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat kasus positif varian Delta ini mencapai 160 kasus. Varian Alfa yang berkembang di Inggris mencatatkan 45 kasus, dan varian Beta yang berkembang di Afrika Selatan mencatatkan 6 kasus. Data kasus varian baru itu berdasar proses whole genome sequencing (WGS) per 20 Juni 2021.

ads

Varian Delta sebanyak 160 kasus itu tersebar di sembilan Provinsi. Yakni Provinsi Sumatera Selatan, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Gorontalo. Sementara urutan jumlah kasus dari provinsi tersebut adalah Provinsi Jawa Tengah 80 Kasus; DKI Jakarta 57 kasus; Jawa Timur 10 Kasus; Sumatera Selatan 3 kasus; Kalimantan Tengah 3 kasus; Kalimantan Timur 3 kasus; Banten 2 kasus; Jawa Barat 1 kasus; dan Gorontalo 1 kasus.

Provinsi Jawa Tengah terpastikan terbanyak terpapar varian Delta. Yang ditemukan sebanyak 80 kasus. Jumlah tersebut peningkatan dari sebelumnya sebanyak 75 kasus pada 15 Juni lalu. Daerah yang terbanyak kasusnya adalah Kudus.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, setidaknya sekitar 62 warga Kudus positif terpapar Covid-19 varian Delta. Ganjar kemudian meminta warga Jateng lebih waspada terhadap varian Covid-19 yang berasal dari India tersebut. Karena Kemenkes mengumumkan lebih ganas dan lebih cepat penyebarannya dibanding varian Wuhan, yang pertamakali menginfeksi Indonesia sejak Maret 2020 silam.

“Varian yang konon dari India ini sudah menjangkiti 62 saudara kita di Kudus. Jelas kita patut waspada. Karena varian delta telah menimbulkan korban jiwa yang sangat besar di India,” katanya.

DKI Jakarta Juga tercatat mengalami peningkatan kasus varian Delta. Pada 15 Juni, kasus varian Delta di DKI Jakarta tercatat 9 kasus. Namun, mengalami lonjakan signifikan pada 20 Juni. Kemenkes mencatat ada 57 kasus varian Delta di DKI Jakarta.

Per 20 Juni Kemenkes juga mencatat ada tiga kasus varian Delta di Jawa Timur. Namun, berdasarkan data terbaru dari Satgas Penanganan Covid-19 Jatim menyebut total varian Delta yang ditemukan sebanyak 19 kasus. Dari 19 kasus tersebut, 11 kasus baru diumumkan pada 21 Juni 2021.

Ketua Rumpun Kuratif Satgas Penanganan Covid-19 Jatim, Joni Wahyuhadi mengatakan kasus mutasi baru itu terdeteksi dari proses WGS sampel warga yang terjaring penyekatan di Jembatan Suramadu dan pasien asal Bangkalan.

“Hasil sequencing yang di kami, khususnya kawan-kawan dari Bangkalan itu sekarang ada 19 (pasien),” kata Ketua Rumpun Kuratif Satgas Penanganan COVID-19 Jatim, Joni Wahyuhadi, Senin (21/6).

Di Banten, Kemenkes menemukan kasus varian Delta. Kepala Dinas Kesehatan Banten Ati Pramudji Astuti mengatakan, varian tersebut ditemukan pada warga Perumahan Pondok Jagung, Kelurahan Pondok Jagung, Kecamatan Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan.

“Ada pasien yang positif varian baru. Yang varian B117 atau Delta sepulang dari Arab Saudi. Kemudian yang B1617 penularan dari anaknya yang tinggal di Jakarta,” katanya.

Terakhir, Kemenkes mencatat ada 1 kasus varian Delta di Jawa Barat. Namun, belakangan varian tersebut kembali ditemukan di Karawang. Tim riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan 72 persen atau 44 dari total 61 sampel klinis pasien Covid-19 telah terinfeksi varian Delta.

Virus corona varian Delta atau SARS-CoV.2 B.1.617.2 merupakan mutasi dari Covid-19 yang selama ini mewabah (SARS-CoV.2 B.1.617). Virus ini pertama kali terdeteksi di India pada akhir 2020. Resmi dinamakan varian Delta oleh World Health Organization (WHO) pada 31 Mei 2021, serta dikategorikan sebagai Variant of Concern (VOC).

Selain varian B.1.617.2 Delta, Kemenkes juga mencatat persebaran varian lain yaitu varian Alpha (B.1.1.7) yang juga disebut Varian Inggris; dan Beta (B.1.351) yang juga disebut Varian Afrika Selatan.

Data persebaran mutasi virus Covid-19 varian Alpha di Indonesia yang dimiliki Kemenkes, adalah Sumatera Utara (2 kasus), Riau (1), Kepri (1), Sumatera Selatan (1), DKI Jakarta (33), Jawa Barat (2), Jawa Timur (2), Jawa Tengah (1), dan Kalimantan Selatan (1). Untuk sebaran kasus mutasi varian Beta di antaranya DKI Jakarta (4 kasus), Jawa Timur (1), dan Bali (1).

Sementara varian baru virus Covid-19 menurut WHO terdiri dari Varian Alpha (B.1.1.7) ditemukan merebak di Inggris, Beta (B.1.351) ditemukan merebak di Afsel, Gamma (P.1) ditemukan merebak di Brasil, Delta (B.1,617.2) ditemukan merebak di India, Kappa (B.1.617.1) ditemukan merebak di India, Epsilon (B.1.427 dan B.1.429) ditemukan merebak di AS, Zeta (P.2) ditemukan merebak diBrasil, Eta(B.1.525) ditemukan merebak di Amerika Latin, Theta (B.1.617.3) ditemukan merebak di Filipina, Lota (B.1.526) ditemukan merebak di AS. (bid-03)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini